08 February 2014

Janji(an)

Kepada Yang Terhormat Calon Suami,

Hai, namaku Evaliana. Kamu cukup memanggilku dengan sebutan Eva. Tanpa embel-embel sayang, yayang, yank, hubby, hunny, baby, beb, atau lainnya yang terlintas di kepalamu saat ini. Aku kurang begitu suka tetapi tidak juga benci saat kamu tanpa sengaja mungkin (ingin) memanggilku dengan Eva sayang. Itu kan cuma sekedar kata-kata. Maksudku adalah jika kamu memang benar sayang, buktikan rasa sayangmu itu dengan tindakan. Ini hubungan personal antara kamu dan aku bukan partai yang menggemborkan calon wakilnya dengan segudang janji-janji yang kalau teringat akan dipenuhi (kebanyakan sih pada ngga ingat).

Aku sudah muak dengan segala janji yang terlupakan. Untuk apa menjanjikan sesuatu yang bahkan kamu tidak bisa ingat kalau kamu pernah berjanji. Mengingat janji saja sulit apalagi untuk membuktikannya. Maka dari itu aku tidak mau menjanjikanmu apa-apa, seperti menjadi pendamping yang baik dan setia. Menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak. Membangunkanmu dengan aroma kopi hitam pekat. Memasak makanan kesukaanmu.

Oleh sebab aku tidak (atau belum) tahu siapa kamu. Begitu pun dirimu yang tidak (atau belum) mengenal aku. Apakah kamu juga baik dan setia? Menyukai anak atau anak-anak, kopi hitam, dan yang pasti aku tidak (atau belum) bisa memasak. Buat apa menjanjikan hal-hal –seperti beberapa yang sudah kusebutkan- untuk seseorang yang belum kuketahui keberadaannya? Belum saling mengenal satu sama lain.

Begini, Sabtu depan, aku ada rencana ngopi-ngopi cantik dengan beberapa sahabatku di sebuah cafe kecil di sudut kota. Aku akan memakai baju hitam sebab sebagian besar bajuku warnanya hitam padahal aku suka warna hijau.. Kalau kamu tidak ada acara Sabtu depan, bagaimana kalau kamu temui aku di sana.

Katanya, Tuhan akan mempertemukan kita pada waktunya. Siapa tahu Sabtu depan adalah waktunya kita dipertemukan. Aku akan ada di sana jam empat sore.

Dalam Penantian,

Calon Istri



Gambar dari Google

2 comments: