24 December 2013

Malam Natal 2013

Dua tahun terakhir ini saya berada di rumah pada Malam Natal. Tidak ada perayaan khusus untuk merayakannya selain tepat tengah malam nanti kami sekeluarga duduk bersama, berpegangan tangan, dan menaikkan Doa. Mengucap syukur untuk satu tahun yang telah terlewati. 

Malam Natal kali ini tidak ada yang istimewa bagi saya, semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mama dan Papa menonton Tivi di bawah, Oki dan saya sibuk dengan laptopnya sendiri. Akan tetapi itu sudah membuat Mama dan Papa bahagia karena kami semua sekeluarga akhirnya dapat berkumpul di rumah.

Natal adalah harapan akan keselamatan dan bukti kasih Tuhan kepada umatNya. Tidak perlu pesta hingar bingar untuk merayakannya. Cukup dengan kesederhaan, kerendahan hati, suka cita, dan damai.

Selamat Hari Natal 2013.


Foto dari google

***



22 December 2013

Ada Namaku Disebut

Kemarin malam, Adik saya, Oki pulang teramat larut. Karena Miki, anjing saya teramat girang menyambut kedatangan Oki maka Mama dan Papa pun terbangun oleh gonggongannya. Entah sebab alasan mimpi indah mereka terganggu atau memang sudah waktunya untuk menegur kelakuan Oki. Pasalnya, semenjak menginjak bangku perkuliahan kesibukan Oki melebihi orang yang bekerja. Pergi pagi dan pulang di saat penghuni rumah sudah terlelap dengan dalih sibuk ngerjain tugas. Bener kah?

Prosesi tegur menegur menjadi alot karena (salahnya) Oki menjawab terus,

"Sibuk apa sih kamu? Kuliah ngalahin orang kerja! Bener ngerjain tugas?" tegur Mama.
"Ah, alasan. Paling juga nongkrong!" samber Papa.
"Bener ngerjain tugas kok! Ya udah kalo ngga percaya mah!" balas Oki agak nyolot.
"Dikasih tahu orang tua ngelawan!" Mama mulai emosi.
"Enggak ngelawan kok!" jawab Oki agak ketus.
"Kamu pikir Papa bodoh! Mana ada kuliah sampai tengah malam! Alasan mejeng doang!" Papa jadi emosi.
"Malu tahu sama tetangga pulang tengah malam!" sahut Mama.
"Mending kalo ngehasilin duit!" Papa memanas.
"Ngga ingat dulu kamu, Mama marahin Kakak pulang malam terus! Sekarang kamu malah lebih parah."

Kakak? Kenapa saya jadi disebut-sebut?

"Papa udah tua, pengen pensiun. Cape kerja terus, kamu tahu ngga? Mikir, Ki! Dewasa sedikit bisa ngga? Kalau Papa pensiun siapa yang bayar kuliah kamu! Papa kuliahin kamu biar kamu bisa diandalkan. Kalau gini terus mau jadi apa kamu?!?"

Deg!
Tiba-tiba saya merasa tersindir oleh perkataan Papa. Selama ini saya berpikir sudah cukup mapan dengan membiayai sendiri keperluan saya, dengan tidak meminta lagi kepada mereka. Namun, nyatanya saya hanyalah semacam parasit lajang, mengutip dari Buku Ayu Utami. Masih tinggal bersama orang tua yang artinya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk tempat tinggal termasuk air-listrik-cucian, makan, bahkan perlengkapan mandi di usia yang tidak lagi remaja. 

Pembicaraan semakin memanas tapi terdengar sayup-sayup karena saya tenggelam bersama pikiran saya. Hingga akhirnya dikejutkan gebrakan meja. Amarah memuncak! 

Dan pagi tadi saya dibangunkan oleh suara gaduh yang entah sebabnya apa mungkin sisa emosi semalam namun efeknya jelas sangat terasa,

"Baru bangun? Engga bisa bangun lebih pagi apa? Udah tahu pagi-pagi riweuh, mau ke Gereja bukannya bantu-bantu Mama dulu ngurus rumah!"
"Ya kenapa ngga dibangunin pagi-pagi?" balas saya asal masih ngumpulin nyawa udah disembur omelan.
"Inisiatiflah! Bangun siang, rezekinya dipatok ayam!"
"..."

Di mobil menuju ke Gereja, kami, Mama-Papa-Saya, sepanjang perjalanan diam dan disibukkan dengan pikiran masing-masing. Bukankah seharusnya memasuki Rumah Tuhan disertai rasa damai?

Begitu memulai beribadah, perlahan emosi saya mereda, dan saya yakin emosi mereka pun sirna. Saat sedang Doa Syafaat (menaikkan doa untuk orang lain; bangsa dan negara, gereja, anggota jemaat yang lain, dll) kertas buletin gereja saya terjatuh tepat di kaki Mama. Ketika hendak mengambil kertas, samar-samar saya mendengar nama saya disebut, Berkati Eva dalam pekerjaannya supaya namaMu dimuliakan, dekatkan Eva dengan jodoh yang seiman dan sepadan sesuai dengan kehendakMu, Tuhan....

Deg!
Rasanya seperti ah rasanya seperti ... yang pasti mata saya tiba-tiba kelilipan.
Selesai ibadah, saya langsung memeluk Mama mengucapkan Selamat Hari Ibu, Mama membalas pelukan dengan hangat, membelai rambut saya sambil berkata, "Mama pengen rainbow cake." Seakan tidak ada kejadian apa-apa pagi tadi. Ah, that is the reason why I love her so much, superb Mama.

Dan, iya hari ini berketepatan dengan Hari Ibu yang juga Hari Ulang Tahun Embah ke delapan puluh tahun, saya hanya mampu mengucapkan Selamat Ulang Tahun Embah, semoga selalu diberikan kesehatan, dan Selamat Hari Ibu untuk semua kaum Ibu, teruntuk Embah, khususnya Mama. Wanita terhebat!


Happy Birthday Embah and Happy Mother's Day, Mam. :D

***

19 December 2013

Gila

Siang yang terik agaknya membuat emosi orang-orang mulai memanas. Dapat kulihat asap membumbung keluar dari tiap orang membentuk kata cacian dan makian yang entah ditujukan kepada siapa. Semua orang menggila.

Sepasang kekasih saling meneriaki hingga muka keduanya merah padam. Si lelaki mulai menunjuk-nunjuk tepat di hidung si perempuan hingga matanya berkaca-kaca. Pecahan kaca yang keluar dari mata perlahan menggores pipi si perempuan. Darah mengucur mengenai telunjuk si lelaki yang kemudian dijilatnya. Aku panik! Aku mual! Orang-orang melihat dan menikmati romantisme sepasang kekasih seakan mereka sedang saling menyuapi ice cream strawberry sundae. Gila! Semua orang jadi gila!

Seorang gadis belia tiba-tiba saja menyanyi sambil menari, mengajak orang-orang di sekitarnya untuk ikut berdansa bersama. Namun, orang-orang terlalu egois, menutup diri, dan memandang gadis ceria itu penuh kecurigaan. Hal itu yang membuat si gadis tersinggung dan mulai memukul-mukul orang di sekitarnya dengan sapu. Aku panik! Aku muak! Apa sih yang ada di dalam pikiran orang-orang ini? Apa salahnya dengan si gadis, lagi-lagi mereka hanya melirik seakan si gadis hanyalah tukang sapu jalanan. Gila! Semua orang menggila!

Seorang ibu berulang kali menampar anaknya di depan publik dan tidak ada seorang pun yang peduli terhadap kejadian tersebut. Mereka, orang-orang yang telah dibutakan nuraninya. Aku muak! Aku murka! Kali ini aku tidak bisa tinggal diam dan membiarkan hal itu. Mereka sama sekali tidak peduli seakan si Ibu sedang mendandani si anak. Demi Tuhan di mana letak hati nurani orang-orang! Semua orang menggila!

Belum juga tanganku meraih si anak, ada sepasang tangan yang menyergap kedua tanganku. Apa-apaan ini!!! Bukan aku yang harusnya kalian tangkap! Tapi Ibu itu! Orang-orang itu! Bukan aku!!! Semua orang telah menggila!!! Bukan aku yang seharusnya kalian tangkap!


Foto dari google

18 December 2013

Rinjani

Apakah kalian setuju dengan pendapat love is blind? Hahahahaaa, aku rasa hanya anak-anak remaja saja yang sedang kasmaran ala cinta monyet yang mengatakan demikian. Bukan, bukan sinis tapi realis, Nona!
Cinta itu tidak buta! Cinta itu bodoh! Menjadi bodoh atau membodohi diri sendiri. Yah semacam itulah.

Mari aku perkenalkan dengan seorang wanita yang nampaknya berhasil membuat kepintaranku memudar di hadapannya, aku tekankan sekali lagi hanya di hadapannya saja. Rinjani namanya, tinggi semampai, rambut hitam panjang selalu di kuncir kuda. Entahlah mengapa di sebut kuncir kuda, mungkin karena ada kesamaan dengan ekor kuda? Perangainya seperti ombak, ketika surut riak-riak kecilnya sungguh menggemaskan. Menjengkelkan dibuatnya ketika emosinya sedang pasang.

Apa? Jangan berasumsi terlalu jauh. Aku hanya menyukai sosoknya yang supel, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan dibuat nyaman olehnya. Tidak. Tidak! Oh tentu saja aku tidak mencintainya, atau setidaknya belum. Ah, jangan sampai! Masalahnya adalah yah dia mampu membuat aku merasa bodoh dan cerdik menutupi kesalahannya seakan itu bukan kesalahannya.

"Halo, aku udah di dekat terminal nih. Kamu jadi jemput aku?" tanyanya di telepon.
"Udah di terminal kok." balasku sambil menantikan kedatangan bis yang ditumpanginya.
"Ini udah di terminal, kamu di mana?" tanyanya agak panik.
"Sebelah kanan." ujarku sambil melambai ke arah bis yang baru datang.
"Mannaaaa? Aku ngga liat??????" suaranya panik.
"Aku lihat kamu kok, duduk di bangku kedua kan? Aku di kanan!" menghela napas.
"Iya! MANA!?!?" semakin panik dan kesal.
"Jan, Rinjani kanan oi kanan!!! Kamu liat ke kiri itu!" ucapku kesal menahan tawa.
"Ngomong dong dari tadi!!!!" 
"Aku kan ... kan tadi ...."
"BERISIK!"

*

"Jadi, gimana di perjalanan? Cape?" tanyaku mengalihkan emosinya.
"Cape lah, duduk terus, pantatnya kebakar!" serunya sambil lalu.
"Kebakar? Kebakar gimana?" ujarku penuh tanda tanya.
"Panas maksudnya!" ralatnya masih sambil lalu.
"Oh, panas kirain kebakar. Panas sama kebakar kan beda."
"Tapi kamu ngerti kan maksud aku????" tegasnya.
"Iya, maaf yah."
"Hemphh."
"...."

*

"Jan ...."
"Yah?"
"Boleh tanya?"
"Ya bolehlah, tanya apa sih?"
"Tapi kamu jawabnya serius."
"Kalau dua rius boleh ngga?"
"Ih, serius ah!"
"Kenapa sih? Mau tanya apa sih? Kok jadi kikuk gitu? Emangnya mau tanya apa? Pasti kamu mau tanya sesuatu yang bikin aku marah, aku kesel, mau ngomongin masa lalu? Kerjaan? Apa sih cepetan ngomong! Jangan bertele-tele deh. Ayo, cepetan tanya!"
"Ngga jadi!"
"Kenapa? Takut aku tersinggung yah? Ngga apa-apa kok, sok tanya aja. Selama aku bisa jawab aku bakalan jawab kok, beneran. Kamu mau tanya apa sih tumben pake minta ijin dulu. Ayo tanya akoh tanya akoh dong!"
"Kadang aku bingung ngehadapin emosi kamu yang naik turun secepat itu. Kaya naik roller coaster tahu."
"Wah, roller coaster. Terakhir naik itu waktu es em pe deh."
"Oh yah?"
"Iya, perpisahan es em pe ke Dufan seru banget lah ada yang sampai nangis, muntah-muntah. Ahahahaaa. Kamu kapan ke Dufan?"
"Ngga ingat, udah lama banget."
"Oh, ya udahlah yah. Ngantuk nih. Tidur aja yuk!"
"Heemm, iya. Selamat tidur."

Rasanya sudah cukup sampai di sini perkenalan kalian dengan Rinjani. Masih banyak yang ingin kuceritakan namun malam datang lebih cepat, lagipula ada beberapa kisah yang ingin kusimpan hanya untukku sendiri. Well, love is not blind.  Seperti dalam lirik lagunya Robbie Williams, something stupid like I love you.


***