26 December 2012

Bayangan Semu

Aku tahu kamu berada di sampingku.
Aku tahu kamu pasti akan menemani aku.

Aku tahu kita berada di tempat yang sama,
Karena aku bisa mendengar suaramu samar.
Karena aku dapat merasakan kehadiranmu.
Tapi yang kulihat hanyalah bayangan semu.

Bayangan yang terus kian melekat dalam ragaku.
Mengisi setiap celah kosong dalam sukmaku.
Memompa degup jantung hatiku,
Hingga mempermainkan perasaanku,
Serta membuat tak menentu emosiku.

Kamu tahu, yang kuinginkan adalah hadirnya Sang Matahari,
Tepat berada di atas kepalaku.
Hanya dengan sinarnya, bayangan akan terkikis.
Tapi, tak mungkin kuberjalan seorang diri
Tanpa adanya sosok bayangan walaupun semu.


***



Malam Natal Sepi yang Menyenangkan

Senin, 24 Desember kemarin sengaja saya luangkan waktu seharian bersama mama dan adik. Memang, agak terlambat rasanya untuk belanja persiapan Natalan di rumah, seperti kue-kue kering. Urusan pekerjaan kebetulan baru selesai Hari Minggu, maka Senin kemarin adalah waktu yang pas.

Sama halnya dengan Lebaran, ada opor ayam dengan ketupat, kue-kue kering, dan tentu saja baju Lebaran. Begitu pun saat Natal. Walaupun tidak harus pakai baju baru setidaknya saat ada tamu yang datang ada makanan yang siap disuguhkan.

Dari pagi Mama sudah berangkat ke pasar mencari daging babi. Ya, babi kecap dan sayur Bakut adalah menu special Natal. Rasanya tidak lengkap Natalan tanpa ada dua menu tadi. Sayang, karena kesiangan sampai di pasar persediaan daging babi sudah habis. Yang tersisa tulang-tulang iga untuk Bakut. Adapun menunggu hingga siangan tapi kami tak mungkin menunggu lebih lama lagi. Jadi, menu babi kecap terpaksa harus absen tahun ini.

Tidak adanya babi kecap dalam menu Natal saya jadikan suatu pertanda, karena biasanya Mama selalu menyisakan semangkuk besar untuk seseorang yang begitu menyukai masakan Mama, sebut saja si mantan.

Belanja di pusat pertokoan dan dihadapkan pada tulisan besar-besar "SALE 50%" memang membuat mata jadi gelap. Kalau saja tidak pandai memilih-milih prioritas sudah tandas semua tabungan. Nyatanya memang demikian ..... Hitung-hitung menghabiskan waktu.

Sampai di rumah menjelang malam ... 

Biasanya, hampir sepuluh tahun terakhir saya tidak pernah menghabiskan malam natal di rumah. Tapi, di  rumah seseorang yah sebut saja si mantan. Malam natal di rumahnya selalu dipenuhi oleh kehangatan keluarga besar dan banyak makanan, pastinya. Mulai dari Sup Kacang Merah Brenebon, Ayam Rica, Babi Rica, Mie Goreng, dan masih banyak lagi. Berkumpul bersama keluarganya, ngobrol tentang apa saja, hingga menjelang 00.00 lalu kami semua berdoa. Setelahnya bernyanyi sambil saling mengucapkan Selamat Natal. 

Di rumah memang tidak ada acara khusus Malam Natal. Mama dan Papa yang nonton tivi di bawah. Adik saya juga nonton tivi di atas. Dan saya dengan laptop serta kopi yang setia menemani sama seperti malam-malam lainnya. Tidak ada yang special.

Malam Natal kali ini memang sepi dibandingkan dengan Malam Natal sebelumnya. Merindukan kehangatan itu, hingar bingar di dalamnya, dan tentu saja makanan yang selalu dinanti. Ya, saya mengakuinya tanpa ada maksud lain yang terselubung. Wajar kan jika saya merasakan hal itu? Hubungan dekat dengan keluarganya memang tidak bisa ditepiskan begitu saja.

Biarlah saya menghabiskan malam natal sepi hanya dengan bergelas-gelas kopi dan berbatang-batang rokok tapi rasanya jauh lebih menyenangkan.

Selamat Natal untuk kamu semua yang merayakan. Semoga berkat dan damai Natal menyertai hati kita masing-masing.

***





24 December 2012

Sepasang Kekasih yang Kesepian


Pernah mengalami di suatu kondisi hasil kerjamu hanya dibayar dengan segelas kopi dan sebungkus rokok? Bukan dengan uang tunai! Saya pernah. Alasannya simple saja bukan karena tidak butuh uang tapi saat itu rasanya kopi lebih dibutuhkan untuk meningkatkan stamina dan konsentrasi. Sama halnya dengan rokok, semacam peransang kinerja otak agar lebih kreatif. Bisa dibilang suplemen dan mood boosters untuk menjalani hari yang padat. Ini pendapat menurut saya saja yah tanpa bermaksud apalagi menghimbau agar mengkonsumsi kopi dan rokok selagi kerja. Tiap orang punya caranya sendiri agar lebih bersemangat dalam bekerja, itu sudah pasti.

Nah, yang ingin saya ceritakan di sini bukan tentang soal kerjaan, bayaran, atau mood boosters tiap orang yang berbeda-beda. Tapi, lebih kepada intisari dari kopi dan rokok, khususnya dalam keseharian saya. Jadi, sebelum membaca lebih lanjut lebih baik tepiskan dahulu segala pendapat negatif dan bahaya dari kopi dan rokok atau lebih baik tidak usah dilanjutkan. Setuju?

Kita mulai dari sini ...
Kopi selalu dipaksakan berjodoh dengan rokok. Betul kah dipaksakan? Atau karena memang mereka sudah berjodoh?

Pada kenyataannya memang tidak semua orang itu peminum kopi. Dan tidak semua orang adalah perokok. Tapi keberadaan kopi dan rokok memang tidak dapat dipisahkan begitu saja. Coba kita sama-sama selisik lebih dalam. Hampir sebagian besar di cafe atau coffee shop terdapat ruangan smoking area, walaupun ditempatkan terpisah, di luar dengan kapasitas yang lebih kecil dan kurang nyaman tanpa sofa. Tidak jarang juga di beberapa cafe atau coffee shop lebih mengedepankan kenyamanan ruangan smoking area. Masih mau bukti? 

Coba melipir di jalanan, ada berapa banyak kios, warung kecil di pinggir jalan yang menyediakan air panas untuk seduh kopi sachet lengkap dengan bangku ala kadarnya. Rasanya kurang pas kalau sudah ada kopi ngga ngerokok, atau sudah ngerokok asem ngga ada kopi. Ini berdasarkan dari hasil survey pada segelintir orang secara sembarang. 

Intinya adalah kopi sangat erat hubungannya dengan rokok, begitupun sebaliknya. Mereka saling mengisi satu sama lain.
Mereka adalah sepasang kekasih yang kesepian. Begitu seorang teman dekat menamainya.

*

Bagaimana mungkin menamai mereka sepasang tapi ko kesepian? Saya tanyakan hal itu padanya. 

Duduknya langsung tegap, condong ke depan, mengambil cangkir kopi kemudian menghirup aromanya amat perlahan. Cangkir kopinya memang masih panas, dari seberang meja saya masih melihat kepulan asapnya. Setelah menghirupnya, dia menyeruput pelan-pelan seakan bunyinya akan membangunkan bayi yang baru terlelap setelah menangis seharian.

Saya pikir setelah dia meminum kopinya, dia akan langsung menjawab.

Kemudian dia mengambil sebatang rokok, mengetuk-ngetuk ujung filter ke atas meja “Supaya padat”, jelasnya karena saya melihatnya dengan ekspresi penuh tanda tanya. Mengambil korek membakar rokoknya. Ada jeda waktu yang panjang seakan terhisap bersamaan dengan saat dia mengisap rokoknya dalam-dalam. Bara api tersulut dalam keheningan. Lalu menghembuskan asapnya seolah beban hidupnya ikut terangkat seiring dengan asap yang terbang bersama angin sore hari ini.

Saya masih duduk menatapnya, menunggu jawaban.

“Sepasang kekasih yang kesepian. Kamu mau tahu mengapa saya menyebut mereka demikian?”
“Iya, maka dari itu saya ngajak kamu ngopi hari ini.”
“Kalau saya ternyata tiba-tiba tidak bisa datang, apa yang kamu lakukan?”
“Kesal yang pasti!”
“Tapi kamu sudah ada di tempat ini. Pulang? Pergi ke tempat lain? Atau ke mana?”
“Karena sudah ada di sini yah pesan minum.”
“Minum apa?”
“Kopi.”
“Sendirian?”
“Yah, karena kamu tidak datang terpaksa menikmatinya sendirian.”
“Tepat!”
“Maksudnya?”
“Kamu bisa tetap menikmati kopi dan rokok dalam kesendirian.”
“Ya, tentu saja. Lantas apa hubungannya dengan pertanyaan saya tadi di awal tentang sepasang kekasih yang kesepian?”
“Begini ...”

Lagi sebelum menjelaskan dia memulai ritual meminum kopinya dan membakar rokoknya sebelum menjelaskan. Saya harus bersabar menunggunya.

“Lihat, tangan kanan saya memegang rokok sedangkan tangan kiri menggengam cangkir kopi. Apa yang kamu tangkap?”

“Kamu sedang minum kopi sambil ngerokok???”

“Buka sedikit pikiranmu. Semua yang ada di kehidupan ini ada maknanya. Segala perbuatan yang kamu lakukan harus ada tujuannya. Kita punya dua tangan sudah pasti ada tujuannya. Tangan kanan dan tangan kiri punya fungsinya masing-masing. Tidak adil jika saya memegang rokok pakai tangan kanan dan mengambil cangkir memakai tangan yang sama. Walaupun bisa saja saya berbuat seperti itu. Intinya adalah keseimbangan.”

“Iyaa ...” dengan raut muka bertanya karena sesungguhnya saya memang tidak mengerti arah pembicaraannya.

“Boleh saya bertanya?”
“Silakan, tapi pertanyaan saya belum dijawab loh.”
“Dalam sehari berapa gelas kopi yang kamu minum?”
“Dua hingga tiga gelas. Tergantung banyaknya pekerjaan.”
“Berapa bungkus rokok yang kamu habiskan dalam sehari?”
“Rata-rata satu bungkus. Tergantung tingkat stress.”

“Tergantung ....” jawabnya sambil menghembuskan asap, menjentikkan abunya pada asbak lalu melanjutkan.
“Artinya ketidakpastian. Dan yang pasti hanya ada kopi dan rokok yang setia menemani dalam keadaan apa pun.”

“Iyaa, tapi di mana korelasinya sehingga menjadi sepasang kekasih yang kesepian.” sebenarnya apa yang ingin dia ungkapkan. Saya yang terlalu bodoh tidak dapat menangkap makna dibalik kata-katanya atau dia hanya bermain-main dengan kata saja.

“Kopi paling pas menurut saya diminum selagi panas. Rokok hanya kumpulan tembakau dalam kertas papir tanpa bara api. keduanya sama-sama membutuhkan energi panas walaupun medianya berbeda. Sudah mulai mengerti?”

“Samar-samar ....”

“Kopi hitam yang saya minum akan menyisakan ampas. Rokok yang kita hisap akan meninggalkan sisa-sisa abu dan puntung dalam asbak. Keduanya meninggalkan jejak sebelum tandas.”

“Tapi kopi yang saya minum tak berampas.”
“Saya lebih beruntung kalau begitu.”
“Kenapa beruntung?”
“Setidaknya setelah tegukan terakhir, ampas ini masih setia menemani saya. Coba kopimu? Setelah tegukan terakhir apa yang tersisa?”
“Tidak ada ....”
“Masih ada rokok yang bisa menemanimu untuk dibakar lagi.”
“Lalu?”

“Kopi hitam yang saya minum dan kamu yang pesan kopi susu berasal dari sumber yang sama, hanya cara penyajiannya saja yang berbeda. Ada yang suka pahit tanpa gula, ada yang menambahkan gula, susu, creamer, buah-buahan, ice cream, bahkan sedikit alkohol. Masalah selera saja. Sama halnya dengan manusia yang berasal dari sumber yang sama, Yang Maha Kuasa. Manusia satu dengan manusia lainnya diracik sedemikian rupa hingga terlihat berbeda satu sama lain. Masalah sudut pandang saja. Sayangnya, mereka lebih menitikberatkan pada perbedaan. Coba lihat kopi kita akur-akur saja di atas meja.

“Ehmpp iyaa ....” pembicaraan ini rasanya semakin melantur.
“Sedangkan rokok bagi saya adalah seni.”
“Seni?”

“Merokok adalah seni.” Dia mengambil satu batang dari bungkus rokoknya, mengetuk-ngetuknya di atas meja. “Yang saya lakukan adalah memadatkan tembakau di dalamnya, membakarnya, mengisapnya, lihat bara api menyatukan tembakau di dalam kertas merangsak hingga ke ujung filter menghasilkan asap masuk terhisap ke dalam bibir. Dan di olah secara naluriah oleh perokok. Semua itu proses dan hasil akhirnya adalah asap tembakau yang terhembus. Pembakaran sempurna.”

“Kamu terlalu berfilosofi.”

“Kopi dan rokok bagi saya adalah kehidupan. Kopi hangat dan bungkus rokok yang ada di meja kita merupakan hasil dari proses yang panjang. Begitu kamu menghirup aroma kopinya dan membakar batang rokokmu itulah awal kehidupan di mulai. Kopi hangat yang sudah tersaji jika tidak kau minum, semut dan serangga kecil biadab itu akan menghabisinya tanpa ampun. Begitu pula rokok yang sudah kau bakar lalu didiamkan di asbak akan habis dengan sendirinya oleh angin. Dan hidupmu akan berlalu begitu saja termakan usia tanpa pernah kau mengecap intisari dari kehidupan di dalamnya. Sia-sia.”

“Ya ya ya, masuk akal.”

“Mereka, kopi dan rokok, banyak berperan dalam hidup saya. Banyak karya saya terlahir bersama mereka. Walaupun mereka bisa berdiri sendiri dengan peranan dan fungsinya serta resiko kesehatan yang ditimbulkan tapi disadari atau tidak, mereka saling melengkapi, saling mengisi satu sama lain, saling dibutuhkan. Mereka lebih dari sahabat yang akan selalu ada di saat-saat kau terpuruk atau hanya ingin berteman dengan sepi. Mereka ....”

“Sepasang kekasih yang kesepian.”

***


17 December 2012

Tertanda Untuk Kamu


Ketika malam sepi menjelang.
Aku ingin kau dekap dalam pelukan, sayang.
Nyatanya jarak terlalu membentang.
Genggaman tanganmu selalu membuatku melayang.
Esensi tiap sentuhanmu masih membayang.
Nikmati malam sepi sendiri, hingga rindu menghilang.


Gambar dari sini

11 December 2012

Rinai Hujan dan Ibu


'“Nek, kenapa setiap kali hujan turun Ibu selalu duduk dekat jendela sambil tersenyum?”

“Ibumu sedang menyambut kedatangan Ayah.”

***

Ibu memang mencintai hujan melebihi apa pun di dunia ini sejak kecil, termasuk aku sebagai putrinya. Nenek bilang, Ibu paling suka hujan-hujanan. Jika rinai hujan sudah menyentuh  atap rumah, dia akan segera berlari keluar dan menarikan sebuah tarian, “Tarian Hujan”, Kata Ibu. 
Nenek sudah lelah dan menyerah untuk melarang Ibu agar tidak hujan-hujanan karena Ibu tidak pernah jatuh sakit setelah hujan-hujanan. Tidak seperti anak lainnya yang demam dan panas tinggi setelah bermain air.

Hujan turun tak henti-hentinya selama berhari-hari hingga air meluap dan banjir melanda. Ibu juga tidak pernah sekali pun absen menarikan tarian hujannya. Hujan kali ini berbeda, membuat Ibu sakit demam tinggi tidak turun-turun. Mungkin ini disebabkan tidak adanya persediaan air bersih, makanan yang layak, obat-obatan, dan baju hangat di tempat pengungsian darurat. Curah hujan yang tinggi membuat air terus meluap sehingga mereka semua terpaksa mengungsi ke tempat yang kering. Bantuan dan relawan datang tepat di saat beberapa orang sudah terkapar terserang demam, diare, dan gatal-gatal.

Saat itulah Ibu bertemu dengan Ayah, seorang pemuda kota yang sedang co-ass dan menjadi relawan. Ayah merawat Ibu yang sudah tergolek lemah tak berdaya, kehilangan banyak cairan dan gizi serta demam yang tak kunjung turun. Tak lama setelah keadaan normal kembali, Ibu dan Ayah pacaran. Setahun kemudian mereka menikah dan lahirlah aku. Ibu menamaiku aku, Rinai.

Saat itu usiaku masih sangat kecil, aku tidak mengerti mengapa Ibu yang selalu terlihat riang menangis berhari-hari bahkan berminggu-minggu lamanya sepanjang malam. Tapi, jika langit sudah memperlihatkan awan gelap aku dapat melihat senyum tipis Ibu. Ibu akan duduk manis di dekat jendela menunggu rintik-rintik hujan turun. Ibu tidak pernah menarikan “Tarian Hujan” lagi setelah Ayah pergi dari rumah.

*

“Sudah jangan menangis terus. Aku pergi untuk kamu dan Rinai.”
“Kerjaan kamu di sini kan sudah enak. Kenapa harus melanjutkan sekolah lagi? Kenapa harus keluar negeri?”
“Aku ingin punya klinik sendiri, ini jalan yang harus aku tempuh.”
“Tapi aku dan Rinai butuh kamu. Aku butuh kamu.”
“Dua tahun. Aku cuma minta dua tahun.”
“Swedia itu jauh, kan?”
“Sudah jangan menangis terus, nanti Rinai bangun. Jangan menambah beban kepergianku. Aku akan rajin mengirimimu surat.”

Di rumah Nenek, semua sanak saudara berkumpul melepas kepergian Ayah ke Swedia untuk melanjutkan gelar dokternya. Aku yang masih kecil tidak mengerti bahwa itu adalah saat terakhir aku bertemu dengan Ayah. Yang aku tahu semua saudara berkumpul dan banyak sekali makanan manis. Ibu dan pamanku mengantar kepergian Ayah ke bandara. Aku di rumah bermain bersama sepupu dan Nenek yang menjagaku.

“Kamu, baik-baik yah. Jaga kesehatan. Jangan hujan-hujanan nanti kalau sakit aku yang repot harus terbang ke Bandung untuk ngobatin.”
“Iya, kamu juga hati-hati di sana. Belajar yang rajin biar cepat lulus dan pulang ke rumah.”
“Aku akan merakit mesin penenun hujan di sana. Hingga terjalin terbentuk awan yang melimpahkan curah hujan hanya untukmu.”1

Dalam perjalanan pulang paman terus menghibur Ibu yang masih menangis, kesepian dan kerinduan yang pertama kali menyerang Ibu. Nenek sedang menonton sinetron sambil sesekali melihatku yang sedang bermain di luar. Dalam sekilas berita diberitakan “Terjadi kecelakaan pesawat pada penerbangan International dari Bandung ke Swedia. Hampir dapat dipastikan tidak ada penumpang yang selamat.

*

“Rinaiiii ....”
“Iya, Bu.”
“Ayah sedang menenun, lihat awannya gelap sekali. Buatkan teh sebentar lagi Ayah datang.”

Rinai hujan perlahan turun, suara gemercik merdu terdengar menyentuh atap rumah, membasahi halaman rumah. Di sudut jendela, Ibu menikmati tehnya sambil tersenyum, menyambut Ayah.

***

Gambar dari sini

Note.
1. Petikan lirik Frau, Mesin Penenun Hujan.
Coba deh bacanya sambil buka www.rainymood.com


10 December 2012

Wanita Dudul Terindah


Sebenarnya begini, aku sedang risau. Gelisah. Uring-uringan hanya karena satu wanita. Tunggu! Jangan bayangkan dia sebagai wanita dengan wajah cantik, kulit putih, berambut panjang hitam dan tinggi semampai. Dan jangan sekalipun beranggapan dia adalah wanita yang feminin, lembut, gemulai, sopan, apalagi baik hati.

Yah, baiklah harus kuakui terkadang dia memang terlihat cantik saat tersenyum. Tapi itu juga kadang-kadang karena dia lebih sering memajang foto profile di blackberrynya dengan raut muka yang jutek. Jadi, wajar saja kan jika aku langsung save foto profile dia saat dia sedang memasang fotonya yang sedang tersenyum? Tolong, jangan beritahu perbuatanku padanya bisa-bisa aku ditamparnya habis-habisan karena perbuatanku yang lancang. Tapi, jujur dia itu cantik kalau sedang tersenyum. 
Hanya saja dia tidak menyadarinya. Dia memang tidak pernah sadar terhadap lingkungan di sekitarnya. Apalagi terhadap kehadiran aku! Percaya tidak?

Sudah berapa kali kami bertemu dan setiap dia melihat aku sedang menuliskan sesuatu, dia selalu berkata,

“Eh, lo itu kidal yah? Baru tahu gw. Keren!”
“Iya ... dan setiap kali gw nulis, lo selalu bilang gitu.”
“Ah, masa sih? Ngga ah!”
“Iya!”
“NGGA!”
“Iiiii ...”
“NGGA!”
“Ah, sudahlah.”

Tuh kan, dia memang selalu begitu. Bersikukuh terhadap pendapatnya yang jelas-jelas salah dan parahnya dia dapat memutar keadaan seakan-akan aku yang bersalah. Selalu seperti itu setiap kali. Dan tetap saja dia tidak pernah menyadari kehadiran aku di dalam hidupnya.

“Idih, sejak kapan lo potong rambut? Gantengan deh sekarang.”
“Dua hari yang lalu kita ketemu juga gw udah potong rambut!”
“Ah, masa sih? Ngga ah!”
“Iya ...”
“Ngga ah, ga mungkin gw ga sadar lo potong rambut.”
“Ah apa sih yang lo tahu tentang gw?”
“Hemmmp .... “
“Ngga bisa jawab kan? Ah, sudahlah.”
“Memangnya apa lo tahu tentang gw?”
“Banyak!”
“Ya apa banyak itu?”
“Lo itu paling suka hujan, senja, pantai, kopi, keju, begadang dan ngga pernah bisa bangun pagi.”
“Kalau itu semua followers gw juga tahu kali.”
“Tapi mereka ngga tahu lo kalau lagi nulis ga mau diganggu. Menyendiri entah dimana, menghilang. Pelupa, selalu ada saja yang ketinggalan. Bahkan lagi asyik cerita begitu dipotong lupa sudah kelanjutan ceritanya. Dan lo itu ...”
“Bentar! Ko lo tahu?”
“Yang jadi pertanyaan itu, kok lo ga tahu apa-apa tentang gw!!!”
“Harus yah gw tahu?”
“Ah, sudahlah.”

Padahal setiap kali kita bertemu, kita berbagi cerita. Dia yang selalu bersemangat bercerita tentang pekerjaannya, teman-temannya, kesehariannya. Aku selalu bersiaga dengan telingaku, mendengarkan dengan seksama dan menangkap sinyal-sinyal dari ceritanya. Apa yang menjadi kesukaannya aku simpan dengan rapi dalam sel-sel otak memoriku dan menjaga perkataan serta perbuatanku terhadap hal-hal yang dibencinya. 

Seperti yang aku bilang tadi di awal, dia itu sebenarnya cantik dengan rambut hitamnya yang panjang. Pada dasarnya dia baik dan perhatian walaupun dia tidak ingin terlihat seperti itu. Ada satu kejadian yang membuat aku begitu ... ah dia itu memang wanita dudul terindah yang pernah ada.

Suatu kali dia kirim bbm, ngajak ketemuan di suatu tempat,

“Sibuk ga?”
“Ngga juga. Knp?”
“Ketemuan yuk? Udah lama ga ketemu.”
“Kapan?”
“Jam 16.00 di Kopi-Q”
“Oke.”
“C u soon.”

Jam 15.30 aku sudah ada di Kopi-Q. Duduk manis menunggunya. Hingga 45 menit kemudian tidak muncul juga batang hidungnya aku langsung meneleponnya.

“Halo? Heh, dimana?”
“Masih di rumah. Kenapa?”
“Tanya kenapa lagi! Lo yang ngajak ketemuan, lo yang lupa! Jadi ga mau ketemuan. Gw udah sampai.”
“Loh, bukannya jam 6 yah?”

Aku langsung cek bbm yang dia kirimkan tadi pagi.

“Lo bbm gw jam 4!”
“Ah, masa sih? Jam 6 kali.”
“Lo nulis jam enam belas nol nol itu artinya jam empat, dudul!”

Hening, mungkin dia sedang mengecek bbm. Lalu terdengar suara tawanya, ngakak.

“Maaf-maaf .... hahahaaa maaf yah. Ko gw mikirnya jam 6 yah?”
“Jadi gimana?”
“Lo pesen aja dulu, gw berangkat sekarang yah.”
“Udah pesen dua gel ....”
“Tuutt tuuuttt”

45 menit kemudian, dia menelepon. Aku sudah berpikir jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya di jalan atau tiba-tiba dia membatalkan pertemuan yang dia janjikan sendiri.

“Lo duduk dimana?”
“Gw duduk di depan. Lo dah dimana?”
“Depan mana?”
“Lo dah sampe? Gw ga liat motor lo!”
“Gw udah di dalam ko.”
“Bentar dulu. Ini lo dimana?”
“Kopi Kamu ....”
“Dasar dudul! Arrghhh lo tadi bbm gw ketemuan di Kopi-Q tahu.”
“Ah, masa sih?”
“Jadi lo mau ke sini apa gw yang ke sana?!?”
“Hahahahaa, iya gw lupa. Bentar gw ke sana aja, tunggu lagi ya.”

Salah jika aku menyebut dia wanita dudul? Dia yang ngajak untuk bertemu, dia yang menentukan waktu dan tempatnya, dia pula yang lupa. Kesel, sungguh. Rasanya ingin marah terus maki-maki tapi begitu melihat kedatangannya hilang sudah semua luapan kekesalan.

“Sudah nunggu lama yah? Maaf yah .... suka kebalik-balik gw antara Kopi Kamu sama Kopi-Q.”
“Lama bangeeetttt. Tadi perginya buru-buru yah?”
“Iya, takut lo nunggunya kelamaan.”
“Tapi sempat mandi terus keramas dulu, kan?”
“Iya lah masa mau pergi ngga mandi. Kenapa sih lo senyum-senyum gitu?”
“Lo itu bener-bener dudul!”
“Apa sih dudul-dudul. Iya, maaf banget yah. Lagi banyak kerjaan jadi ngga konsen. Gw traktir deh. Eh, lo itu kidal yah?”
“IYA, baru tahu yah?!? Lo itu mank dudul!! Lo yang bikin janji, lo yang lupa, dan bahkan untuk sisir rambut aja lo lupa!”
“Astaga ....”

Semenjak kejadian itu, aku selalu menyebutnya dudul. Jangan tanya artinya karena aku juga tidak tahu. Tidak ada kata lain yang cukup mewakili dirinya yang ... yah dudul. Ada banyak kejadian-kejadian yang dudul selama bersamanya. Entah itu menumpahkan sesuatu, menjatuhkannya, memecahkannya atau menghilangkannya. Hampir semua barang yang dia pegang kalau tidak rusak yah hilang karena ketinggalan. Bilang saja aku bodoh karena aku menyukai semua hal yang ada di dalam dirinya. Kedudulannya telah menceriakan hari-hariku, menambah warna-warni hidupku, dan mendominasi isi kepalaku. Entahlah, apakah selama ini dia menyadari kehadiran dan perhatian yang kulimpahkan untuknya atau tidak. Tapi, satu hal yang pasti dia adalah wanita dudul terindah yang pernah ada untuk mengisi kekosongan dalam hidupku. Aku sayang kamu, dudul.

***

08 December 2012

Dalam Pelukan


Sedari tadi kamu hanya diam
Merangkul lututmu erat
Dengan rahang terkatup rapat
Mengerang kesakitan.

Aku ingin bilang,
Aku tahu kamu kesakitan.
Namun, lidahku mendadak kelu.
Aku ingin bilang,
Aku sakit melihatmu kesakitan.
Namun, bungkusan udara ini telah
Membekap mulutku begitu rapat.

Mengapa justru kata-kata hilang di saat seperti ini?
Saat kau butuh penghiburan, humor usang, nasihat sok bijak,
Atau bahkan bawelan serta ocehanku yang tak berujung,
Sekedar kesedihan dan kesakitanmu beroleh penawar.

Kemampuan dalam berkata-kata menguap.
Kebisuan menjadi hadiah kebersamaan kita.

Pandangan mata berlari-larian,
Saling mencari satu titik nemu yang sama.
“Sakit ....” katamu lirih.
Dan tiba-tiba saja ada kekuatan yang menggerakkan
Kedua tanganku untuk merengkuhmu.
“Rasakan” bisikku di telingamu.
Ada sebuah energi  yang menyatu dan mencairkan apa yang sudah beku, di sana, di hatimu.
“Rasakanlah” betapa lamanya kita terlelap pada sepi dan membiarkan sunyi menetap.

Cukup lama tubuh kita saling terpaut,
Hingga kata – kata menyata,
Perlahan menyusup dan menyelinap relung hati
Menggerogoti sunyi sampai habis tak bersisa, sakitmu.

Hatiku tahu,
Hatimu pun mungkin tahu.
Nadi kita mungkin mendenyutkan pesan yang sama.
Sebuah pesan yang terbaca di dalam pelukan.
Peluk aku dan kau akan tahu.

***

Sumber dari sini




30 October 2012

Yah Inilah Profesiku


Sedari kecil sudah terbiasa diasuh oleh orang lain, mulai dari Embah Putri, Tante-tante, kakak sepupu hingga pembantu karena kedua orang tua sibuk bekerja di pabrik.

Hidup di kelilingi oleh orang-orang yang bekerja di pabrik pada waktu itu nampaknya menyenangkan. Ayah dan Ibu bertemu di pabrik, pacaran kemudian menikah. Sebagian besar pamanku juga bekerja di pabrik yang sama hingga akhirnya menemukan gadis yang aku sebut tante sekarang. Dan cita-citaku jika besar nanti aku juga ingin bekerja di pabrik yang sama.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu rasanya bekerja di pabrik tidaklah semenyenangkan seperti yang aku bayangkan saat kecil dulu. Ibu sering bertengkar dengan Ayah karena tidak pernah libur, tidak pernah ada waktu untuk keluarga, dan selalu mementingkan pekerjaan. Bahkan tidak bisa meluangkan waktunya dua jam saja dari tujuh hari untuk beribadah di Hari Minggu.

Apalagi saat kuliah, jarang sekali bertatap muka dengan Ayah. Aku bangun Ayah sudah pergi ke pabrik sebelum jam 7, Aku pulang selepas jam 9 Ayah sudah terlelap. Mungkin, hal inilah yang menyebabkan aku tidak terlalu dekat Ayah.

Semakin aku bertumbuh besar, semakin yakin pula bahwa aku tidak ingin bekerja di pabrik. Walaupun aku juga tidak tahu mau bekerja dimana dan sebagai apa.

__

Hingga pada akhirnya aku memutuskan bekerja di bidang Event Organizer. Cukup sederhana kerjanya hanya mengurus acara orang. Walaupun praktek di lapangannya tidak sesederhana itu. Berhubungan dengan berbagai karakter klien yang maunya macam-macam dan tidak jarang pula suka dadakan atau tiba-tiba ada perubahan di menit-menit terakhir. Belum lagi berhubungan dengan pihak ketiga, para vendor yang suka seenaknya, merasa dibutuhkan.

Sampai pernah tertidur hingga tengah malam di percetakan menunggu mereka menyelesaikan materi promosi publikasi yang seharusnya sudah selesai sejak sore tadi.

Berperan sebagai perpanjangan tangan antara klien dan vendor seperti memancing di air keruh kalau kita tidak sigap. Bersitegang dengan mereka, para vendor merupakan makanan sehari-hari, kesalahan mereka akan menjadi kesalahan kami, tim EO di mata klien.

Nah, beda cerita jika klien yang salah  tentunya tim EO lah yang akan menanggung kesalahannya. Sekesal apa pun menghadapi permintaan klien harus tetap dijalankan dengan profesional plus senyuman, begitu kata atasanku. 
Pelanggan adalah Raja, kata pepatah antah berantah. Sedangkan EO tidak menjual produk tetapi jasa. Maka service klien lah yang menjadi modal utama kami, sebagai EO.

Penyampaian ide serta mekanisme konsep hingga eksekusi di lapangan yang melibatkan banyak pihak sering kali menimbulkan percikan konflik jika tidak pandai-pandai merendam emosi.

Entah mengapa, sekesal apa pun dengan pihak klien atau vendor, selelah apa pun dengan kerjaan menumpuk, seletih apa pun badan karena lupa makan dan ngga tidur berhari-hari menyaksikan Event berakhir dengan sukses dan lancar itu rasanya .... ah seperti bisul pecah. Antara rasa lega, bahagia, dan bangga. 
Nyatanya rasa itu bikin ketagihan, lagi, dan lagi.

Oh, iya satu hal yang pasti! Pekerjaan ini sifatnya sangat flexible. Tidak ada tuntuntan untuk ngantor. Jadi, aku bisa berada di rumah sepanjang hari jika tidak ada event. Dapat ngobrol banyak dengan Ibu dan melihat Ayah pulang kerja. Seperti hari ini yang kuhabiskan dengan menulis tentang kisah profesi.

***

Yah Inilah Profesiku

29 October 2012

Selagi Kau Terlelap


Jam menunjukkan angka 02.00 pagi di tempatmu.
Kau pasti sedang membereskan sisa-sisa abu rokok di atas meja kerjamu.
Mengumpulkan dan menyatukannya ke dalam asbak bersama puntung rokok lainnya.
Membuangnya ke tempat sampah di belakang,
Untuk kau bakar pagi nanti beserta sampah yang lainnya.
Mematikan komputer setelah menutup jendela rapat-rapat.
Keluar dari ruangan sambil membawa cangkir yang hanya berisi ampas,
Meletakkannya di tempat cuci piring begitu saja.

Jam menunjukkan angka 02.00 pagi di tempatku.
Gelas kopi tanpa ampas masih setengah gelas.
Berkutat dengan kata-kata yang kadang mengalir deras,
Kadang tersedat, kadang terbendung,
Mencoba merangkainya menjadi kalimat yang utuh,
Dan akan kupersembahkan untukmu.

Jam menunjukkan angka 03.00 pagi di kamarmu.
Kamar yang hanya berisi lemari baju dan kasur.
Tidur meringkuk ke arah kanan,
Menghadap tembok.
Tangan kirimu memeluk guling,
Tangan kananmu tersembunyi dibawahnya.
Seakan ingin menggapai (si)apa di sana.

Jam menunjukkan angka 03.00 pagi di kamarku.
Kopi dalam gelas sudah tandas.
Kantuk belum juga datang.
Kedua tangan masih menari di atas keyboard.
Berharap segera terlelap,
Merasuki alam mimpi dimana kau sudah menunggu.

Jam menunjukkan angka 04.00 di kamarku.
Sayup-sayup adzan subuh memanggil,
Jiwa-jiwa yang haus akan kebutuhan padaNya.
Kantuk masih enggan datang,
Ada yang menunda kehadirannya.
Mungkin, kantuk tahu
Tulisan ini harus terselesaikan.

Jam menunjukkan angka 05.00 di kamarku.
Sebersit sinar menyeruak melalui jendela,
Yang kubiarkan tanpa tirai.
Malam telah direnggut.
Suara ayam menyambut pagi.
Kantuk sudah di pelupuk mata.
Kumatikan laptop.
Gelas kubiarkan di atas meja.
Menyusup masuk dalam selimut,
Meringkuk ke arah kiri,
Tangan kanan memeluk guling,
Tangan kiri tersembunyi dibawahnya.

Jam menunjukkan angka 07.30 di kamarmu dan kamarku.
Wajahku mengarah ke kiri,
Wajahmu masih menghadap ke kanan.
Karena jika kau membuka mata nanti,
Ada aku di hadapanmu.
Dan di bawah guling ada tangan kita saling menggenggam.

Tiada yang lebih indah dan manis,
Saat dua manusia terbangun dari lelapnya malam,
Dengan rambut acak-acakan,
Wajah mengkilap,
Tubuh berkeringat,
Menyapa, “Selamat pagi kamu, bau acem.”
Tersenyum sambil mengecup kening.

***

23 October 2012

Aroma Malam


Tidak selamanya perpisahan itu meninggalkan luka. Tidak selamanya perpisahan itu adalah akhir dari segalanya. Aku buktinya!

Berpisah denganmu adalah jalan keluar yang terbaik bagi kita. Baik bagiku dan baik bagimu. Sudah, percaya sajalah! Lagipula itu kan yang selalu kamu ucapkan bahwa aku adalah yang terbaik untukmu dari baik yang pernah ada. Aku selalu tahu bagaimana cara mengejar apa yang aku inginkan. Aku selalu tahu dan aku selalu bisa. Sedangkan kamu hanya berkutat pada pemikiran tentang mimpi-mimpimu tanpa ada niat untuk berani mewujudkannya. Lalu serta merta menyalahkan aku atas ketidakberdayaanmu.

Aku bisa kapan saja meninggalkanmu, tapi apakah kau bisa pergi dariku?

Tidak ada rasa cinta untukmu lagi, suamiku. Kamu yang sudah mengkhianati cinta kita. Aku sudah muak pada cinta yang mengeluarkan aroma seperti bangkai. Busuk!

__

“Kalau aku punya anak nanti, kamu mau anak perempuan apa laki-laki?” tanyaku sambil bersandar pada dadanya yang bidang.

“Mau perempuan atau laki-laki sama saja. Asal jangan banci! Duh, ngga kebayang nanti dia bilang papa minta uang jajan cyinnn.” Ujarmu sambil mengelus-elus rambutku.

“Jadi kamu yakin mau nikahi aku?”

“Yakin! Kamu itu yang terbaik yang pernah ada.”

“Masa?”

“Iya, aku butuh kamu. Kita percepat saja tanggalnya yah.”

“Lah, kenapa?”

“Aku takut.”

“Takut kenapa?”

“Takut nanti kamu berubah pikiran.”

__

“Kayanya aku telat bulan ini.”

“Ko bisa?”

“Ko nanyanya ko bisa? Ya bisalah! Udah hampir setahun kita nikah kali.”

“Ah, masak aja belum bener apalagi ngurus anak.”

“Mulai sekarang harus hemat, mulai ngumpulin uang buat biaya lahiran. Katanya kalau di operasi bisa puluhan juta.”

“Ya kalau ngga ada duitnya gimana? Ngga usah paksain.”

“Makanya direncanakan!”

“Kamu tuh jadi istri nuntut terus kerjaannya.”

“Bukan nuntut itu kan bagian dari tanggung jawab kamu sebagai suami.”

“Sudah ah. Susah dapat ide kalau diam di rumah. Hari ini aku nginap di kantor saja yah bareng sama anak-anak lain juga.”

“Oh mau nginep. Besok pulang kan?”

“Belum tahu”

__

Seminggu lamanya dia menginap di kantor tanpa mau dihubungi apalagi dihampiri. Sesibuk itu kah pekerjaannya? Tidak memperkenankan istrinya sendiri berkunjung, sekedar melihat keadaannya. Alasan yang dilontarkannya sungguh tidak masuk akal, supaya dia merasa rindu padaku. Sudah seminggu berlalu, pulang ke rumah hanya untuk menukar pakaian kotor dan mengantinya dengan yang bersih. Seminggu yang menjadi sebulan. Rupanya rindu tak jua kunjung menghampirinya.

Sebulan penuh lamanya dia tidak menunjukkan batang hidungnya. Aku pun enggan menghubunginya apalagi jika harus mencarinya.
Pekerjaanku sebagai editor di majalah fashion sudah cukup menyita keseharianku dan kesunyian sudah bersahabat karib denganku. Terbiasa dengan kesendirian.
Walaupun dalam lubuk hatiku terus saja bertanya-tanya, apakah memang harus begini hidup sebagai sepasang suami-istri, apakah dengan hidup terpisah tanpa kabar darimu akan memunculkan rasa rindu yang selalu dia nantikan. Jika memang ini yang membuat dia bahagia, maka aku rela menjalaninya. Karena kamu adalah suamiku.

Tiba-tiba dia datang membawa tumpukan baju kotor beserta surat perceraian.

Apa pun alasan yang kamu kemukakan aku terimakan, pada akhirnya.
Bahwa aku hanyalah sebuah batu sandungan untuk mencapai impianmu.
Impian yang kau sendiri pun takut untuk mewujudkannya. Impian untuk menjelajahi hutan-hutan yang belum terjamah, mendaki gunung-gunung yang belum tersentuh, samudra yang belum terselami. Dengan meninggalkan semua realita yang sudah kita bangun bersama.
Aku hanya seonggok daging dalam pundakmu, membebanimu dalam tiap langkahmu.
Membicarakan dan membayangkan akan hadirnya sosok buah hati saja sudah membuatmu pusing kepala. Hanya tuntutan dan tuntutan yang ada di dalam pikiranmu. Jika kau bisa membuka mata hatimu itu adalah tanggung jawab. Adakah tujuan lain dari menikah selain mempunyai anak dan melihat pertumbuhan anak dengan masa depan yang gemilang?
Dan aku hanyalah seorang perempuan bodoh yang sayangnya telah kaunikahi, yang sialnya tidak mampu mendampingi menggapai impianmu, yang justru lebih memilih bersanding dengan realita.

Entah bermalam-malam kulalui dengan mata sembab dan hidung yang memerah. Menangisi hidupku dan waktu yang terbuang sia-sia untuk mencoba membahagiakanmu. Mengapa dia merasa tidak bahagia hidup denganku bahkan saat usia pernikahan kami belum mencapai dua tahun umurnya?

Ada sesuatu yang kosong merasuki sukmaku namun membuatku bernapas lebih lega. Menyadarkanku satu hal bahwa nyatanya kau memang tidak siap untuk menjadi seorang suami yang bertanggung jawab. Tidak layak untuk menjadi seorang ayah yang dapat mengayomi anak-anaknya kelak.
Selama ini hidupku diselimuti dan terbuai oleh aroma menyengat yang keluar dari tiap kata-kata yang kau janjikan. Menutup hidung dan akal sehatku sakin sengit aromanya. Menjauhkanku dari aroma lain yang nyatanya lebih semerbak mewangi. 

Surat perceraian sudah di tangan. Sebulan kemudian kamu datang dengan wajah brewokan, rambut acak-acakan tak terurus, perut bunyitmu menghilang, dan kusut nan kucel kemejamu. Kamu datang meminta maaf memohon ampun. Gadis lugu yang kau temukan dan kau anggap mampu mengiringi langkah menuju mimpimu itu nyatanya tidak selugu dan sebodoh pikiranmu. Sudah berapa banyak hartamu yang berhasil diraupnya hingga mengenaskan keadaanmu dan membawamu kembali padaku?
Aku maafkan setiap kesalahanmu tanpa perlu mengampuni. Pergilah jauh dari rumahku, badanmu mengeluarkan aroma tajam menusuk-nusuk hidungku, busuk.

Karena malam ini aku hanya ingin mencium angin semilir malam yang tertiup melalui dahan pohon. Aromanya menenangkan jiwa, menghanyutkanku, membawaku pada rasa kenyamanan yang tak pernah bisa aku dapatkan sebelumnya, khususnya darimu.




Kepadamu, tak pernah aku membawa cinta.
Percayalah, cinta hanya akan mengkhianati kita pada akhirnya.
Bau menyengat menusuk hidung hingga relung hati,
Hanya karena cinta telah padam.
Jangan pernah datang membawa cinta untukku.
Cinta sudah membusuk dan kubuang jauh ke sungai sepi.
Biarkan aku menikmati aroma malam
yang menentramkan gemuruh hatiku.


***

Teruntuk seseorang di sana, jangan menangisi bau busuk.
Buang jauh semuanya itu.
Peluk erat.


24 September 2012

Percakapan penuh Grgrgr


Pagi  tadi hujan turun dengan deras, kamu tahu kan bau rumput yang diguyur air itu seperti apa? Bau khas hujan. Kesukaanku. Sama halnya denganmu yang tergila-gila menghirup aroma bensin. Bau bensin, membuatku pening.

“Kenapa sih suka bau bensin? Kenapa ngga sekalian hisap lem aibon aja!” gerutuku saat sedang isi bensin melihat mukanya sumringah.

“Iya nanti mau beli abis isi bensin.”

“Grgrgr.”

Sesiangan ini dia menemaniku belanja bulanan titipan Ibu. Ketika memasuki area buah-buahan, muka berubah hidungnya mengernyit, diam, lalu mundur perlahan.

“Gw tunggu di luar aja, mau ngerokok.”

“Oke.”
__

“LO BELI DUREN?!?” teriaknya saat aku menghampirinya di mobil.

“Iya, harganya lagi murah ...” ucapanku sambil menatapnya polos.

“Lo bawa aja ini mobil, gw naik busway.” Memberikan kunci mobil padaku sambil keluar dari mobil menutup hidungnya.

“Kenapa sih? Ngga suka bau duren yah?” tanyaku sambil berpindah tempat.

“Ngga!”

“Ya udah sampai ketemu di rumah yah.” menyalakan mesin mobil.

“IYA. Grgrgr.”
__

Beberapa jam kemudian bel berbunyi, akhirnya dia sampai juga dengan muka yang menggenaskan.

“Kenapa muka lo kaya korban tawuran?”

“Gila, busway bau ketek.”

“Mending bau duren kan?”

“Grgrgr. Mana kunci mobil? Gw mau balik!”

“Balik sekarang? Bentaran dong, lagi ngejus tomat.”

“Hah TOMAT? Ngga ah mending balik!”

“Ngga suka tomat?”

“Ngga. Aneh teksturnya ngga kaya buah lain.”

“Lo yang aneh. Dah sana balik.”

“Grgrgr. Eh, ntar malam makan bareng yuk?”

“Hayu, jemput gw yah?”

“Ketemu di sana aja. Malas gw bolak-balik. Rumah lo bau duren. Dah, gw balik yah.”

“Grgrgr.”
__

Dan malam ini di sebuah rumah makan yang rame pengunjung, kami bertemu lagi.

“Lo pakai wangi-wangian yah?”

“Ini Victoria Secret! Parfum mahal.”

“Ngga enak baunya.”

“Ngga usah nyium baunya. Lihat mukanya aja.”

“Sama ngga enaknya.”

“Grgrgr.”

“Hehehe, mau makan apa?”

“Kepiting asem manis.”

“Mas, kepiting asem manis satu. Sate kambing sa ...”

“Lo makan kambing?”

“Kaga. Gw makan sate kambing.”

“Jadi pesanannya kepiting asem manis dan sate kambing yah, Mas? Minumannya mungkin?”

“Jus Tomat”

“Jus Strawberry”

“Tahu ngga kalau laki-laki pesan Jus Strawberry artinya apa?”

“Karena ngga suka tomat.”

“Bukan. Karena dia lagi jatuh cinta.”

Tiba-tiba hening, ada rasa kikuk yang terbaca dalam dirinya. Mungkin dia juga menyadarinya dan mengalihkannya dengan menyalakan rokok kretek.

“Ko diem?”

“Terus gw harus salto?”

“Grgrgr. Eh kenapa coba orang bilang itu rokok kretek?”

“Karena lagi jatuh cinta?”

“Grgrgr, bukan! Karena kalau dibakar bunyinya kretek-kretek-kretek gitu.”

“Hahahaa, dasar gila!”

“Yey, kepiting gw datang duluan. Mau?”

“Ngga suka kepiting. Makannya susah.”

“Baguslah, gw juga basa-basi doang.”

“Grgrgr. Lo mau nyoba kambing gw?”

“Ogah! Ngga suka kambing dan itu bumbunya kacang semua. Alergi kacang gw.”

“Alergi ko kacang.”

“Grgrgr. Gw cekokin jus tomat lo”

“Hehehe.”

Malam pun semakin larut, beberapa pengunjung mulai sepi.

“Pulang yuk dah malam.”

“Take care yah.”

“Take care doang? Kaga dianter pulang?”

“Maksudnya awas lo nabrak orang. Lo kan bawa mobil.”

“Grgrgr. IYA.”

“Hati-hati di jalan. Thanks for today.”

“Iya, sama-sama.”

Mobilku melaju keluar area parkiran, dia masih di sana, berdiri di samping mobilnya. Menunggu mobilku keluar lalu masuk ke mobil beberapa menit kemudian.

Entah bagaimana caranya, begitu memasuki komplek rumah aku melihat mobilnya sudah terparkir di depan rumah. Aku parkir tepat di belakang mobilnya. Dia pun turun dari mobil melihat kedatanganku.

“Ngapain lo?”

“Memastikan lo nyampe di rumah dengan aman dan selamat.”

“Gw pikir jadwal lo ngeronda malam ini.”

“Grgrgr. Gw serius.”

“Iya ini udah di rumah ko. Mau masuk dulu?”

“Ngga, udah malam. Lagian rumah lo pasti masih bau duren.”

“Grgrgr. Ya udah gw masuk yah. Lo terserah deh mau ngapain.”

“Gw mau ngomong sesuatu sih sebenarnya.”

“Ngomong apa?”

“Itu masalah jus strawberry mangnya bener?”

“Hahaha, kenapa emangnya? Lagi jatuh cinta yah? Jangan bilang lo jatuh cinta ama gw?”

“Grgrgr. Lo tuh yah dasar gila. Ngga mungkin gw cinta ama lo yang ada lo jatuhin gw terus nanti.”

“Terus?”

“Ya udah gitu doang.”

“Grgrgr. Udah ah, banyak nyamuk di luar. Gw masuk yah. Hati-hati lo di jalan.”

“Grgrgr. Masa gw ditinggal di luar.”

“Bodo. Dahhhhh”

Bunyi gerbang berderit karena kurang pelumas membuat malam sunyi cukup berisik. Suara gerbang menelan suaranya yang mengatakan “Gw mang jatuh cinta ama lo walaupun lo bau duren, suka makan tomat, alergi kacang.”

“Hah? Lo ngomong apaan barusan?”

“Grgrgr. Good Nite.”

“Ohh. Nite.”

***


Gambar dari sini


 #Lagu Bau Bau Bau dari Project Pop

Note:
Tulisan ini khusus untuk Nenci yang sudah memberikan tema "Love Stink".
Ini sulit, Ne!!! Grgrgr!!!
Hope you like it. Enjoy :)



18 September 2012

Jeremy

Bekerja sebagai guru bukan hanya persoalan membuat materi pembelajaran lalu mengajarkannya pada anak didik dan menguji mereka dengan soal-soal serta mengurus administrasi sekolah. Namun harus mampu menyelami lebih dalam karakteristik masing-masing anak didiknya. Inilah yang masih menjadi kelemahanku. Anak-anak kelas satu sekolah dasar masih merasakan euphoria taman anak-anak. Mereka belum terbiasa dituntut untuk bisa menulis dan membaca dengan baik, benar, cepat, dan tepat. Kesabaran dan ketelatenan adalah kunci utama dari pekerjaan ini, pahlawan tanpa tanda jasa.

Dari dua puluh dua anak didikku, secara kasat mata mereka semua tampak sama. Anak kecil yang menangis pada jam pertama karena ditinggal oleh Ibunya, karena tidak bisa mengerjakan soal yang kuberikan, karena mengompol, atau mereka yang riang gembira menyambut istirahat tiba karena sudah tidak sabar lagi untuk bermain, berlarian di halaman depan kelas.

Suatu hari aku membagikan kertas gambar ukuran A2, pelajaran menggambar dimulai. Suasana kelas menjadi ricuh, mereka berlarian saling meminjam yang berakhir saling berebut mendapatkan pensil warna. Sengaja aku tidak memberikan tema tertentu agar mereka dapat mengembangkan imajinasinya. Hanya ada satu anak yang duduk diam di kursinya menatap kertas gambar yang masih putih polos belum tersentuh, seolah tidak ada keributan di sekitarnya.

“Belum mulai menggambar?” tanyaku.

“Sudah.”

“Gambar apa?” tanyaku sambil mengerutkan kening karena kertas gambarnya masih kosong.

“Damai.”

“Damai? Gambarnya mana?” sebagai gurunya aku merasa dibodohi. Bagaimana mungkin anak yang masih mengompol ini bisa mengerti arti kedamaian.

“Bu guru tidak lihat? Kertas putihnya damai, kalau Jeremy gambar pake pensil nanti putihnya jadi hitam. Tidak damai lagi.”

Sebentar lagi jam sekolah berakhir, aku memberikan kertas gambar lagi kepadanya.

“Ini Ibu kasih lagi, gambar pemandangannya di rumah. Besok Jeremy jangan lupa bawa lagi kertas gambarnya ke sekolah yah, yang sudah digambar pemandangan.”

Dia menerima kertas gambarnya dengan tersenyum mengiyakan lalu segera keluar kelas bersama temannya.


*

Awalnya kukira Jeremy hanyalah anak yang pemalu, hampir tidak pernah bicara dan selalu menolak jika disuruh tampil maju di depan kelas. Dia hanya menjawab saat aku bertanya dan menyebut namanya. Selalu sendiri, bermain dengan kesendirian saat jam istirahat.

Kejadian siang tadi membuatku bertanya-tanya dan berpikir ada sesuatu di dalam diri Jeremy. Selepas mengerjakan administrasi sekolah, aku sengaja menelepon rumahnya mengatakan kepada orang tuanya bahwa hari ini ada jadwal kunjungan rutin sekolah agar mereka tidak menaruh curiga.
Ibunya menyambut kedatanganku dengan ketus karena tidak pernah tahu ada kunjungan rutin sebelumnya, dia tidak siap.

Rumah mungil tanpa halaman nampak berantakan, ruang tamu yang berfungsi sebagai ruang keluarga dipenuhi dengan barang-barang. Botol-botol bir kosong tergeletak di sudut ruangan, meja tanpa taplak diselimuti debu dan abu rokok. Dinding putih di ruang tamu menjadi hamparan canvas lukisan abstrak, peninggalan jejak kakak-kakaknya Jeremy. Kaos kaki yang terlepas dari sepatu tergolek dimana-mana membuatku harus waspada saat melangkah. Terdengar lagu yang dinyalakan keras-keras.

Jeremy spoke in class today
Jeremy spoke in class today
Try to forget this...
Try to erase this...
From the blackboard.*

“Jo, kecilkan suaranya!!! Kunjungannya memang selalu dadakan? Saya tidak punya waktu untuk bereskan rumah dulu.” Ujar Ibunya, menangkap basah saat aku mengedarkan pandangan di ruang tamu.

“Iya, saya minta maaf, tampaknya bagian tata usaha melewatkannya.”

“Tujuannya apa kunjungan ini?” tangannya mempersilahkan aku duduk sebelum menyalakan rokok.

“Tujuannya agar pendidikan anak selaras di rumah maupun di sekolah, sudah menjadi kewajiban saya sebagai wali kelasnya untuk menyelaraskan hal itu. Di sekolah ada banyak keterbatasan, selain waktu, perhatian juga terbagi untuk anak yang lainnya, agar lebih fokus makanya diprogram kunjungan rutin.”

Ibunya menatapku dalam diam, kemudian berteriak “Jonas ambil air putih untuk Bu guru”

“Jeremy berapa bersaudara, Bu?” menahan napas agar tidak batuk karena kepulan asap.

“Lima. Dia anak keempat. Johanes kakak yang pertama baru masuk smp. Jonas kelas 6. Joshua kelas 3. Jeremy lalu Josephine, adiknya masih tiga tahun.”

“Jeremy termasuk anak yang pendiam di sekolah, apakah kalau di rumah dia pendiam juga?”

“Dibandingkan dengan kakak-kakaknya dia memang lebih pendiam. Tuh liat tembok penuh coretan bekas kakak-kakaknya. Belum ada waktu buat cat ulang warna putih, biar kembali damai suasana.”


*

Kunjungan sore yang melelahkan, membuat kepalaku pening diselimuti asap rokok yang rasanya melekat di sekujur tubuh. Mendengar penuturan dari Ibunya, aku merasa menaruh simpati yang dalam terhadap Jeremy. Dibesarkan dengan rasa kasih sayang yang tersisa dari kakak-kakaknya dan harus membagi sisanya untuk adik yang masih kecil. Tidur bersama dalam satu kamar, berbagi kasur dengan kedua kakaknya.

Kehilangan sosok ayah yang bekerja di luar kota dan pulang ke rumah hanya untuk tidur seharian. Tidak pernah bertegur sapa, cenderung tidak peduli terhadap perkembangan anak-anaknya, setidaknya itu yang aku tangkap dari hasil kunjungan tadi. 

Sehari-hari hanya bersama kakak-kakaknya yang tak acuh membuatnya lebih merasa dekat dengan Ibunya. Itu yang menyebabkan dia begitu mengagungkan warna putih, warna kesukaan ibunya yang dia percayai membawa rasa damai. 
Dia tidak pernah mau membubuhkan warna lain di atas warna putih polos. “Putih itu damai” ucapan Ibunya terpatri lekat dalam ingatan, membuatnya ketakutan akan merusak rasa damai jika menodai putih dengan warnai yang lain. Beruntunglah buku tulis tercipta dengan garis-garis penanda penegasan, sehingga dia bisa leluasa menggoreskan pena di atasnya. Jeremy, kau memang berbeda.


*

Masih ada dua puluh menit sebelum memasuki jam pertama, aku masih di ruang guru menyiapkan materi untuk hari ini. Mengetahui latar belakang keluarga Jeremy mau tidak mau justru membuatku salah tingkah, apakah aku bisa memandang dia dengan pandangan yang sama? Dengan umur yang masih belia dia mencoba memaknai kehidupan di balik warna.

Lamunanku terganggu karena muridku Anto menghampiriku sambil terengah-engah,

“Bu guru. Denis nangis. Jeremy mukul ...  gambar ...” Ucapnya terbata-bata. 

Tanpa menunggu kalimat Anto selesai aku langsung berlari menuju kelasku.
Denis yang melihat kedatanganku segera menghampiri dan memelukku

“Bu guru tadi Denis dipukul Jemmy.”

“Kenapa Denis dipukul”

“Denis mau ikut gambar juga. Tapi ngga boleh sama Jemmy”

“Jeremy lagi gambar apa? Ayo kita lihat ke kelas.”

Memasuki ruang kelas, aku tertegun menyaksikan gambar pemandangan di papan tulis seluas 50 x 80 cm. Jeremy menggambar gunung dengan kapur putih, lembah yang berwarna merah, matahari kecil bersinar kekuningan, di atas puncak gunung ada anak kecil dengan jarinya membentuk huruf V. Dia menggambar sambil bernyanyi Jeremy spoke in class today ...

“Jeremy?”

“Bu guru ini gambar pemandangannya sudah selesai.”


***


*Lagu Jeremy by Pearl Jam