20 February 2012

Hari Kasih Sayang yang Tertunda

Tanggal 14 Februari konon diperingati sebagai Hari Kasih Sayang. Menurut data statistik yang diambil secara sembarang tingkat penjualan produk – produk seperti: coklat, bunga, boneka, lilin dan kertas kado mengalami peningkatan sampai berkali – kali lipat. Hal ini menunjukkan bahwa pada tanggal 14 februari itu dijadikan momen untuk memberi hadiah special kepada orang yang special sebagai ungkapan rasa sayang.

Nah, Hari Kasih Sayang tahun ini kebetulan jatuh pada selasa kemarin. Tidak ada sesuatu hal yang istimewa selain berkumpul bersama teman yang kebetulan baru saja melepas status lajangnya. Bersama mereka walau hanya dalam hitungan menit sudah lebih dari cukup untuk membawa senyum pulang kerumah. Hari itu pun berlalu begitu saja.

Tidak! Saya tidak sedih apalagi kecewa. Berpasangan dengan pria skeptis yang memandang Hari Kasih Sayang bukan sebagai momentum rasa sayang selama bertahun – tahun menyadarkan satu hal penting dalam hidup saya, yaitu berhenti berharap. Dulu, saya selalu berharap akan mendapat sedikit kejutan manis di setiap Hari Special. Namun, kejutan itu tidak pernah muncul hingga akhirnya harapan – harapan itu pun memudar dan menghilang setiap tahunnya. Mungkin, dulu sekali saat hubungan kami masih bisa dihitung dengan satu tangan, dia masih menyempatkan waktu untuk membeli barang yang sesuai dengan tema kasih sayang untukku. Sekarang, semuanya hanya sepotong cerita di masa lalu.



***



Empat hari kemudian, saya mendapat BlackBerry Messager dari dia. Sekedar menanyakan apakah besok saya libur dan mengingatkan bahwa besok adalah pernikahan rekannya. Tiba – tiba dia menulis akan menjemput. Sesuatu yang sepele mungkin bagi kalian dan iya bukan hal yang patut digembor – gemborkan.
Sebagai perempuan yang biasa berkendaraan dengan motornya, prihal jemput-menjemput ini sudah lama tidak kami lakukan. Biasanya langsung bertemu di tempat tujuan untuk mempersingkat waktu, menghemat bahan bakar, dan tidak menghabiskan tenaga.
Jadi, membaca kalimat dari dia yang menurut kebanyakan orang tidak ada artinya sudah lebih dari cukup membuat hati saya tersenyum semalaman.







***


Terimalah telinga ini,
hanya untukmu,
kukirimkan dari jauh
karena aku kangen padamu.
Setiap kali melihat telinga ini,
ingatlah diriku yang kesepian.
Memotong telinga
adalah satu – satunya hiburan.

-Petikan surat dari Cerpen Telinga, Saksi Mata oleh Seno Gumira Ajidarma-


Kamu, aku, dan beberapa rekan lainnya duduk di luar Gedung Resepsi Pernikahan rekanmu sekedar mencari angin. Beberapa diantaranya akan segera kembali pulang, jalan – jalan, bertemu dengan rekan yang lain. Aku sangat yakin bahwa kau tidak punya rencana apa – apa dan memang tidak mau repot untuk memikirkan hal itu. Ingin mengajukkan satu tempat; sebuah coffee shop, namun aku hanya diam menunggu reaksimu saat rekanmu bertanya langsung padamu. Aku sudah berhenti merengek meminta kau menemaniku mencicipi secangkir cappuccino karena kau tidak begitu suka kopi. Sejujurnya, di coffee shop; walaupun menu utamanya menyediakan kopi selalu ada alternatif pilihan menu minuman selain kopi yang bisa cicipi; teh dan coklat. Mereka adalah tiga serangkai yang tak mungkin dapat dipisahkan begitu saja dalam daftar menu. Namun, aku menghargaimu dan berhenti mengajakmu lagi.

Sore itu kau malah membawaku ke suatu tempat di daerah dago, Kopi Ireng. Dapatkah kau tebak tempat seperti apa itu jika nama tempatnya saja sudah mewakili menu utama yang ada di dalamnya.

Berdua bersamamu, duduk di atas balkon dengan pemandangan bukit – bukit hijau, menikmati Cappuccino sementara kau Juice Strawberry bagiku seperti sedang merayakan Hari Kasih Sayang.



Boleh kutekankan lagi, hanya duduk berdua bersamamu di atas balkon tanpa ada kata yang terucap.

Aku rasa kau bosan, jenuh, muak, jengah mendengar celotehanku tentang semua hal yang tiba – tiba saja terlintas di dalam pikiranku lalu membahasnya denganmu secara detail. Apapun itu, baik tentang pekerjaanku, keseharianku, perasaanku terhadap sesuatu atau seseorang.

Demikian pula aku yang tak menyelami kegiatanmu dengan club – club motormu, apa yang telah kau lakukan pada motormu, sang legend, keseharianmu menjelajah tempat untuk mencari pernak – pernik mempercantik sang legend, apa pun itu yang selalu berkaitan dengan sang legend.

Jadi lebih baik kita nikmati saja momen ini tanpa kata. Ataukah aku harus memotong telingaku agar aku tak lagi mendengar kata – katamu, sehingga aku bisa terus menatap matamu dan tetap tersenyum lebar saat kau mulai bercerita mengenai sang legend itu?

Tentu saja tidak!

Duduk berdua denganmu di atas balkon ini, dengan pemandangan bukit – bukit hijau, memandang titik yang berbeda dengan pemikiran masing – masing, aku dengan cappuccinoku dan kau dengan juice strawberrymu adalah momen Kasih Sayang terindah bagiku.



Selamat Hari Kasih Sayang yang Tertunda.

No comments:

Post a Comment