06 March 2012

Menemukan Cinta Lama di Twitterland

Sebagai mahasiswi lulusan Sastra Inggris, berkutat dengan puisi, prosa, cerita pendek, naskah drama, dan novel sudah menjadi makanan sehari-hari. Novel, merupakan pilihan nomor satu dalam list favorit, sedangkan puisi berada di urutan paling bawah. Sebab, nilai saya tidak pernah melebihi angka tujuh dalam mata kuliah Interpretasi Puisi. Menginterpretasikan sebuah puisi seharusnya cukup mudah, hanya tinggal menyimpulkan beberapa susunan suku kata menjadi sebuah kisah yang ingin disampaikan oleh penulis. Kenyataannya tidak semudah itu, buktinya nilai saya tidak sebagus mata kuliah lainnya.

Lagipula, saya tercemplung masuk dunia satra ini serta merta karena ditolak oleh jurusan Psikologi. Cita-cita sebagai Psikolog pun gugur karena lemahnya dalam soal hitung-menghitung. Menyesal? Tentu tidak. Jika seorang Psikolog belajar mengenai kepribadian manusia, saya, belajar kepribadian tokoh-tokoh imajinasi ciptaan penulis melalui sebuah novel. Tujuannya sama hanya medianya saja yang berbeda.
Hal itu lah yang membuat saya amat menyukai membaca novel atau cerita pendek (cerpen). Dari satu tokoh yang diciptakan penulis, kita dapat menggali banyak hal; mulai dari latar belakang keluarga, pendidikan, percintaan, pertemanan, permasalahan yang dihadapinya, dan alasan mengapa penulis melahirkannya sebagai tokoh itu. Sedangkan puisi, hanya berupa susunan suku kata, ditulis secara tersirat dengan tujuan dan maksud tertentu oleh penulis. Jangankan menganalisis sebuah puisi, mengartikan kata-katanya saja sudah sulit. Maka dari itu saya memandang puisi sebelah mata.

Sepuluh tahun yang lalu, saat Ada Apa Dengan Cinta (AADC) mewarnai perfilman Indonesia, saya mulai memandang puisi dengan mata yang lain. Tokoh Rangga yang diperankan oleh Nicolas Saputra sangat memikat banyak hati, hati perempuan. Sosok yang puitis, yang suka menulis, yang terinspirasi oleh Chairil Anwar.
Rangga lah yang membuat saya akhirnya membeli buku Chairil Anwar, Aku Ini Binatang Jalang (1942-1949) buku puisi pertama saya. Setelah itu Hujan Bulan Juni nya Sapardi Djoko Damono yang menjadi sumber kekuatan saya, lalu Kumpulan puisi Percy Bysshe Shelley. Sayangnya, buku-buku puisi itu entah ada dimana keberadaannya sekarang.

Berkembangnya jaman disertai teknologi yang semakin canggih, puisi pun berkembang. Setelah Mark menciptakan facebook; Jack Dorsey, Noah Glass, Biz Stone, dan Evan Williams menciptakan Twitter akhir Oktober 2006 lalu. Saya sendiri baru bergabung tahun 2009 lalu itu pun jarang digunakan karena tidak seasyik facebook. Lambat laun, orang-orang mulai semarak membicarakan fenomena-fenomena yang terjadi di twitter. Kasus Luna Maya yang statusnya sempat menggemparkan dengan tweetnya yang kesal terhadap wartawan membuat saya jadi kembali aktif nge-tweet dan follow para penulis favorit saya. Hubungan selebriti dan fansnya menjadi lebih dekat walaupun tak jarang beberapa tweet tidak berbalas.

Twitterland begitulah orang-orang menyebutnya. Semakin banyak kicauanmu semakin banyak pula orang yang akan memperhatikan dan akhirnya jadi pengikut. Entah siapa yang memulainya namun saat ini semakin semarak akun-akun alterego bertebaran. Akun dari pribadi lain yang memiliki personal image yang kuat. “Yang berdiam di tiap kata yang kau tulis, atau yang belum kau tulis, dan yang tak pernah kau tulis, cinta” itulah profil dari @sajak_cinta yang menciptakan pencitraan dirinya sebagai akun khusus puisi. Bagaimana mungkin puisi dibuat hanya 140 karakter. Bagi saya pribadi puisi itu tidak hanya sekedar kata yang berima, tapi lebih kepada ungkapan hati penulis. Toh, tetap saja hal itu tidak membuat saya jadi unfollow. Justru saya selalu melihat linimasanya. Karena terkadang kata-katanya yang hanya 140 karakter itu membuat hati saya tersentuh.

@hurufkecil termasuk di dalamnya; banyak sekali kata-katanya yang seperti menyindir, membuat malu, kesal, marah, atau seperti memang khusus dibuatkan untuk saya, merasa terharu, senang, dan tersenyum. Tidak jarang pula beberapa diantaranya membuat saya bingung. Hingga terpaksa memantau linimasanya, takut kehilangan kata yang mengurangi inti sari puisinya.

Kembali pertanyaan itu muncul, bagaimana mungkin bisa membuat puisi hanya dengan 140 karakter? Toh, sekarang mulai muncul akun-akun twitter yang sejenis; @agus_noor, @sekedarkata_, @semejak dan akun lainnya yang bertebaran di linimasa. Sering pula sekedar iseng dengan melempar topik yang diserta tanda pagar (#) #puisimalam, #senjasore, #puisihujan dan lainnya.

Tidak sedikit puisi-puisi singkat ini yang bahkan kurang dari 140 karakter yang sengaja saya tulis ulang karena sesuai dengan suasana hati atau sekedar koleksi pribadi, diantaranya;

@hurufkecil: suatu pagi kau menuliskan kerinduan, ke dalam puisi. Sejak itu, aku tak pernah menemukanmu lagi.
@hurufkecil: jika mantanmu bertanya ‘kenapa kamu unfollow saya?’ jawablah dengan ‘bukan unfollow, saya meninggalkan kamu!’.
@agus_noor: seperti dalam puisimu, Sapardi, aku gadis kecil yg menyeberangkanmu melintasi gerimis. Tapi kau, tak lagi mengenaliku.


Memfollow akun-akun ini, rasanya seperti menemukan kembali daratan penuh kata-kata cinta setelah terombang-ambing di lautan. Membaca puisi-puisi singkat itu semacam candu energi saat sedih menyerang sekaligus moodboster menjalani hari dengan semangat atau sekedar pengantar menjelang tidur. Kepada kalian para sang pujangga terselubung dalam akun-akun misteri, teruskanlah nge-tweet kata-kata indah itu, karena saya sudah berlabuh di twitterland, puisi-puisi kalianlah yang membuat saya hidup lebih lama di sana.


***

No comments:

Post a Comment