24 December 2012

Sepasang Kekasih yang Kesepian


Pernah mengalami di suatu kondisi hasil kerjamu hanya dibayar dengan segelas kopi dan sebungkus rokok? Bukan dengan uang tunai! Saya pernah. Alasannya simple saja bukan karena tidak butuh uang tapi saat itu rasanya kopi lebih dibutuhkan untuk meningkatkan stamina dan konsentrasi. Sama halnya dengan rokok, semacam peransang kinerja otak agar lebih kreatif. Bisa dibilang suplemen dan mood boosters untuk menjalani hari yang padat. Ini pendapat menurut saya saja yah tanpa bermaksud apalagi menghimbau agar mengkonsumsi kopi dan rokok selagi kerja. Tiap orang punya caranya sendiri agar lebih bersemangat dalam bekerja, itu sudah pasti.

Nah, yang ingin saya ceritakan di sini bukan tentang soal kerjaan, bayaran, atau mood boosters tiap orang yang berbeda-beda. Tapi, lebih kepada intisari dari kopi dan rokok, khususnya dalam keseharian saya. Jadi, sebelum membaca lebih lanjut lebih baik tepiskan dahulu segala pendapat negatif dan bahaya dari kopi dan rokok atau lebih baik tidak usah dilanjutkan. Setuju?

Kita mulai dari sini ...
Kopi selalu dipaksakan berjodoh dengan rokok. Betul kah dipaksakan? Atau karena memang mereka sudah berjodoh?

Pada kenyataannya memang tidak semua orang itu peminum kopi. Dan tidak semua orang adalah perokok. Tapi keberadaan kopi dan rokok memang tidak dapat dipisahkan begitu saja. Coba kita sama-sama selisik lebih dalam. Hampir sebagian besar di cafe atau coffee shop terdapat ruangan smoking area, walaupun ditempatkan terpisah, di luar dengan kapasitas yang lebih kecil dan kurang nyaman tanpa sofa. Tidak jarang juga di beberapa cafe atau coffee shop lebih mengedepankan kenyamanan ruangan smoking area. Masih mau bukti? 

Coba melipir di jalanan, ada berapa banyak kios, warung kecil di pinggir jalan yang menyediakan air panas untuk seduh kopi sachet lengkap dengan bangku ala kadarnya. Rasanya kurang pas kalau sudah ada kopi ngga ngerokok, atau sudah ngerokok asem ngga ada kopi. Ini berdasarkan dari hasil survey pada segelintir orang secara sembarang. 

Intinya adalah kopi sangat erat hubungannya dengan rokok, begitupun sebaliknya. Mereka saling mengisi satu sama lain.
Mereka adalah sepasang kekasih yang kesepian. Begitu seorang teman dekat menamainya.

*

Bagaimana mungkin menamai mereka sepasang tapi ko kesepian? Saya tanyakan hal itu padanya. 

Duduknya langsung tegap, condong ke depan, mengambil cangkir kopi kemudian menghirup aromanya amat perlahan. Cangkir kopinya memang masih panas, dari seberang meja saya masih melihat kepulan asapnya. Setelah menghirupnya, dia menyeruput pelan-pelan seakan bunyinya akan membangunkan bayi yang baru terlelap setelah menangis seharian.

Saya pikir setelah dia meminum kopinya, dia akan langsung menjawab.

Kemudian dia mengambil sebatang rokok, mengetuk-ngetuk ujung filter ke atas meja “Supaya padat”, jelasnya karena saya melihatnya dengan ekspresi penuh tanda tanya. Mengambil korek membakar rokoknya. Ada jeda waktu yang panjang seakan terhisap bersamaan dengan saat dia mengisap rokoknya dalam-dalam. Bara api tersulut dalam keheningan. Lalu menghembuskan asapnya seolah beban hidupnya ikut terangkat seiring dengan asap yang terbang bersama angin sore hari ini.

Saya masih duduk menatapnya, menunggu jawaban.

“Sepasang kekasih yang kesepian. Kamu mau tahu mengapa saya menyebut mereka demikian?”
“Iya, maka dari itu saya ngajak kamu ngopi hari ini.”
“Kalau saya ternyata tiba-tiba tidak bisa datang, apa yang kamu lakukan?”
“Kesal yang pasti!”
“Tapi kamu sudah ada di tempat ini. Pulang? Pergi ke tempat lain? Atau ke mana?”
“Karena sudah ada di sini yah pesan minum.”
“Minum apa?”
“Kopi.”
“Sendirian?”
“Yah, karena kamu tidak datang terpaksa menikmatinya sendirian.”
“Tepat!”
“Maksudnya?”
“Kamu bisa tetap menikmati kopi dan rokok dalam kesendirian.”
“Ya, tentu saja. Lantas apa hubungannya dengan pertanyaan saya tadi di awal tentang sepasang kekasih yang kesepian?”
“Begini ...”

Lagi sebelum menjelaskan dia memulai ritual meminum kopinya dan membakar rokoknya sebelum menjelaskan. Saya harus bersabar menunggunya.

“Lihat, tangan kanan saya memegang rokok sedangkan tangan kiri menggengam cangkir kopi. Apa yang kamu tangkap?”

“Kamu sedang minum kopi sambil ngerokok???”

“Buka sedikit pikiranmu. Semua yang ada di kehidupan ini ada maknanya. Segala perbuatan yang kamu lakukan harus ada tujuannya. Kita punya dua tangan sudah pasti ada tujuannya. Tangan kanan dan tangan kiri punya fungsinya masing-masing. Tidak adil jika saya memegang rokok pakai tangan kanan dan mengambil cangkir memakai tangan yang sama. Walaupun bisa saja saya berbuat seperti itu. Intinya adalah keseimbangan.”

“Iyaa ...” dengan raut muka bertanya karena sesungguhnya saya memang tidak mengerti arah pembicaraannya.

“Boleh saya bertanya?”
“Silakan, tapi pertanyaan saya belum dijawab loh.”
“Dalam sehari berapa gelas kopi yang kamu minum?”
“Dua hingga tiga gelas. Tergantung banyaknya pekerjaan.”
“Berapa bungkus rokok yang kamu habiskan dalam sehari?”
“Rata-rata satu bungkus. Tergantung tingkat stress.”

“Tergantung ....” jawabnya sambil menghembuskan asap, menjentikkan abunya pada asbak lalu melanjutkan.
“Artinya ketidakpastian. Dan yang pasti hanya ada kopi dan rokok yang setia menemani dalam keadaan apa pun.”

“Iyaa, tapi di mana korelasinya sehingga menjadi sepasang kekasih yang kesepian.” sebenarnya apa yang ingin dia ungkapkan. Saya yang terlalu bodoh tidak dapat menangkap makna dibalik kata-katanya atau dia hanya bermain-main dengan kata saja.

“Kopi paling pas menurut saya diminum selagi panas. Rokok hanya kumpulan tembakau dalam kertas papir tanpa bara api. keduanya sama-sama membutuhkan energi panas walaupun medianya berbeda. Sudah mulai mengerti?”

“Samar-samar ....”

“Kopi hitam yang saya minum akan menyisakan ampas. Rokok yang kita hisap akan meninggalkan sisa-sisa abu dan puntung dalam asbak. Keduanya meninggalkan jejak sebelum tandas.”

“Tapi kopi yang saya minum tak berampas.”
“Saya lebih beruntung kalau begitu.”
“Kenapa beruntung?”
“Setidaknya setelah tegukan terakhir, ampas ini masih setia menemani saya. Coba kopimu? Setelah tegukan terakhir apa yang tersisa?”
“Tidak ada ....”
“Masih ada rokok yang bisa menemanimu untuk dibakar lagi.”
“Lalu?”

“Kopi hitam yang saya minum dan kamu yang pesan kopi susu berasal dari sumber yang sama, hanya cara penyajiannya saja yang berbeda. Ada yang suka pahit tanpa gula, ada yang menambahkan gula, susu, creamer, buah-buahan, ice cream, bahkan sedikit alkohol. Masalah selera saja. Sama halnya dengan manusia yang berasal dari sumber yang sama, Yang Maha Kuasa. Manusia satu dengan manusia lainnya diracik sedemikian rupa hingga terlihat berbeda satu sama lain. Masalah sudut pandang saja. Sayangnya, mereka lebih menitikberatkan pada perbedaan. Coba lihat kopi kita akur-akur saja di atas meja.

“Ehmpp iyaa ....” pembicaraan ini rasanya semakin melantur.
“Sedangkan rokok bagi saya adalah seni.”
“Seni?”

“Merokok adalah seni.” Dia mengambil satu batang dari bungkus rokoknya, mengetuk-ngetuknya di atas meja. “Yang saya lakukan adalah memadatkan tembakau di dalamnya, membakarnya, mengisapnya, lihat bara api menyatukan tembakau di dalam kertas merangsak hingga ke ujung filter menghasilkan asap masuk terhisap ke dalam bibir. Dan di olah secara naluriah oleh perokok. Semua itu proses dan hasil akhirnya adalah asap tembakau yang terhembus. Pembakaran sempurna.”

“Kamu terlalu berfilosofi.”

“Kopi dan rokok bagi saya adalah kehidupan. Kopi hangat dan bungkus rokok yang ada di meja kita merupakan hasil dari proses yang panjang. Begitu kamu menghirup aroma kopinya dan membakar batang rokokmu itulah awal kehidupan di mulai. Kopi hangat yang sudah tersaji jika tidak kau minum, semut dan serangga kecil biadab itu akan menghabisinya tanpa ampun. Begitu pula rokok yang sudah kau bakar lalu didiamkan di asbak akan habis dengan sendirinya oleh angin. Dan hidupmu akan berlalu begitu saja termakan usia tanpa pernah kau mengecap intisari dari kehidupan di dalamnya. Sia-sia.”

“Ya ya ya, masuk akal.”

“Mereka, kopi dan rokok, banyak berperan dalam hidup saya. Banyak karya saya terlahir bersama mereka. Walaupun mereka bisa berdiri sendiri dengan peranan dan fungsinya serta resiko kesehatan yang ditimbulkan tapi disadari atau tidak, mereka saling melengkapi, saling mengisi satu sama lain, saling dibutuhkan. Mereka lebih dari sahabat yang akan selalu ada di saat-saat kau terpuruk atau hanya ingin berteman dengan sepi. Mereka ....”

“Sepasang kekasih yang kesepian.”

***


2 comments:

  1. Saya peminum kopi sendiri, tanpa ada emosi meluap tidak ada sebatang rokok.

    Teh, tulisannya meuni alus :)

    ReplyDelete