05 August 2012

Menikmati Semburat Jingga


Aku selalu dibangunkan saat matahari masih malu-malu memperlihatkan kegagahannya. Hari apa sekarang? Entahlah setiap hari nampaknya sama bagiku, tidak ada hari libur bagi seorang pekerja keras. Konon, mereka bilang kalau bangun siang nanti rejekinya dipatok ayam. Bagaimana mungkin ayam mematoki rejeki orang, apakah sudah tidak ada bahan makanan tersisa sehingga si ayam harus merecoki rejeki orang?

Setiap pagi, tanpa sarapan yang layak aku selalu diseret olehnya. Duduk di belakang jok motor tuanya yang mengeluarkan gumpalan awan hitam jika aku menoleh ke belakang. Pergi ke tempat yang berbeda setiap minggunya. Dalam perjalanan di atas motor, aku merasa bebas, terbang lepas seperti sekelompok burung di langit sana – mungkin ada ayah, ibu, kakak, adik, dan saudara burung lainnya – saat angin menerpa kulitku. Aku tidak ingat mengapa aku tidak ber-ayah dan ber-ibu, aku sudah ada di sini bersama mereka yang mengurusku dengan sedemikian rupa lalu menjadikan aku seperti apa yang mereka inginkan. Tentu saja mereka mengajariku dengan disiplin bagaimana caranya mencari uang untuk mendapatkan secuil makanan. Nah, perjalanan sudah hampir sampai karena aku tidak merasakan lagi hembusan angin. Motor pun berhenti, disimpan diam-diam diantara semak-semak.

Hap! Aku meloncat ke pundaknya.

Gendang dari kulit sapi yang sudah mulai usang sedang dipersiapkan. Bunyinya tidak senyaring dulu tapi cukuplah untuk mengiringi langkahku saat bekerja nanti.

Alat-alat penunjang kerjaanku juga sudah berada di posisinya. Sudah tidak sabar rasanya ingin segera memainkan alat-alat itu.

“Bentar! Lampunya masih hijau”, tegasnya kepadaku. Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang dia katakan tapi dari intonasi yang keluar melalui mulutnya aku mengerti, belum saatnya.

Lampu perlahan mulai memerah.

Gendang mulai ditabuh, musik serampangan mengalun.



Aku langsung mengenakan topeng kebanggaanku. Alasannya sederhana untuk menutupi rasa takut dan maluku pada ribuan motor bersama penumpangnya di hadapanku.

Melenggang-lenggok di panggung aspal hitam dan putih yang kadang sangat bersih kemudian memudar lalu sama sekali tak terlihat.

Setelah itu, dia melempar payung dan tas kecil. Tangan kiri memegang payung dan tangan kanan mengapit tas kecil dan kembali mondar-mandir.

Gitar melayang di hadapanku, aku masih ingin bermain dengan payung dan tas kecil. Tapi sebelum cambuk melayang ke tubuhku yang kecil ini lebih baik segera kutanggalkan payung serta tas itu kemudian mengambil gitar layaknya seorang pengamen; yang kerap menemani dan memberi permen saat jalanan sepi. Jika seorang pengamen memegang gitar sambil bernyanyi dari satu kendaraan ke kendaraan lain, yang aku lakukan lebih mudah hanya duduk di pinggir sambil memegang gitar.

Sebelum lampu berubah hijau.

Aku berada di atas motor, kali ini aku lah yang mengendarai motor duduk di depan bukan berada di jok belakang. Sebuah motor usang yang ditemukan tergeletak begitu saja di tempat sampah, diperbaikinya motor itu, diberinya dua roda kecil hingga aku dapat berputar-putar, katanya, dicatnya hingga tampilannya menjadi cukup bersih.

Lampu mulai menguning.

Aku masih berputar-putar membentuk lingkaran menikmati angin yang menerpa kulit seakan sedang terbang tinggi bersama sekelompok burung di atas sana, sebuah tarikan kuat di leher menyadarkanku untuk kembali ke darat setelah terbang tinggi.

Hap! Aku meloncat ke pundaknya.

Seperti pengamen yang kerap menemani dan memberiku permen, dia berjalan dari satu motor ke motor lain, dari satu mobil ke mobil lain sambil membawa mangkok usang; yang ditemukannya pula di tempat sampah.

Lampu hijau.

Kendaraan berseliweran, sesekali hembusan angin dan kumpulan awan hitam berbau menerpa kulitku dan kulitnya. Saat-saat itulah kami bercengkrama, makan bersama atau melihatnya makan lebih tepat, belajar menggunakan mainan baru. Mainan baru kali bentuknya aneh, hanya selembar kain perca yang mungkin didapatnya dari tempat sampah juga. Yang harus aku lakukan hanya melakukan beberapa gerakan di atas kain itu, seperti membungkuk-berdiri-membungkuk-berdiri. Itu sih terlalu mudah untukku.

Lampu hijau.

Menguning.

Kemudian merah.

Hijau.

Kuning.

Merah.

Sekelompok burung mengepakkan sayap, kembali keperaduannya.

Langit biru berlalu begitu cepat hingga langit berubah warna mengeluarkan semburat jingga. Entah sudah berapa kali lampu berubah dari hijau-kuning-merah kembali lagi hijau-kuning-merah ...

Jika senja telah muncul tiba saatnya untuk kembali keperaduan, seperti sekelompok burung yang terbang bebas di langit sana, kembali pulang ke rumah. Rumah jeruji besi sepanjang mata memandang.

Hap! Aku meloncat ke pundaknya.

Dan dalam perjalanan pulang, di jok belakang motornya yang secara diam-diam disembunyikan di antara semak, merasakan angin sore yang menerpa kulit, aku berharap mangkok usang itu penuh dengan koin atau kertas aneka warna. 

Hap! Aku di dalam rumah.

Karena jika mangkok itu penuh maka aku dapat menikmati pisang, pepaya, timun, kacang berlimpah di dalam rumah jeruji besi sambil memandang ke atas, langit yang mengeluarkan semburat jingga dimana sekelompok burung terbang kembali keperaduannya.




***

No comments:

Post a Comment