Showing posts with label Pernak-pernik Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Pernak-pernik Fiksi. Show all posts

26 November 2020

Tayo Bis Pembunuh

Sebuah etalase kaca di warung dekat kostanku dipenuhi dengan mainan mobil, robot, pesawat, kereta api, block plastik dan mainan lainnya. Awalnya aku tak acuh, hanya melirik sebentar saat menunggu uang kembalian.
Boleh juga nih warung kecil jualan mainan, bisa kuajak keponakanku ke sini kalau nanti dia datang berkunjung.


Saat sedang menunggu kembalian iseng kutanya harga mainan mobil Tayo yang sedang booming itu,



"Pak Kus, kalau mobil Tayo itu berapa?".

 

"Mobil Tayo yang mana?", tanyanya sambil melirik ke arah etalase.


"Itu mobil bis kecil warna biru!", kujelaskan sambil bergeser dan menunjuk ke etalase.


"HEY, JANGAN SENTUH!", bentaknya.



Seketika aku tersentak!




Terlihat jelas amarah dalam raut mukanya, namun perlahan menjadi sedih, menghela napas dalam perlahan dan berkata,




"Mainan itu tidak dijual! Ini kembaliannya.", menyerahkan uang kembalian dan kembali duduk menonton TV. Membakar rokok dan seperti tidak terjadi apa-apa.





Tanganku masih menggenggam uang kembalian, jantungku berdebar cepat dan diam berdiri mematung. Masih menelaah apa yang baru saja terjadi.





"Kurang kembaliannya? Kurang berapa?", tanyanya saat menyadari bahwa aku masih berdiri memandanginya dengan penuh tanda tanya.





"Oh, Ngga Pak Kus, makasih. Mari.", aku langsung terhenyak dan bergegas pergi.




"Dek, ...!", serunya ketika baru saja aku melangkah.



Aku pun menoleh,


"Dek, jangan pernah kau beli mainan Tayo bis kecil itu! Dia bis kecil pembunuh!, serunya dengan lantang. Kemudian kembali masuk ke dalam warung kecilnya.





Foto dari sini





















Bersambung

29 April 2016

Menaklukkan Puncak


Kukepalkan tangan, memantapkan hati
Melawan kelam dan dinginnya malam
Menelusuri setapak penuh belukar
Melangkah gontai namun pasti di atas bumi

Beratnya beban di pundak,
Berjalan tertatih, nafas tersengal
Menghimpit dan menjejal nafas
Tapi ke sanalah kami menuju

Tak akan terhenti langkah kami
Tak akan menyerah kami
Karna seberkas cahya di ufuk timur
Karna selembut embun pagi
adalah harapan
Di sanalah kami berdiri tegak
Menaklukan Puncak

Jalan Setapak Menuju Entah

31 December 2015

Tiga Hal Sebelum Kau Pergi

Sebulan yang lalu, keputusan saya untuk bercerai sudah bulat. Sebulat cinta saya pada Sasti. Sasti memang tidak lebih cantik atau lebih sabar dibandingkan istri saya. Namun, kepribadiannya menyegarkan semangat dan memotivasi saya akan makna hidup.

Ana, istri yang sudah mendampingi saya selama delapan tahun sudah menaruh curiga ketika saya mulai berdekatan dengan Sasti. Saya pun tidak ambil pusing akan kecurigaannya karena memang tidak ada lagi cinta yang bersemi di antara kami.

Malam itu, seperti biasa Ana tertidur dengan TV masih menyala, menunggu kepulanganku. Biasanya saya bangunkan dia untuk pindah. Tapi, malam itu, saya ajak dia bicara, mengutarakan maksud untuk bercerai.

"Kenapa?" tanyanya menahan amarah.

"Saya rasa kamu sudah tahu jawabannya?"

"Iya, tapi kenapa sekarang?"

"Karena saya tidak mau berpura-pura lagi."

"Beri aku waktu sebulan, setidaknya sampai Aya masuk SD."

"Kamu tidak perlu khawatir akan Aya, saya masih ayahnya dan Aya akan menjadi tanggungan saya."

"Kasih aku waktu sebulan, setelah itu terserah kamu..."  tangisnya mulai pecah.

Saya tinggalkan dia menangis di ruang tamu. Keputusan saya sudah bulat dan tangisan dari air matanya tidak akan mengubah apa pun. 

Suara alarm membangunkan tidur yang belum pulas, terdapat secarik kertas di atas meja. Kami memang sudah lama berpisah ranjang semenjak Aya masuk TK. Ana tidur bersama Aya sementara saya di kamar tamu, sebabnya kepulangan saya yang larut malam sering kali membuat Aya terbangun dan terjaga lalu jadi rewel.

"Apa maksudnya ini?" tanyaku padanya di dapur saat dia sedang menyiapkan sarapan untuk kami, saya dan Aya.

"Bukankah sudah tertulis dengan jelas? Aku hanya minta tiga hal selama sebulan sebelum kamu hemmmppp" ucapannya terhenti dan matanya melirik Aya, "Cerai ...." ucapnya tanpa suara takut Aya mendengar.

Tanpa ambil pusing, saya iyakan permintaannya akan tiga hal itu.

"Bisa dimulai hari ini?" tanyanya sambil tersenyum.

"Iya, semakin cepat semakin baik."

"Aya, mulai hari ini Ayah yang mengantarkan ke sekolah yah. Nanti siang Mami yang jemput. Setuju?"

"Horeee... Horee... Asyik..." histerisnya Aya sambil berlari dan lompat ke pangkuan saya.

Itulah hal pertama yang Ana minta selama sebulan untuk saya lakukan setiap harinya.


*


Hari Sabtu, Aya libur. Saya terbebas dari tugas mengantarkan dia ke sekolah. Kesempatan ini bisa saya manfaatkan untuk jemput Sasti dulu sebelum ke kantor.

Ketika hendak pergi, saat menutup pintu mobil, Aya kecil berlari, mengetuk jendela kaca mobil dan berkata, "Ayah, Ayah .... Ayah, lupa yah?"

"Lupa apa, sayang?"

"Ayah belum cium Aya sama Mami." celotehnya sambil menjulurkan lidah.

Dengan enggan saya turun dari mobil menghampiri Ana yang berdiri di depan pintu, Aya kecil mengikuti di belakang.

"Ayah pergi yah, hati-hati di rumah." Saya kecup kening Ana sekilas.

"Jagain Mami yah, jangan nakal! Ayah berangkat yah." kening dan pipi Aya saya cium sambil cubit kecil.

Mencium kening Aya dan Ana sebelum berangkat kerja merupakan hal kedua yang dia minta.


*


Nah, hal ketiga ini rupanya membuat Sasti agak geram. Saya ceritakan semua kejadian dan permintaan Ana agar perceraian dapat diproses dengan segera. 

"Konyol banget sih permintaannya!" ketus Sasti setelah membaca tulisan Ana.

"Ya, gimana lagi? Saya harus penuhi agar prosesnya bisa lancar. Kan ini juga demi kita."

"Yang pertama dan kedua oke lah! Tapi yang ketiga?? Kamu jadi ngga punya waktu untuk aku? Tiap pagi harus antar Aya dulu, pulang kerja langsung pulang! Kapan kamu ada waktunya untuk aku?"

"Saya ngga tahu harus gimana lagi selain memenuhi permintaannya. Ini kan cuma sebulan saja. Setelah itu waktu saya untuk kamu semua, sayang. Kamu tahu kan saya sayang sama kamu, hal seperti ini ngga akan merubah sayangnya saya sama kamu, Sasti cantik."

"Ya, terserah deh." ketusnya menangkis tangan saat akan saya rengkuh.

"Jangan begitu dong, Kangen nih."

"Sudah sana pulang, bentar lagi kan jam tidurnya Aya tuh!" 

"Iya, tapi saya masih kangen. Sabar yah. Nanti saya hubungi kamu malam kalau sempat!

"Ngga usah, deh. Kemarin juga ditungguin mana ngga nelepon. Sudah, sana! Gih, sana ... sanaa!"

Hal ketiga yang Ana minta yaitu membacakan dongeng sebelum tidur untuk Aya. Perkara yang cukup sulit sebab jam tidurnya jam 8 malam. Jam di mana saya menghabiskan waktu bersama Sasti. Pantas dia marah sekali dan keberatan mengenai permintaan Ana yang ketiga.
Berulang kali saya jelaskan pada Sasti bahwa semua ini saya lakukan demi dia, demi bersamaan kita, apa pun akan saya lakukan untuk selalu bersamanya.

Mengenai Ana? Ah, dia perempuan sederhana dengan pemikiran sederhana yang terkadang kesederhanaanya begitu merumitkan. Seperti permintaannya akan tiga hal yang harus saya lakukan, begitu sederhana sampai terkadang saya tidak habis pikir apa maunya Ana sebenarnya.

"Mana Aya?"

"Di kamar sudah menunggu. Hem ... Ayah?"

"Apa?"

"Cuci mukalah dulu, ganti bajunya. Mami temanin Aya dulu sambil nunggu Ayah."

"Iya"


Hubungan saya dengan Ana memang sudah lama dingin, hambar dan hampa. Tidak ada percikan, getaran, atau desiran dalam denyut nadi yang membuat rasa sayang itu penuh. Kosong. Hingga kehadiran Sastilah yang mengisi menjadi penuh.

"Hari ini cerita apa yah? Ayah bingung, udah abis dongengnya ...."

"Ayah, Ayah ...."

"Iya?"

"Cerita itu ayah, itu, cerita waktu Aya masih bayi aja. Maaaaamiiiii .... sini Ayah mau cerita Aya, Mammiii .... sini."

Malam itu adalah malam kedua puluh dua. Saya ceritakan pada Aya bagaimana Ayahnya ketakutan dan panik saat Ana akan melahirkan. Kejadian-kejadian menegangkan saat itu namun betapa konyol ketika diceritakan ulang. Tiba-tiba saja saya merasa penuh melihat binar bahagia Aya, tawa renyahnya menertawakan kelakuan Ayahnya, dan Ana .... ah, lama sekali rasanya tidak melihat tawa dia yang lepas. Bertumpu di bantal Hello Kitty Aya dalam lampu tidur temaram Ana terlihat cantik sekali, Ada damai menyelimuti ketika melihat pancaran wajah mereka.

Iya, malam kedua puluh dua kami bertiga tidur bersama. Kehangatan dan kenyamanan yang selama ini saya cari nyatanya ada di depan mata. Inilah keluarga saya, di mana saya sayang pada mereka berdua, Aya kecil yang mau masuk SD dan Ana tercinta. Kesederhanaannya menaklukkan segala kerumitan yang sebenarnya saya cari sendiri. Adalah dengan tiga hal sederhana Ana dapat membuat desiran dan percikan yang terpendam itu muncul kembali, membuncah.
Sasti? Ah ... di kepala dan hidup saya cuma ada Ana seorang.



***


Gambar dari sini

08 December 2015

Yang Tak Pernah Terselesaikan


"Bangsat! Punya otak ngga sih pakai motor! Bikin bahaya orang!"

"Yank?"

"APA?"

"Muaach ...."

Emosinya mereda, makiannya terhenti, dan kami pun tertawa bersama kepulan asap dari knalpot bis di hadapan kami.


"Aku tuh paling ngga suka kalau dibelakang bis gini! Mana susah lagi mau nyalip!".

"Yank?"

"Iyaaaa, muuaach juga!"

"Bukan ih!"

"Terus apa?"

"Aku sayang kamu."

"Hahahahaa, iya aku juga sayang kamu banget nget nget.", ucapnya dengan merapatkan gigi atas dan bawah.


Si dia memang pria yang kadar emosinya sudah jebol! Gampang banget terpancing emosinya. Pernah yah suatu kali kami sedang bicara serius, prihal topik apanya saya lupa, tapi sakin seriusnya kami ngobrol ditengah-tengah obrolan dia bilang gini,

"Bentar yah, aku keluar dulu." pamitnya sopan.

"Mau kemana? Aku belum selesai ngomong!"

"Itu berisik banget suara knalpot digerung-gerung gitu, kecakepan amat tuh orang, ngga nyadar apa ganggu orang, bikin polusi udara, polusi kuping, aku kan jadi ngga konsen denger kamu ngomong, bentar yah aku marahin dulu tuh orang."

"Muaacch ...."

Emosinya turun kembali, tidak meledak-ledak, tidak jadi ngedatangin dan marahin orang itu, dan pembicaraan kami pun tidak terselesaikan karena kami terlalu sibuk saling berciuman dan berpagutan.

Sebenarnya bukan hal yang sulit sih menghadapi dia. Walaupun emosinya mudah sekali meledak seperti gas 3 kg yang sering diberitakan di media, namun di sisi lain mudah pula untuk meredamnya. Semacam putri malu yang jika disentuh sedikit saja maka akan malu-maluin eh mengatup, menutup daunnya. Iya, ngga percaya? Jadi waktu itu saya pernah bikin salah, apa yah tepatnya lupa, kira-kira kejadiannya seperti ini ...

"Kamu ngebetein hari ini!", ucapnya ketus menatap lurus ke depan tanpa mengindahkan hadirku di depannya.

"Iya, maaf yah. Akunya lupa, akunya khilaf, akunya ngga nyadar, akunya gituin kamu, maaf yah."

"Kenapa kamu kaya gitu?""

"Iya aku gitu karena memang begitu, maksudnya ngga gitu tapi yah gitu lah.", ucapku sambil memelas, merayu, kutarik-tarik ujung lengan kemejanya, "Lihat apa sih? Segitu salahnya yah aku sampai ngga mau lihat aku?"

"Apaan sih gitu, gitu, gitu mulu.", protesnya sambil menahan senyum, "Ngga, ngga mau lihat muka kamu!" lanjutnya.

"Iya udah atuh yah, jangan marah, nih cubit aku kalau kesel.", kuarahkan tanganku kearahnya dengan sukarela sebagai pelampiasan kekesalan dia. Namun, rupanya gerakanku yang tiba-tiba mengagetkannya hingga tangannya menyenggol gelas kopi yang masih panas, dan tumpahannya jatuh secara membabi buta ke bawah meja yang mana terdapat pahaku.

Dan adegan selanjutnya adalah dia sibuk meminta maaf sambil mengambil lembaran tissue untuk membersihkan tumpahan kopi di celana saya. Terus kebeteannya? Loh, memangnya dia pernah bete sama saya yah???

Ah ha ha ha, memang banyak hal yang yang tak pernah terselesaikan saat bersamanya. Seperti tulisan ini pun saya bingung bagaimana menyelesaikannya. 

Ah, saya ada ide!

Bagaimana kalau biarkan saja tetap seperti ini, menjadi yang tak pernah terselesaikan.


***







Dalam Hujan

Dalam Hujan

Titisan air menitik terhembus angin. 

Dia tak takut jatuh, hilang atau menguap

tuk kembali kepada awan.



Sebab dia akan selalu kembali.



Seperti hujan, 

Kamu adalah titisan air yang melebat tiba-tiba, 

mengalir dalam anganku. 

Tak perlu takut jika angin 

melambungkanmu ke tempat lain 

sebab akan selalu kembali, 

bersamaku.



***

30 November 2015

Iga Bakar Madu






Malam tadi dia datang lagi, menjemput dan membawaku makan malam. Kami makan dalam diam, hanya suara denting sendok dan garpu beradu di piring dan samar-samar percakapan orang di meja sebelah. Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri, dia sibuk mengunyah iga bakar kesukaannya. Sudah berulang kali aku katakan padanya untuk tidak menghampiri dan menemui aku lagi. Semuanya harus segera diakhiri. Tetapi, malam tadi saat bersamanya ... melihat raut mukanya yang penuh bulir keringat akibat kepedasan, mendengar renyah canda tawanya ... aku merasakan luapan emosi. Aku menyerah atas nama ketidakberdayaan ... dan akhirnya aku memutuskan untuk memilih Iga Bakar Madu.

"Temanin aku makan, yuk!", ajaknya di suatu sore yang sedikit mendung. Gelapnya awan mulai menjatuhkan tetesan demi tetesan bulir air. Rasa lapar membuat kepalaku mengangguk, kujawab "Hayu!".

"Iga Bakar yah, mau?", tanyanya saat dalam perjalanan.

"Boleh."


Dua bulan namanya hadir dalam hidupku. Dua minggu perjalanan kisah hidupnya kuketahui. Ada sesuatu mengusik tentangnya yang membuatku penasaran. Rasa penasaran yang mengalahkan semua batasan-batasan dari aturan yang tidak tertulis. Gejolak perasaan memberanikan diri untuk melompat pagar yang bahkan seharusnya tidak boleh kusentuh.

"Sorry, barusan anak aku telepon. Sampai di mana tadi?", ucapnya lugas.

Kata-kata yang meluncur dari mulutnya terlalu lugas hingga ingin kuhiraukan. Tidak ada yang terselubung dan disembunyikan.

"Anak?" tanyaku mempertegas pernyataannya, "Namanya siapa? Umur berapa? Udah sekolah? Gimana kabarnya?", kuhujani dengan banyak pertanyaan untuk menutup kekikukan.


Tak pernah terbayangkan bahwa dia, pria gagah yang selalu renyah saat tertawa, yang selalu membuatku tertawa, yang begitu baik dan perhatian adalah seorang ayah, seorang suami. Pemilik dari hati seorang wanita yang sah. Entah apa yang telah merasuki hati dan pikiranku hingga selalu kuiyakan setiap ajakan makan malamnya, selalu kuangkat telepon darinya sampai kantuk menjelang, selalu kurindukan gelak tawanya, hangat peluknya, dan kecupannya. Selalu ingin bersamanya! Mengapa?

"Kalau aku ajak makan malam lagi, mau yah?" ujarnya setelah mengelap keringat diwajahnya.

"Ya, tergantung...." ucapku lirih.

"Tergantung apa?" tanyanya sambil memiringkan kepala, terlihat lucu di depanku.

"Kenapa harus aku yang menemani?"

"Karena kamu menyenangkan."

"Oh ..."

"Iya, serius!"


Aroma parfumnya masih melekat berbaur dengan aroma asap Iga selepas makan malam tadi. Meninggalkan resah yang menggelisahkan di relung hati hingga senyum selalu terkulum.
Senyum miris akan getirnya keadaan. Salahkah aku yang ingin bersamanya seutuhnya? Salahkah aku yang tak dapat mengendalikan perasaan?

"Nanti malam Iga Bakar, yuk?" ajaknya.

"Ngga ah."

"Loh kenapa? Udah lama ngga makan Iga. Kangen nih!"

"Kamu kan kangennya ama Iga Bakar. Ya makan aja sendiri!"

"Kan kamu tahu aku ngga suka makan sendiri. Kamu kenapa sih?"

"Udah lah, kamu mending nyari teman makan yang lain aja."

"Aku maunya kamu!"

"Tapi ... kenapa aku? Kamu itu suami orang ...."

"Ya terus?"

"Ya terus apa???? Emang kamu anggap aku ini apa???"

"Kamu pacar aku!"

"Kamu tuh!!!"


Hatiku pilu, nuraniku memberontak, perasaanku menggerogoti. Di dalam sana semuanya berbenturan dan menghimpit.

"Kenapa yah aku bisa sayang sama kamu?"

"Aku ngga tahu. Tapi aku ngga butuh sayang kamu."

"Aku ngga peduli."

"Aku yang peduli! Kamu itu bukan milik aku, kamu itu .... kamu tahu ngga sih perasaan aku? Posisi aku??"  

"Kamu cantik."

"Hah? Apa?"

"Kamu kalau marah gitu jadi tambah cantik."

"Aku lagi ngomong serius. Kenapa sih kamu ngga pernah berhenti becanda bentar aja."

"Karna aku ngga mau lihat muka kamu cemberut."

"Ya, jangan bikin aku cemberut dong!"

"Sini, aku cium dulu."


Begitulah setiap kali percikan muncul, dia selalu berhasil memadamkannya. Bodoh? Iya, aku membodohi diri sendiri akan kenyamanan yang dia tawarkan. Nyaman itu mahal tetapi dia selalu hadir dengan membawa rasa nyaman. Rasa yang selama ini kucari.

"Di sini kan terkenal Iga Bakar Madunya, kenapa kamu ngga pernah mau coba?"

"Karna aku masih bingung...."

"Pilih makanan aja bingung ...."

"Berisik ah!"

"Jadi, gimana? Mau yah aku pesenin Iga Bakar Madu, yah? Mau sampai kapan kamu menghindar terus? Masih kurang bukti apa lagi?"

Dihadapanku sekarang ada Iga Bakar Penyet dan Iga Bakar Madu. Menu yang aku pilih akan menentukan jalan hidup aku sekarang sampai entahlah hanya waktu yang pandai menjawabnya.

"Ayo, makan. Lapar nih! Pilih mau yang mana?" tanyanya santai sambil menyeringai.

Semalam, sebelum aku mengiyakan lagi ajakannya telah kuenyahkan segala bentuk protes dalam pikiranku terhadap sesuatu yang belum atau mungkin akan terjadi. Nyatanya aku tidak peduli lagi. Bendungan hati sudah membuncah. Terlalu lama mengikuti apa keinginan orang hingga kutepiskan apa yang menjadi inginku. Mungkin ini saatnya aku mengikuti apa kata hatiku sendiri. Mungkin ini salah, mungkin ... siapa yang tahu, siapa yang peduli.

"Keburu dingin Iganya ... kasian dia minta dimakan selagi panas!" ucapannya membuyarkan lamunanku.

Perlahan, tanganku memilih piring di sebelah kanan. Dia tersenyum, manis sekali. Kuambil Iga Bakar Madu.

"Selamat makan, sayang."


23 August 2015

Yonny dan Asti

Resah dilanda sepi mengarahkan aku kepada keramaian. Di tengah keramaian sepi semakin bersemayam, seperti menemukan rumahnya. 

Penat sebab tidak terbiasa dengan kerumuman akhirnya aku memutuskan minum segelas kopi dingin. Kopi dingin yang disajikan dalam gelas plastik yang tertera namamu. Seperti mengingatkan kembali siapa dirimu.

"Saya ulang yah, Caramel Frappuccino tall satu. Ada lagi?", tanya si barista.

"Itu saja, Mba."

"Atas nama?"

"Sasti."



Sengaja kupilih tempat di luar agar dapat menangkap pemandangan hiruk pikuk. Mencoba untuk menyatu dan peka kembali terhadap lingkungan. Ah, rasanya tadi dengan jelas kusebut namaku Sasti, mengapa tertulis Asti?

Menikmati sore dengan udara hangat, kuedarkan pandangan. Mataku tertuju pada pasangan berseragam di sana. Dua remaja pulang sekolah berpacaran di mall. Ah, kisah kasih di sekolah.
Ingatanku jadi melayang pada masa yang lalu, ketika masih memakai rok abu-abu.


*

"Sasti!", teriaknya sambil berlari kecil memeluk bola basket. Ujung rambutnya basah karena keringat.

"Ada surat untukmu." Kertas daur ulang dia keluarkan dari saku celananya, "Nih, maaf agak lecek dan kotor." Dia serahkan padaku sambil tersenyum kikuk. Menunggu.

"Aku harus baca sekarang?" tanyaku.

"Iya, Bowonya nungguin." tegasnya sambil sesekali melihat ke belakang.

"Bowonya mana?" tanyaku sambil ikut melihat arah matanya.

"Di kantin. Malu dia. Ayo, bacalah!" mintanya cepat-cepat.


Kubuka surat dari Bowo, mengulum senyum ...


 Ini cuma akal-akalan dia supaya bisa ngobrol.
Kalau mau, bilang kamu mau aku antar pulang!


"Terus?" desaknya.

"Bilang Bowo, aku tunggu di depan gerbang." Dia pun berbalik lari secepat kilat ke arah kantin, terdengar teriakan yes!

*

"Bowo mana?" tanyaku saat dia menghampiri dengan sepeda motornya.

"Aku saja yang antar kamu pulang, Bowo lupa ada jadwal latihan basket. Maaf yah, Bowo suka seenaknya. Yuk!" sambil menyerahkan helm.


*

"Makasih yah, Donny." kataku setelah sampai rumah.

"Besok aku antar pulang lagi mau, yah?" pintanya sambil garuk-garuk helm.

"Iya, mau." jawabku malu.

"Kalau jadi pacar aku, mau ngga?" tanyanya sambil melepaskan helm.

Pipiku langsung merona merah, tersipu malu. 

"Sasti, kamu suka Bowo yah?" ucapnya karena aku diam.

"Iya, suka." jawabku lirih.

"Oh ... sorry yah. Sorry banget."

"Bowo kan sepupu aku."

"Hah? Kampret! Eh, jadi?"

"Iya, besok antar aku pulang yah!"


*

Sungguh aneh tapi nyata tak kan terlupa
Kisah kasih disekolah
Dengan si dia
Tiada masa paling indah
Masa-masa disekolah
Tiada kisah paling indah
Kisah-kasih disekolah*


"Asti ... Asti yah?"

Lamunanku akan kisah masa lalu kembali membawaku ke masa ini saat namaku disebut. 

"Sendiri? Boleh saya duduk?"

Kupandangi orang asing didepanku. Kulihat minumannya tertulis Yonny.

"Silakan, Yonny."

"Oh bukan, saya sudah bilang tadi Donny pakai Y jadinya Yonny. Hahahaa. Donny!" mengulurkan tangannya.

"Sasti bukan Asti!" membalas uluran tangannya dan kami pun tertawa.


Begitulah dua gelas Yonny dan Asti bertemu membuat sepi enggan untuk tinggal, setidaknya untuk sore ini.



***


This sign should be read daily! #Coffee #Quotes #MrCoffee
Gambar dari sini 
*Lagu Kisah Kasih di Sekolah oleh Chrisye

22 August 2015

Sudah Dingin

Yuhu ....

Ketika sebagian besar orang menyapa dengan sapaan Apa Kabar, dia memilih menyapa dengan yuhu lengkap dengan empat titiknya ....

Ya, balasku singkat.

Sibuk kah?, tanyanya.

Ga juga, kenapa?, balasku lagi.

Lagi apa kah?, tanyanya membalas pertanyaanku.

Kenapa?, tegasku.

Iseng aja nyari teman ngobrol. Hehehe, balasnya beserta rangkaian stiker.

Kenapa?, tanyaku lagi.

Kok kenapa lagi? Kan iseng gw bilang.

Baru putus yah?, tembakku langsung.

Hahahahaaa, sialan. Kok tahu?, balasnya dan masih disertai rangkaian stiker.

Tahulah! Jadi, kenapa putus?


"Mas ...", terdengar pintu kamar diketuk.

Ah, nasi goreng pesanan sudah datang. Tadinya mau pamit bilang makan dulu tapi layar menunjukkan is writing something ... Wah, si yuhu sudah mulai sesi curhat. 
Lumayan juga kupikir berasa ada teman makan. Belum juga bungkus nasi goreng kubuka, pintu kamar diketuk.

"Ya ... Siapa?"

"Sasti!"

Waduh! "Bentar!" 

"Eh, Sasti! Apa kabar? Tumben main ke sini." tanyaku setelah pake celana panjang dan sedikit rapiin rambut.

"Mas, aku ganggu ngga nih?" tanyanya langsung masuk dan duduk di pinggir kasur sambil matanya menjelajah seisi ruangan 3x3M yang berserakan barang-barangku.

"Ah, ngga kok. Santai saja. Kenapa? Ada yang bisa dibantu?" ujarku menyakinkan sambil mengambil baju-baju dan barang-barang supaya tampak rapi sedikit dimatanya. Sementara itu bbm berbunyi terus. Nasi goreng sudah samar mengeluarkan kepulan asap.

"Mas, tahu kan cowok yang sering jemputin aku? Ya ya ya, yang itu, yang tinggi yang brewokan yang bawa mobil Rush, masa ngga pernah lihat. Kemarin tuh dia janji mau beliin aku tas terus dan bla bla bla bla ..... Mas, dengerin kan? Kenapa sih dia itu yah bla bla bla bla ....."

Yah, setidaknya itu yang terdengar di telingaku. Bbm masih berbunyi, perutku juga ikutan berbunyi, nasi goreng nan jauh di sana, tak tersentuh, sudah tak mengeluarkan asap.

"Sasti, sudah makan?" langsung kupotong dengan pertanyaan ketika suaranya mulai parau dan matanya agak sedikit berkaca-kaca. Lebih baik dia makan sesuatu daripada nanti nangis menghabiskan stok tissue.

"Hemmp, apa? Makan? Aku ngga selera, Mas ... Mana bisa aku makan abis diputusin gini! Aku lagi galau, Mas ... Mas ngerti kan aku tuh bla bla bla bla ........"

"Menurut Mas sih sebaiknya ...." potongku sambil mengambil hp.

"Ih, Mas kok jadi belain dia sih! Dia itu yah bla bla bla bla ......"



Kulirik layar hp, ada banyak yuhu .... yang artinya dalam percakapan ini PING!!!

Yuhu ....
Yuhu ....
Yuhu ....
Yuhu ....

Ya, menyimak kok :D, balasku di antara yang banyak.

Kirain tidur!, responnya langsung.

Kayanya kamu yang butuh tidur deh, ketikku ingin mengakhiri. 



"Mas! Kok mainan HP sih! Aku ngga didengerin!!!" 

"Eh, dengerin kok. Jadi akhirnya kalian putus! Ya ... ya udah istirahat gih!", ucapku ingin mengakhiri semua ini. Ah ... nasi gorengku.

"Istirahat?!? Mana bisalah aku istirahat sementara dia bla bla bla bla ....."

Layar HP masih is writing something ...


Mitos itu benar rupanya, ketika cewek patah hati, mereka cuma butuh didengarkan saja curhatan hatinya tanpa perlu dikomentarin. Jangan pernah mengomentarin apalagi so bijak nyuruh istirahat kan jadi panjang urusannya. Yah, malam ini akan jadi malam yang panjang. Sementara itu ...

Ya ... ya ... oh gitu ... ya ... ya .. hempp ....., sahutku pada Sasti dan si Yuhu sambil ngunyah nasi goreng yang sudah dingin.

Gambar dari sini

***


15 January 2015

Pelangi

 Kalau aku iya, bakal aku kejar kamu sampai dapat!

*

Gemeresik dedaunan tersapu angin menambah keheningan di antara kami. Tersibukkan dengan apa yang ada di dalam pikiran kami masing-masing. Aku tentang dia, kita. Dia tentang entahlah mungkin banyak hal dan sedikit aku. Tidak pernah berhasil menyelami apa yang ada di dalam pikirannya.

"Kok, kamu pendiam sekali hari ini?" tanyaku memecahkan sepi.
"Iya yah?" jawabnya sambil memandang satu titik jauh di sana. Menjauhkan aku darinya.
"Iya, tahu! Kamu kenapa?" rajukku, berusaha mencairkan kekakuan.
"Entahlah, banyak hal yang harus dipikirkan!" singkatnya, tanpa menoleh aku yang berada disampingnya.
"Apa tuh? Boleh tahu, ngga?" tanganku menggapai punggungnya, ingin kurengkuh tapi rasa enggan mendahului.
“Mending ngga usah tahu aja yah!” jawabnya sambil menoleh, tersenyum walau tipis.
“Karna aku kah?” masih berusaha menjangkaunya.
“Udahlah ngga penting. Ekspektasi aku aja yang ketinggian.” balasnya, enggan.
“Tentang apa? Karna aku kah? Aku bikin salah yah?” tanyaku sambil menatap matanya, tubuh kami berhadapan.
“Kan aku udah bilang ekspektasi aku yang ketinggian, bukan salah siapa-siapa. Makan yuk! Lapar nih …” suaranya semakin melembut, merajuk. Binaran matanya kembali bersinar.

*

Malam menjelang, kantuk masih belum mau bertamu. Iseng, lihat kontak nama di whatsapp tertera nama dia yang entah mengapa membuat jemariku mengetikkan,

Me : Yuhu …
Ternyata ada WA toh!

Rian : Hai .. hai
      Oh, baru tahu juga ada WA kamu.

Me : :)

Rasa iseng membawa kami mengenang masa yang lalu, rasa yang ketika itu terasa pahit namun saat diceritakan ulang membawa sebuncah perasaan membanggakan. Berhasil terlewati.

*

“Kamu sadar ngga? Kita kaya pacaran tapi ngga pacaran!” tanyanya pada suatu sore yang teramat gelap. Hujan sebentar lagi menyapa.

“Ngga ah! Kita ngga kaya pacaran kok!” tegasku padanya, pada benakku sendiri.

“Iya, bener! Bukan! Bukan pacaran tapi suami-istri.” jelasnya. Antara memperjelas atau mempertanyakan.

“Hah? Suami-istri? Suami-istri gimana maksudnya?

*

Terbangun oleh suara alarm, memborbadir gendang telinga hingga menyisakan nyeri di kepala.

“Rian, itu alarm kamu?” tanyaku setelah menekan tombol dismiss.

“Hemp iya …” setengah sadar dia menjawab.

“Gila, alarm ribut gitu kamu ngga kebangun!”

“Riannn! … bangun!! Kuliah!!!”

“Berisik, bawel!”

*

Tercium aroma kopi pekat ketika kami melangkah ke sebuah coffee shop. Interior yang sengaja didesain dan memberikan suasana feels like home lengkap dengan furniture yang terasa hommy. Tanpa melihat menu, kami berdua tahu akan memesan minuman apa.

“Sebenarnya aku agak terganggu dengan istilah feels like home ini, loh!” ujarku.

“Kok bisa? Kenapa?”

“Yah, kita kan mau ngopi, makan, atau nginap di luar. Tujuannya adalah keluar dari rumah. Eh, ternyata malah dikasih suasana kaya di rumah. Gagal dong! Buat apa keluar kalau toh sama saja kaya di rumah.”

“Baru dengar statement kaya gitu, masuk akal penjelasannya. Tapi, aku punya pengertian lain tentang rumah.”

“Jelas masuk akal. Pengertian yang bagaimana?”

“Dulu aku berpikir, istilah rumah berbentuk, beratap, bertembok, berlantai yang dapat melindungi penghuninya dari panas, dingin, apa pun itu. Sekarang, rumah hanyalah metafor dari seseorang yang menyambut aku pulang kerja, memberikan kenyamanan dan keamanan.”


*

Rian : Besok abis kuliah ke mana?
Me : Pulang paling, kenapa?
Rian : Ngopi yuk!
Me : Yuk!

Sejam kemudian di atas meja sudah ada satu cangkir Americano, satu gelas iced thai tea, satu piring chicken wings, satu nasi putih, dan satu Caesar salad.

“Kamu suka merhatiin orang-orang ngga kalau lagi makan?” tanyanya sambil mengunyah sayap ayam dan tak ketinggalan nasi putih.

“Tergantung ….”

“Apa yang biasanya kamu perhatiin?”

“Penampilan dan tingkah laku sih biasanya.”

“Seperti?”

“Tuh, lihat cewek yang di pojok … dilihat dari penampilannya yang dress up dia pasti menyempatkan diri untuk dandan dan berganti baju. Sementara si cowok dengan kemeja terbuka sampai dua kancing gitu pasti baru pulang kerja.”

“Oh, profiling.”

“Iya begitulah.”

“Menurut kamu mereka pasangan, bukan?”

“Kayanya sih dalam tahap penjajakan. Si cewek tampak agak salah tingkah setiap si cowok mencodongkan dan menatap si cewek.”

“Hemmmp … kamu sadar ngga kalau orang masih pacaran biasanya mereka duduk bersebrangan. Beda halnya kalau suami istri, mereka duduk berdampingan.”

“Masa sih? Ngga ngeh dengan pola seperti itu, tuh!”

“Coba aja perhatiin! Orang-orang mungkin menganggap kita suami-istri.”

Dan entah mengapa setiap kami makan di luar, posisi duduk aku selalu berada di sampingnya.

*

Menjalani hubungan dengannya seakan menghadirkan pelangi dalam hidupku. Pelangi tidak selalu terlihat saat hujan mereda Terkadang hujan turun begitu derasnya hingga mengenyahkan segala rasa di dalam hati. Namun, hujan rintik-rintik menghadirkan rasa baru dari yang sudah ada. Dan pelangi memberikan pantulan cahaya dari senyummu, gambarkan indahnya dirimu. Walau jarang terlihat atau mungkin enggan dilihat.

Hati bukanlah sekedar soal rasa namun kemampuan menyerap dan menyimpan bagaimana caranya untuk merasa. Dan aku masih meraba-raba akan kehadiranmu dalam ruang hati apabila nanti pelangi tidak akan pernah muncul lagi.

“Hei, kok ngelamun?” sikutnya menyenggol lenganku.

“Hehehe ….” tersenyum padanya sambil menggelengkan kepalaku, mengenyahkan pikiran berkecamuk.
"Jadi kamu iya apa ngga?"

Hujan mereda, kali ini pelangi tak muncul. Mungkinkah sebuah pertanda?
Seandainya saja kilau pelangi memantulkan cahayanya, walau samar ... seandainya ... 
Menghabiskan waktu bersamamu adalah sebuah keindahan. Mengenal dirimu mewarnai hari-hariku. Semuanya terasa nyaris sempurna, sayang untuk mengakhirinya.

Seandainya pelangi muncul sore ini ...

Foto dari sini

***

02 May 2014

Dongeng Sebelum Tidur, Sungai

"Mama, Aya pengin ketemu bidadari!" serunya ketika pulang sekolah.
"Kenapa Aya pengin ketemu bidadari?" tanyaku.
"Tadi Bu Guru cerita bidadari, katanya cantik sekali terus, terus selendangnya dicuri sama siapa sih, Mah? Laki-laki." ujarnya terbata-bata. 
"Jaka Tarub." jawabku.
"Iya, Mah. Jaka Tarub curi selendang bidadari, bidadarinya banyak ada tujuh mandinya di sungai, selendang dicuri satu bidadari ngga bisa pulang jadinya." ceritanya penuh semangat.
"Terus ...." tanyaku penasaran.
"Menikah, bidadari sama Jaka Tarub. Ada anaknya, cantik sekali. Terus, terus ketahuan dicuri-"
"Apa yang ketahuan?"
"Itu, Mah si Jakanya ketahuan curi selendang, bidadarinya marah terus pergi pulang ke langit."
"Oh, gitu? Terus anaknya gimana?"
"Hmpph di bawa juga ke langit. Bidadarinya sekarang kumpul, lengkap sama anaknya di sana." katanya sambil nunjuk ke atas.
"Jakanya gimana? Sendirian di bumi dong, kasian."
"Biar tahu rasa, Mah. Kan Tuhan bilang curi itu dosa, iya kan, Mah?"
"Terus, kenapa Aya pengin ketemu bidadari?"
"Aya pengin lihat cantiknya, sama anaknya bidadari. Mah, kenapa bidadari ngga mandi di sungai lagi?"

Kataku, "Aya pengin tahu?"
"Iya, Mah!"
"Nanti Mama ceritakan sebelum tidur yah. Sekarang Aya ngerjain peer dulu."

*

"Mah, Ayo cerita bidadari." rengeknya menjelang malam.
"Ayo, gosok gigi dulu, cuci tangan sama kakinya. Pakai piyamanya nanti Mama ceritain di kamar."

Belum juga selesai kalimatku, dia sudah lari ke kamar mandi. Chaya kecil selalu semangat bila mendengarkan orang bercerita. 

"Mamah, Aya sudah di kamar."

Lampu kamar aku matikan, hanya lampu tidur dengan hiasan kuda laut yang menerangi kamarnya. Kurebahkan diriku disamping tubuh gadis mungilnya, kuselimuti, kubetulkan posisi bantalnya agar dia merasa nyaman. Kurengkuh tubuhnya dalam pelukanku sambil menggengam jemarinya, mengepal, "Berdoa dulu yah".

Tuhan, terima kasih sudah menemani Aya sepanjang hari di sekolah, selamat sampai rumah, terima kasih atas nikmat yang diberikan. Tuhan, Aya mau bobo jaga Aya supaya tidak mimpi buruk.

AMIN.

"Sudah siap?" tanyaku.
"Siap!"
"Sekarang, dengarkan cerita Mama yah?"
"Iya."

Bidadari yang selendangnya dicuri Jaka Tarub itu namanya Nawangwulan. 

"Nawangwulan ...." potongnya berbisik sambil mengingat.

Ketika Nawangwulan tahu bahwa pencuri selendangnya itu adalah suaminya, Jaka Tarub dia merasa kecewa. Sambil membawa anaknya, Nawangsih.

"Nawangsih ...." lirihnya.

Mereka pergi ke khayangan, tempat bidadari berasal. Sebelum pergi, Nawangwulan berpamitan dulu karena biar pun merasa kecewa Jaka Tarub tetaplah suaminya, Ayah dari siapa namanya?

"Nawangsih ...." jawabnya.

Jaka Tarub menyesali perbuatan, setiap hari menjelang sore dia pasti pergi ke sungai tempat para bidadari biasa mandi. Bukan untuk mencuri selendang tapi supaya bisa melihat Nawangwulan, istrinya dan anaknya. Para bidadari selalu mandi di sungai yang terkenal dengan kejernihannya di desa itu, tapi mereka bukan Nawangwulan. Jaka Tarub sering menanyakan kepada mereka, "Ke mana Nawangwulan? Mengapa tidak ikut mandi bersama?". Bidadari yang tahu bahwa Jaka Tarub si pencuri selendang ketakutan dan segera pergi kembali ke khayangan. Penduduk desa mulai khawatir karena Jaka Tarub semakin kurus, sering ngelamun, dan bicara sendiri di pinggir sungai. Sampai akhirnya Jaka Tarub menghilang.

Ada yang bilang Jaka Tarub tenggelam, ada yang bilang dibawa bidadari ke khayangan, ada yang bilang dimakan buaya sungai, pokoknya macam-macam, dan tidak ada yang tahu ke mana Jaka Tarub hilang.

"Jaka Tarubnya hilang, Mah? Ke mana?" tanya penasaran.
"Dengarkan dulu."

Ketua desa mulai resah, mengumpulkan warga desa untuk mencari ke mana Jaka Tarub pergi. Setiap orang menyusuri sungai dari pagi hingga malam. Nah, saat menjelang sore itu mereka melihat para bidadari turun satu persatu dari khayangan untuk mandi di sungai. Para bidadari kaget karena banyak orang di sungai dan ketakutan selendangnya akan dicuri jadi mereka tidak jadi mandi di situ dan pergi kembali ke khayangan.

Warga melaporkan kejadian itu kepada ketua desa, 

"Semua ini perbuatan bidadari, Pak Kades!" seru lelaki yang berbadan besar.

"Saya lihat dengan mata kepala sendiri, bidadari itu pasti pelakunya!" kata lelaki yang kulitnya hitam, terbakar matahari.

"Kita harus menangkap semua bidadari sebelum ada warga yang hilang lagi!" teriak lelaki yang berkumis.

"Bagaimana cara menangkap bidadari yang bisa terbang?" tanya Pak Kades.

"Pakai Jaring!"

"Pasang perangkap!"

"Pak Kades, setiap sore bidadari-bidadari itu pasti mandi di sungai. Kita kotori saja sungainya biar mereka ngga bisa mandi lagi di sungai kita!"

"Tapi ...." Pak Kades ragu.

"Kotorkan sungai kita! Kotorkan sungai kita! Tolak bidadari! Kotorkan sungai!" seru warga.

Setelah selesai rapat, warga desa pun berduyung-duyung membuang segala macam sampah ke sungai yang airnya mulai kecoklatan. Menjelang sore, bidadari yang melihat air sungai menjadi coklat pun pergi mencari sungai jernih lainnya untuk mandi.

Warga desa pun merasa senang dan lega karena tidak akan ada bidadari yang mandi dan menganggu sungai desa itu. Kabar pun tersiar ke banyak desa bahwa sungai harus dikotori supaya tidak ada bidadari penggangu yang berani mandi di sungai.

Begitulah seterusnya, para bidadari turun dari khayangan mencari sungai jernih untuk mandi. Namun, berita sudah menyebar, semua penduduk di desa-desa membuang sampahnya di sungai. Tidak ada lagi sungai jernih tempat para bidadari mandi sampai sekarang.

Terdengar dengkuran halus, rupanya dia sudah terlelap. Kucium keningnya sambil berbisik, "Selamat tidur, bidadari kecilku."

***

Gambar dari sini