Showing posts with label Pernak-pernik Harian. Show all posts
Showing posts with label Pernak-pernik Harian. Show all posts

09 February 2018

Akhirnya Eva Nikah!

Menikah!

Ha ha ha. 

Iya, tak disangka tak terbayang dan tak diduga ternyata tahun 2017 akhirnya saya menikah. Bohong deng! Sejujurnya sih menikah sudah menjadi angan-angan sejak usia masih belia (ulang BELIA). Ketika itu target menikah di usia 25 tahun. Namun, apa daya lilin yang tertiup hingga umur 29 tahun pun masih menyandang status belum menikah di KTP yang sampai saat ini blankonya e-ktp masih kosong di kantor kelurahan. Ngebet ingin menikah datang bukan karena tekanan dari keluarga tetapi dari kanan-kiri alias teman seperjuangan yang sudah menikah (bahkan ada yang sudah menikah dua kali) kemudian melahirkan anak pertama, anak kedua dan saya iya masih single aja tuh. 

Dulu, sempat terucap dengan teman SMA (cowok pastinya) yang sama-sama masih single begini ...

"Va, Lu kan ada cowok kenapa ngga nikah aja sih?"

"Emang Lu pikir asal ada cowok bisa langsung nikah, nah Lu sendiri napa ngga kawinin aja pacar Lu?"

"Maunya sih begitu cuma nyokap Gw ngga setuju, maklum janda. Pengennya sih yang masih single, orang Jawa, mandiri, dan baik ya kaya Lu gitulah."

"Hemmp ... emang cari orang kaya Gw itu susah sih. Ha ha ha ...." (ketawa ngambang karena mendadak salah tingkah).

"Gimana kalau nanti pas umur kita 32 masih belum nikah juga, kita nikah aja, nyok?"

"Idih, mana ada yang kaya gitu. Ogah ah Gw kawin ama Lu!"

"Loh kenapa?"

"Ogah aja!" (tapi kemudian jadi merenung dan membayangkan ...)


Percakapan itu terjadi saat umur kita masih 30, sama-sama memiliki pasangan yang kebetulan tidak disetujui oleh orang tua. Ah iya, satu lagi kelupaan ... sama-sama pernah mengalami yang namanya hampir menikah alias gagal nikah. Hi hi hi <- ketawa miris (diperjelas!)


Angan-angan menikah pun tidak lagi menjadi harapan utama dan kemudian melebur terhembus bersama tiupan lilin ke 31 dengan status masih single. Single di sini dalam artian punya pacar (perlu banget dijelasin, gini-gini juga laku loh!). Intinya menikah sudah bukan lagi harapan utama.
Dan siapa yang dapat menyangka coba? Saya sendiri saja masih terheran-heran kalau akhirnya saya menikah tepat di usia 32 tahun lebih sehari. Jadi, tetap saja pas tiup lilin ke 32 statusnya masih single. Ha ha ha.
Eh, tapi tapi tapi kan yang patut digarisbawahi adalah akhirnya eva nikah juga!

Hah? Apa?
Oh bukan, saya bukan menikah dengan teman SMA itu. Kan udah dibilang tadi ogah nikah sama dia walaupun sempat terbersit juga sih.

Nih, perkenalkan suami saya

GEVA
Age & Eva



Boleh dibilang acara menikah ini dadakan dan super cepat. Persiapannya cuma seminggu saja. Kebetulan yang serba kebetulan karena adanya campur tangan Tuhan semua jalan proses menujunya dimudahkan, diperlancar, dan semua aman terkendali sampai the day.



Sah? Sah!

Bukannya kami tidak mau pesta besar-besaran mewah mengundang banyak orang, bukan! Ya siapa sih yang ngga mau dibikinin pesta mewah untuk momen sekali seumur hidup macam Rafi Ahmad yang rangkaian acara pernikahannya diputar hampir di semua stasiun televisi. Terus duitnya darimana? Hi hi hi.
Balik lagi lah sama kemampuan dompet sendiri, budget kami yang super duper minim ini bagaimana pun caranya harus bisa membuat momen seumur hidup ini berkesan. 
Yang terutama adalah kesakralan dari pernikahan itu sendiri kemudian disambung dengan makan-makan bersama keluarga dan sahabat tercinta. 
Lebih intim, bisa makan enak, bisa santai ngobrol sambil ngopi, sambil foto-foto. Ngga ribet harus salaman dengan banyak orang. He he he.



Family 


Best Friends

GEVA



Jadi .... iyeay!
AKHIRNYA EVA NIKAH!



***

30 August 2017

SEMUA BAIK





Dari Semula
Tlah Kau Tetapkan
Hidupku dalam TanganMu
dalam RencanaMu Tuhan

Rencana Indah
Tlah Kau Siapkan
Bagi masa Depanku
Yang Penuh Harapan

Semua Baik 2x
Apa yg Tlah Kau Perbuat
di dalam Hidupku

Semua Baik
Sungguh teramat Baik
Kau jadikan Hidupku berarti




Lirik lagu rohani di atas merupakan lagu yang mengiringi langkah kaki kami berdua memasuki altar. Sengaja saya memilihnya sebab lirik di dalamnya adalah apa yang saya alami. Sebab saya percaya dari semula telah ditetapkan bahwa hidup saya ada dalam rencana Tuhan. #mendadakreligius

Ha ha ha, serius!
Kalau bukan karena gagal menikah, putus asa, ngga mungkin saya kerja di kantor sepupu, dan ngga mungkin juga saya ketemu seseorang yang sekarang statusnya sudah sah menjadi suami. Semua itu sudah dalam rencanaNya, cuma terkadang ya kita eh sayanya saja yang tidak sabar.

Padahal, usut punya usut dulu sama sekali tidak pernah berani membayangkan bahwa saya akan menikah dengannya. Lagi-lagi saya dihadapkan dengan masalah perbedaan. Perbedaan yang begitu besar serasa menjadi jurang pemisah dan tembok penghalang untuk melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius.

"Nikah yuk?", tanyanya dikala kami sedang bercengkrama.
"Hempp ...", jawab saya seperti biasa, dingin.

Si Coklat

Oktober 2015, kami dipertemukan dalam sebuah ruang kerja di mana dia memandang sebelah mata seorang anak baru yang masih sepupu atasannya.

Kopi dan Rokok


Selayaknya asap yang menyatu dengan angin, kekakuan melebur dalam segelas kopi dingin yang menjadikannya hangat dalam setiap tema pembicaraan. Kepulan asap meruntuhkan dinding kekikukan, terbang bersama canda tawa yang masih malu-malu.


GeVa

Tanpa sadar kami tiba-tiba saja begitu dekat, saling mengagumi dan memahami satu sama lain. Saya selalu terpesona setiap melihat dan mendengar suaranya di atas panggung.

Dua tahun kami menjalani hubungan tanpa pernah merencanakan untuk ke tingkat yang lebih tinggi seperti menikah. Walaupun kerap kali dia ingin menikahi saya.

Siapa yang menyangka menjalani tahun ketiga tepatnya pada Juni 2017 kami menikah.
Ha ha ha. Percayalah, saya pun kadang masih terheran-heran kok bisa yah?
Sebab jawabannya cuma satu, itulah cara Tuhan bekerja.
Dari semula sudah ditetapkan jalan hidup kita, tidak usah takut dan bimbang karena Tuhan sudah menyiapkan yang terbaik untuk kita masing-masing dan semuanya pasti baik.

Jadi yang masih menunggu, menunggulah terus, bersabarlah jangan pernah berhenti untuk terus berharap! Ha ha ha, cie sekarang bisa deh ngomong begini. 

Semangat lah terus mencari pasangan hidup, my beloved friends!


***








19 December 2016

Kura-Kura dalam Tempurung

Foto dari sini


Kura-kura adalah jenis reptil yang memiliki tempurung kokoh sebagai rumah dan pelindung dari predator. Ketahanan tubuhnya kuat mungkin karena habitatnya dapat hidup di darat dan air, jenis omnivora, pemakan tumbuhan dan campuran. Kalau kamu ingin mengetahui lebih dalam tentang kura-kura berarti kamu salah blog. Saya ngga tahu apa-apa tentang kura-kura. He he he

Lain halnya dengan kura-kura dalam tempurung yang sudah lama ingin saya bahas di sini, di blog ini. Kamu masih penasaran sama kura-kura? Pindah blog gih.

Banyak kejadian yang begitu bikin gemesnya ingin saya tuliskan di sini, tapi kok yah setelah sampai pada penutup, emosi sudah tenang, dibaca ulang, ngga jadi lah dihapus saja. Saya percaya tulisan yang bagus serta inspiratif adalah tulisan yang ditulis dengan kesadaran penuh si penulis bukan karena emosi semata. Tulisan yang saya maksud adalah artikel atau berita dan sejenisnya yah. Bukan sekedar tulisan status di sosial media yang isinya share berita ini, berita itu, yang sumbernya pun masih dipertanyakan, atau berisi kata-kata kasar seperti bajing pakai akhiran an.

Ya, itulah kemajuan teknologi, di mana informasi dapat dengan mudah diakses hanya dengan klik sini, klik sana, ketika dirasa atau ya mungkin sedikit dipikir bagus tinggal klik share di sini, share di sana. Saya yakin malah beberapa di antaranya belum benar-benar membaca isi kontennya cuma baca judulnya yang dibuat spetakuler mungkin!

Eh, bentar .... oh iya, saya tuh mau bahas kura-kura dalam tempurung kok malah nyindir sih?! Memangnya kamu ke sindir?

Tapi ini masih berhubungan kok sebenarnya, ketika ada yang gila teramat gila dengan teknologi dan selalu berusaha menjadi yang terupdate ... ada pula yang sepertinya tidak peduli atau tidak mau peduli. Begitu asyik dengan dunianya sendiri tanpa mau melirik ke kanan atau ke kiri, begitu merasa pintarnya tanpa harus mendengarkan dari ngana dan nganu, begitu merasa hebatnya hingga tidak peduli akan fakta-fakta yang diberikan. Asyik dalam tempurungnya sendiri.

Contoh yah, saya kasih contoh yang terjadi di kehidupan saya sendiri ngga perlu lah ambil contoh yang hampir semua media menuliskannya, entah media terpercaya, entah media diperdaya. Kejauhan, ketinggian, level pemikiran saya masih jauh dibawah lah.

Sekilas info, saya suka menonton acara Net TV karena program acaranya menarik, tidak biasa, lain dari yang lain, selalu baru, dan seru! Salah satunya adalah Ok Jek, sitkom komedi dikemas dengan bahasa dan konflik sehari-hari. Setelah Kesempurnaan Cinta tamat, lahirlah sitkom baru tentang di balik layar pembuatan sinetron judulnya Drama Queen. Drama Queen inilah menjadi drama tersendiri bagi saya soal kura-kura tempurung.

Begini ceritanya ...

"Itu cewek yang main di Ok Jek yah?" tanya saya sambil menunjuk layar tv yang menampilkan pemeran Ceu Mar Drama Queen.

"Iya!" jawabnya tegas dan percaya diri.

"Ah, masa? Tapi asa beda yah?" tanya saya agak ragu, sambil mengetikkan sesuatu di hp.
(Saya cek instagramnya Net Tv, mencari tentang pemeran Ceu Mar Drama Queen dan pemeran Selly di Ok Jek)

"Sama ah, kamu tuh suka begitu! Itu kan Lia Waode." jawabnya lebih menyakinkan lagi.

"Siapa? Lia Waode?" tanya saya untuk memastikan memang benar adanya bahwa yang memerankan Ceu Mar adalah Lia Waode.

"LIA WAODE!" ujarnya dengan lantang.

"Lia Waode itu yang ini!" jari saya menunjuk ke layar yang masih menyiarkan Drama Queen, "kalau yang di Ok Jek itu Chika Waode."

"Ya itu sama saja, satu orang. Waode, mau Lia kek mau Chika Kek, sama aja kan dulu suka main lenong bocah. Masa ngga tahu?" hardiknya

"Bukan ih, itu mereka kakak adik. Sama-sama main di lenong bocah! Beda orang tahu" protes saya.
(Sengaja saya mencari foto mereka berdua lalu disandingkan sebagai pembuktian).



Sumber dari Google


"Nih lihat nih, beda kan?" saya tunjukkan foto ini kepadanya, "Chika itu kakaknya, ada gingsulnya. Lia adiknya, ngga ada gingsul." ujar saya.

"Ah, itu beda angle foto doang. Mereka adalah orang yang sama Lia Waode." ucapnya tetap pada pendiriannya bahwa ini adalah orang yang sama.


" ... " (Saya diam tidak menimpali sebab sedang mencari akun Ig nya Lia Waode dan Chika Waode)

"Udah kalah mah udah aja atuh, yuk sini nonton lagi!" rayunya.

"Bentar! Bentar, nih lihat ...."

Saya perlihatkan akun Ig mereka berdua sambil menjelaskan bahwa Lia suaminya orang Bule anaknya perempuan tuh suka posting berdua mereka. Ignya Lia penuh dengan foto anaknya sama syuting Drama Queen. Sedangkan Chika nikahnya sama orang Indonesia dan anaknya laki-laki, Ignya juga penuh sama postingan para pemain Ok Jek. So?


"Ah, bisa saja itu dia bikin double akun!"

Grgrgrgr!



*



Ini baru contoh sebuah kasus (kecil) persoalan bahwa Lia Waode dan Chika Waode adalah orang yang berbeda. Perlu fakta untuk membuktikannya.
Mengutip sebuah dialog dalam Film Could Atlas, 
"Truth is singular. Its 'versions' are mistruth".
Fakta kebenaran itu satu, jika ada banyak versinya maka itu bukan lagi kebenaran.
Bayangkan sebuah kasus besar yang menyangkut banyak hidup orang. 
Ketika fakta yang disuguhkan begitu jelas dan benar tapi banyak yang masih menutup indra mereka.
Akhir kata saya cuma mau bilang,
Hey, keluar dari tempurungmu kura-kura!

26 April 2016

Perjalanan Menuju Wisuda


Wisuda ... wisuda ... yeaaayyy akhirnya di wisuda!!! Hore!

Wisuda juga yah akhirnya, sebuah momen yang sudah saya nantikan hampir setahun lalu. Wisuda saya maknai sebagai suatu perayaan dari puncak pencapaian rangkaian kegiatan masa studi. Tidak semua orang memiliki makna wisuda sekata dengan saya. Tapi, biarlah wong yang kuliah dan akhirnya diwisuda kan saya. He he he.

Hanya dua tahun memang masa studi pascasarjana, cukup singkat. Namun, banyak pengalaman yang saya petik dalam dua tahun terakhir. Mencoba mengemasnya dalam sebuah tulisan perjalanan menuju wisuda.



2013

Masa-masa matrikulasi seminggu penuh dan diakhiri dengan field trip ke Kawah Putih, Ciwidey. Field trip pertama dengan dua puluh orang asing :))



Outbound di Kawah Putih


Angkatan Pascasarjana 2013 (formasi lengkap)


Inilah kami, bergaya :D


Ciwidey

Matrikulasi selesai, tiba saatnya untuk duduk di bangku kuliah (lagi). Jadwal kuliah hanya dua hari dalam seminggu namun cukup padat dari pagi hingga sore cukup menyita banyak waktu. Perlahan mulai berguguran hingga akhirnya kami angkatan pascasarjana 2013 hanya berjumlah delapan belas orang yang saya tulis mengenai mereka di sini.


Setiap akhir semester, kampus mengadakan field trip. Akhir semester satu, kami field trip ke Pulau Dewata, Bali.
Perjalanan ke Bali memang bukan pengalaman pertama, akan tetapi selalu saja ada hal seru yang ditemui. 


Bali

Demi melihat lumba-lumba, sedari pagi buta kami sudah bersiap. Menaiki perahu kecil yang pas dengan ukuran pantat menuju tengah laut. Perjalanan memakan waktu hampir satu jam lebih, terombang-ambing di lautan lepas dan masih belum melihat penampakan hidung lumba-lumba. Kembali ke hotel tanpa hasil dan menyisakan pusing serta mual. Ah iya, sakin terlalu semangatnya mau lihat lumba-lumba lupa kalau saya mabuk laut. :P



Pulau Lovina, Bali

Bali

2014

Memasuki semestar dua banyak agenda pascasarjana, mulai dari menjadi panitia seminar, studi banding, dua kali field trip, dan pemilihan konsentrasi jurusan yang berakibat pada mulai menyusun latar belakang Bab I untuk tesis nanti. Huahahahaaahhahihihihuhuhuu...



Kuliah pertama di awal tahun 2014

Tour Filipina-Singapura menjadi destinasi field trip pascasarajana di akhir semester dua. Bodo amat mau kampungan juga tapi jujur ini adalah pengalaman pertama saya ke luar negeri. Hi hi hi. Jadi, dari awal semester saya sudah mempersiapkan bikin passport yang kebetulan entah mengapa repot banget dan tidak semudah yang orang-orang bilang. Ngga percaya, nih baca ini.

Rizal Park, Manila

Sebetulnya sensasi tour keluar negeri tidak begitu kentara oleh sebab Filipina begitu mirip dengan Indonesia. Ya, secara masih dalam satu golongan Asia Tenggara. Baik wajah penduduk lokalnya, kulinernya, dan bangunan perkotaaannya. Begitu familiar.

Salah satu jadwal tour kami, studi banding ke Imus Institute yang merupakan sekolah tinggi tertua di Filipina. 

File:Imusjf0564 07.JPG
Gerbang Imus Institute

Imus Institute, Manila

Sebagai negara bekas jajahan Spanyol maka tak heran jika hampir 80% penduduk Filipina beragama Katolik. Salah satu agenda city tour pascasarjana adalah mengunjungi Gereja-gereja Katolik di Manila. Katedral San Agustin adalah Gereja Katolik Roma tertua yang dibangun dari tahun 1571. Daya tarik dari gereja ini terletak dari bangunan arsitekturnya yang megah dan efek tiga dimensi pada langit-langitnya. Berada di dalam sana, tak henti-hentinya saya berdecak kagum melihat struktur bangunan, patung, lukisan, interiornya. Ah, sungguh menyejukkan hati.

Foto diambil dari sini

Gereja Katedral San Agustin, Manila

Fakta menarik mengenai Filipina adalah seorang The First Lady yang memiliki sekitar 3000 pasang sepatu. Imelda Marcos yang mendampingi suaminya menjabat sebagai Presiden Filipina dari 1965-1986. Ditengah pergolakan politik yang terjadi pada saat itu, keluarga Marcos meninggalkan sebagian barang-barang mewahnya termasuk koleksi sepatu Imelda. Dibawah pemerintahan yang sekarang berjalan, koleksi sepatu mantan Ibu Negara pun dipajang dan dijadikan museum sepatu di Istana Negara sebagai bagian dari daya tarik wisata Filipina


Museum Sepatu Imelda Marcos. Foto diambil dari sini
Di sela-sela (ngga terlalu) padatnya kuliah, kami sebagai mahasiswa pascasarjana diwajibkan untuk membuat acara seminar nasional. Ini salah satu foto panitianya. Mengenai acaranya sendiri maaf yah foto tiba-tiba hilang entah di mana.


Panitia Event Seminar
Menyusun suatu latar belakang nyatanya tidak semudah yang saya kira. Ini entah sudah berapa kali saya ngafe untuk mendapatkan ilham dan mengerjakan hasil revisian dari Bab I.


Thai Tea dan Bab I, Rumah Kopi
Menjelang akhir tahun, kami field trip lagi ke Pulau Belitung. Hi hi hi. Asyik, jalan-jalan lagi :)
Yang membuat saya amat sangat senang adalah karena Belitung merupakan tempat lokasi syuting dari Film Laskar Pelangi dan terdapat Museum Kata Andrea Hirata, salah satu penulis favorit.

Kami di Belitung

Beach Girls, Belitung

Belitung

Pantai Tanjung Tinggi, Lokasi Syuting Laskar Pelangi, Belitung

Museum Kata Andrea Hirata, Belitung

Replika Sekolah Dasar Film Laskar Pelangi, Belitung


Pengalaman yang sungguh luar biasa dapat melihat langsung lokasi Film Laskar Pelangi. Kebetulan memang saya suka membaca Novelnya dan melihat Filmnya. 
Tidak bisa dipungkiri memang boomingnya Film Laskar Pelangi mendongkrak popularitas Pulau Belitung. Sudah pada nonton Film Laskar Pelangi kan?
Keindahan dan pesona pemandangan pantai menarik banyak turis untuk datang ke Pulau Belitung. Dalam hal ekonomi sangat baik karena menaikkan pendapatan Pulau Belitung. Namun, dari sisi lingkungan dan infrastruktur, pemerintah daerah terlihat kewalahan dan belum siap menghadapi turis yang jumlahnya semakin membludak.



2015

Dari delapan belas orang ini, semester tiga kami dipisahkan lagi menjadi tiga jurusan. Jurusan Perhotelan dengan jumlah enam orang, Jurusan Travel hanya dua orang, dan sisanya sepuluh orang termasuk saya di Jurusan Pariwisata.

Lucunya, sepuluh orang anak jurusan pariwisata belum pernah masuk semuanya. Sampai suatu kali kami semua berkumpul dan layak untuk di dokumentasikan. :)


Absen Lengkap Jurusan Adp

Seleksi alam terus terjadi. Dari sepuluh orang jurusan pariwisata hanya empat orang yang berhasil mengejar dan maju sidang dan wisuda bulan Mei 2015 lalu. Ini adalah foto bersama sebagian dari mereka yang maju sidang duluan. Hahahaha, ini sepatu siapa saja yah? Lupa :D

Sepatu Jurusan Administrasi Pariwisata

Pengalaman yang tak kalah serunya adalah ketika harus mengambil data ke Gua Maria Farima Sawer Rahmat, kabupaten Kuningan. Walaupun alat mengukur data yang saya bawa seadanya namun cukup lah sebagai pelarian dari rutinitas di kota. Pemandangan desa dan iklim alam pengunungan membuat isi kepala seperti direstart ulang lagi. Pikiran dan badan segar kembali lumayan lah modal untuk membuat bahan tesis.

Gua Maria Fatima Sawer Rahmat, Kabupaten Kuningan



Sisa kami berenam yang masih berkutat dengan Bab IV mengenai pembahasan dan analisa data. Hanya tiga orang yang akhirnya dapat maju sidang di periode selanjutnya. Rizki Nurul (Teh Kiki) dan saya kemudian menyusul Rizky Aidina (Chiky) di periode berikutnya. Telat empat bulan dari jadwal yang seharusnya sempat membuat semangat menurun dan malas menyerang. Apa mau dikata, apa yang sudah dimulai harus diselesaikan. Lengkapnya ada di sini


Pembukaan Sidang Terbuka

Kami yang sedang di Sidang.
30 Juli 2015 tepatnya sidang tesis dilakukan. Idealnya revisi sidang diberi tenggat waktu satu-dua bulan. Dan nyatanya sampai akhir Desember kemarin saya belum sempat untuk merevisinya. Hingga dapat mandat langsung dari Pak Lingga, Ketua Program Pascasarjana untuk segera diselesaikan kalau tidak akan sidang ulang. Whuaaaa!!

Tapi akhirnya selesai sudah. Malah ijazah pun sudah boleh diambil sebelum wisuda berlangsung.


Master of Management in Tourism Certificate 
2016

Awal Maret lalu, saya mendapat surat pemberitahuan bahwa wisuda akan dilaksanakan pada hari kamis, 21 April. Horeee!!

Persiapan wisuda kali ini tidak seheboh wisuda sebelumnya mungkin karena sudah pernah merasakan euphoria wisuda. Dan seperti biasa make up artist langganan terpercaya dipegang oleh Nenci yang sudah tahu betul karakter muka dan inginnya saya seperti apa. Terima kasih loh Nene ikut sibuk bangun dari jam tiga subuh untuk merias saya. :*



Make Up Artist Langganan

Satu hal yang ingin saya ceritakan sebelum menutup tulisan adalah betapa panjang proses perjalanan menuju wisuda. Bahkan H-1 toga belum bisa diambil.
Saya bersama 675 wisudawan lainnya harus menunggu dari pagi hingga malam untuk mengambil toga yang notabenenya akan dipakai esok hari. Ujung-ujungnya toga baru bisa diambil jam 06.00 paginya. Buang waktu seharian untuk menunggu toga datang. Tidak bermaksud untuk menyalahkan pihak kampus maupun pihak ketiga yang ditunjuk tapi alangkah lebih baik jika memberi kepastian informasi yang jelas dan akurat mengenai ketersediaan toga.

Menunggu Toga Datang, 19.30 Pm 20 April

Ada bulir menumpuk di sudut mata ketika LO sedang mempersiapkan barisan Pascasarjana memasuki Dome, tempat wisuda dilaksanakan.

Sebelum memasuki Dome

Backdrop Video Maping 

Video Live Streaming 

Pak Anang dan Pak Arif

Tegang, haru membiru ketika nama dipanggil oleh MC. Kaki melangkah di atas panggung, menerima ijazah dari Pak Lingga sebagai Ketua Pascasarjana, bersalaman dengan Pak Anang selaku Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata dan tangan Pak Arief Yahya, Menteri Pariwisata yang memindahkan tali topi toga. 
Luapan emosi, desahan nafas lega, ucapan syukur, tangis bahagia mengaung memenuhi seluruh ruangan bukan hanya keluar dari saya, orang tua saya, tetapi dari seluruh wisudawan dan orang tua yang hadir. 


Welfie dulu :D


Pascasarjana Jurusan Administrasi Pariwisata

Angkatan Gabungan 2012-2013-2014

My Graduation Day :)




It's my graduation day!

Perjalanan menuju wisuda selesai sudah. Tujuan saya untuk diwisuda sudah tercapai. Mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, Orang tua, Keluarga besar, dosen pembimbing Alm Pak Ben yang demikian sabarnya menunggu revisian saya, Pak Senen, dosen penguji yang amat perhatian Ibu Tyas dan Bu Beta, Bu Mega, para dosen dan staff Pascasarjana, Teman seangkatan Pascasarajana yang sudah melanglang buana mengejar cita, Nenci dan Icha yang setia menyediakan telinga, Age si pacar yang sempat wara-wiri mengantar mengejar tandatangan dosen, dan semuanya yang sudah membantu dalam doa dan dukungan. Terima kasih kalian semua hebat!

Berakhirnya perjalanan ini artinya saya harus memulai untuk sebuah perjalanan lainnya karena di mana ada awal selalu ada akhir begitu pun ketika sudah di akhir selalu ada awal yang baru. 


***


25 January 2016

Pernak-Pernik 2015


Hai, Selamat Tahun Baru 2016 kalian semua. 


Quotes di atas sangat mewakili peristiwa demi peristiwa yang merupakan momen terbaik sekaligus momen terburuk yang saya alami sepanjang tahun 2015. Banyak kisah melambungkan dan menenggelamkan perasaan di waktu yang hampir bersamaan. Syukurlah semuanya sudah terlewati walau dengan susah payah.

Awal tahun selalu menghembuskan napas yang baru, entah itu kesempatan, semangat, motivasi, suasana, atau lingkungan baru. Dihadapan saya terbentang lembaran kertas putih polos. Sebelum tangan saya menggoreskan tinta warna-warni di atasnya, ijinkan saya kembali memutar waktu untuk mengingat mengenai kejadian yang sudah terjadi agar dapat lebih berhati-hati dalam memilih warna tinta. Semuanya saya rekam dan rangkum dalam Pernak-Pernik 2015.

1. Kebersamaan Pergantian Tahun

Merayakan pergantian akhir tahun merupakan ritual wajib bagi saya. Menunggu menit demi menit tahun berganti bersama orang kesayangan lebih berharga daripada apa pun juga. Dan inilah saya bersama keluarga besar merayakan malam tahun 2014 menuju tahun 2015.

Family Gathering 2015 at Bude Nani's House

Saya ingat betul malam itu setelah makan malam bersama, saya langsung pamit pergi menuju rumah Lutfi untuk merayakan pergantian tahun sambil bakar-bakaran. He he he.

Sosis dan Daging Ayam Bakar :)

Selamat Tahun Baru 2015
dari Pascasarjana STPB 2013

Menghabiskan malam, berbagi cerita, menyaksikan gempita kerlap-kerlip kembang api di halaman belakang bersama mereka adalah suatu kebahagiaan tersendiri buat saya. Usia yang cukup terpaut jauh meleburkan dinding jarak di antara kami. 
Itulah indahnya kebersamaan dengan keluarga dan teman-teman dalam pergantian malam tahun baru.

2. Petualangan 

Mengawali tahun baru kemarin, saya menambahkan satu label bernama Petualangan Sepatu yang bercerita tentang kisah sepatu yang berpetualangan ke mana saja. Kerinduan sebagai mantan anak alam mencuat lagi dan ini adalah salah satu momen terbaik saya di Tahun 2015.

Air Terjun Ciwidey

Petualangan Si Sepatu Kuning mengejar Sunset di Pantai Jayanti, Cianjur sungguh petualangan yang seru banget! Dalam perjalanannya melihat Sunset, beberapa kali Si Kuning berhenti, mengabadikan kenangan untuk setiap hal yang yang ditemuinya. Seperti foto di atas, Si Kuning menemukan air terjun di sepanjang jalan Ciwidey. Daya tarik wisata alam gratis yang sangat tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Si Kuning di Pantai Jayanti

Petualangan yang tak kalah seru adalah ketika Si Kalem Beige mendadak harus ikut berpetualang ke Curug Pengantin di Kolonel Masturi. Saya memang pilih-pilih dalam menentukan siapa Si Sepatu yang akan menemani. Tak terduga adalah Si Kalem Beige ini yang harus menemani menapaki jalan setapak menuju Curug Pengantin. Untung saja dia kuat :)

Si Beige di Curug Pengantin

Inilah Saya di Ujung Jalan Setapak Menuju Curug Pengantin

Nah, petualangan yang ini agak lain dan beda dari petualangan di atas. Sebab petualangan kali ini dalam rangka mengumpulkan data untuk menyusun Tesis. Sendiri, dengan bermodalkan alat bantu seadanya saya pun menginap beberapa hari di Kabupaten Kuningan.

Tesis yang saya ajukan sebagai syarat kelulusan adalah tentang Daya Tarik Wisata Religi di Gua Maria Fatima Sawer Rahmat, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Maka dari itu, penelitian berbalut petualangan pun di lakukan.

Wisma Gereja Tempat Saya Menginap

Di Wisma Putri Sejati lah saya menginap selama penelitian di Desa Cisantana, Desa di mana lokasi Gua Maria Fatima Sawer Rahmat berada. Wisma dengan satu kamar berisi delapan kasur dan kebetulan saat itu hanya saya yang menginap. Agak menyeramkan ketika malam datang namun betapa luar biasa segarnya ketika pagi menjemput.

Penjaga Wisma dan Gereja yang Menjaga Saya juga :)

Wisma yang saya tempati memang lokasinya berada di belakang Gereja. Koaster dan penjaga Gereja menginap di tempat sekretariat. Mereka dengan sengaja membuat acara ngeliwet ketika tahu mengenai kedatangan saya. Kami pun makan nasi liwet bersama sampai kantuk datang menjelang.

Jalan Setapak Menuju Gua Maria Fatima Sawer Rahmat

Jalan setapak inilah di mana penelitian saya dimulai. Penduduk Desa Cisantana sangat ramah menyambut dan mengetahui maksud kedatangan saya. Mereka dengan sabar menjawab semua pertanyaan dari kuesinor yang sudah saya siapkan.

Rasanya foto di atas adalah foto terakhir di tahun 2015 saya jadi anak alam lagi. Melihat pemandangan serba hijau memang menyegarkan mata dan pikiran. Menghirup udara pegunungan menjernihkan kepala. Masih teringat kok bagaimana perasaan saya waktu itu, bahagia. :)

Tapi, saya rasa tahun ini petualangan sepatu tidak akan sama iramanya dengan tahun lalu. Bedanya apa? Ha ha ha. Saya juga belum bisa memastikan hal itu. Biarkan saja tetap jadi misteri yah.


3. Kehilangan

Kehilangan rumah beserta isinya merupakan momen terburuk yang terjadi bagi saya dan keluarga. Khususnya bagi orang tua saya. Pencapaian mereka selama puluhan tahun lenyap dalam hitungan menit bersama abu dan puing-puing di atas tanah. Keselamatan keluarga kami adalah bentuk rasa syukur dan terima kasih bahwa kami masih senantiasa dilindungiNya selalu. Berserah adalah tulisan saya mengenai musibah kebakaran.


4 Maret 2015, beberapa jam setelah api padam

Selang lima bulan, dalam waktu senggang saya iseng arahkan motor ke rumah dulu. Sekedar melihat bagaimana kondisinya. Begitu masuk komplek entah mengapa rasanya ada yang menekan di dada dan semakin sesak untuk bernafas ketika melihat dia berdiri rapuh, sendiri, terbengkalai, terabaikan di sana. Tak kuasa dan tak berdaya untuk melakukan sesuatu terhadap dia yang menaungi sedari saya kecil.

2 September 2015, lima bulan setelah musibah kebakaran

Kehilangan sesuatu dapat tergantikan dengan yang baru, dapat di beli dan di cari lagi. 
Namun, bagaimana halnya dengan kehilangan motivasi dan kepercayaan diri?
Ya ya ya .... terbaca agak sedikit berlebihan dan drama memang. Tapi, yah itulah yang saya rasakan bahwa berpisah dengan seseorang yang katakanlah sudah menjadi bagian dari hidup, di mana masa depan sudah terjalin bersama secara tiba-tiba hilang begitu saja. Luluh lantak. Kembali ke titik nol. Pengorbanan dan cinta yang sudah diberikan seakan sia-sia.

Keterpurukan akan keadaan membuat saya mau tidak mau harus bangkit. Bangkit dengan tertatih, terseret, terseok-seok. Pokoknya saya harus mampu bangkit berdiri dari dasar jurang yang ironisnya saya bikin sendiri. Terpukul akan kejadian ini membuat saya benar-benar skeptis akan makna sayang dan cinta yang ke luar dari mulut seorang lelaki. Mungkin ... butuh proses, butuh waktu sampai semuanya kembali normal. :)


4. Pembaharuan

Betapa baiknya Tuhan menjaga dan melindungi keluarga kami. Tuhan sediakan kami tempat tinggal baru yang jauh dua kali lipat lebih besar melalui Atasannya Papah. Rumah seluas 700 m2 ini adalah rumah kosong milik Atasan Papah yang dengan kerendahan hati meminjamkannya untuk kami tempati sementara tanpa batas waktu. Tidak ada kata lain selain bersyukur untuk menikmati berkat yang datang melimpah.


Rumah (Numpanga) Baru

Pekerjaan, lingkungan, rekan kerja dan tentu saja pengalaman baru bukan lagi menanti tapi sudah ada di depan mata saya. Semuanya terjadi begitu saja, begitu cepat bahkan hingga saya pun masih terengah-engah mengejar dan berada dalam suasana yang sama sekali serba baru. Seru menantang sekaligus menebarkan jantung!

Bersama Atasan Baru

Rekan Kerja Gila Baru :)

Mengalami kemalasan luar biasa dalam menyusun Tesis kembali menyergap di mana beberapa teman sudah mendahului lulus duluan adalah kehebohan lain. Setelah melakukan penelitian, membuat analisa, akhirnya saya bisa maju sidang pada periode kedua. Walaupun dibutuhkan hampir dua bulan lebih untuk memperbaiki sidang tesis, sampai bikin surat permohonan perpanjangan waktu, sampai ngejar-ngejar dosen ke sana ke mari, sampai kabur dari kantor .... akhirnya semuanya selesai juga. Tahun ini saya mendapat gelar baru. Boleh lah yah, sedikit sombong. :))

Hai, perkenalkan nama saya Christina Evaliana Irawan SS., MM. Par

Ijazah S2 


Tahun 2015 memang sangat berkesan bagi saya. Banyak pengalaman baru yang saya alami bersama orang baru dan lingkungan baru. Saya bersyukur bahwa semuanya sudah terlewati walau masih ada sisa-sisanya yang masih tertinggal namun perlahan tapi pasti akan memudar dengan sendirinya.

Belajar dari pengalaman bahwa tidak ada satu hal pun yang sia-sia. Hanya saja kadang saya suka terlambat memaknainya atau malas untuk belajar dari pengalaman itu sendiri.
Resolusi yang saya buat tidaklah muluk-muluk seperti tahun-tahun sebelumnya karena saya percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi umatnya yang percaya. Dan saya percaya betul akan hal itu!

Hei, terima kasih atas pernak-pernik 2015 yang sudah menghiasi satu tahun!

This is new ME :))


***