Showing posts with label Roadshow. Show all posts
Showing posts with label Roadshow. Show all posts

13 November 2011

My Last Trip Roadshow #Kuningan

Selamat Datang di Kota Kuningan



Setelah roadshow di Kota Cirebon kami menuju kota selanjutnya, Kota Kuningan.
Kota kecil yang masih asri. Udaranya lebih bersahabat, tidak sepanas Cirebon.
Di sepanjang jalan masih banyak pesawahan dan pepohonan.

Kebetulan Roadshow kali ini di adakan di SMKN 2 Kuningan, tepat di bawah kaki Gunung Ciremai. Sejuk dan asri itulah yang ada di benak saya.

Teringat beberapa tahun yang lalu, saya pernah menginjakkan kaki di Gunung itu, walaupun tidak mencapai puncak tapi pemandangan lembah edelweis tersimpan rapi di dalam sel-sel memori.

Talkshow berjalan dengan lancar, Pihak sekolah pun menyambut Tim kami dengan sangat antusias. Para siswa juga semangat mengikuti talkshow tentang betapa pentingnya vaksin.

Well, this is my last trip roadshow.
Pengalaman yang amat berharga menangani klien yang notabenenya adalah salah satu produsen vaksin terbesar di Asia Tenggara.
Suatu kebanggaan tersendiri bagi saya dapat terlibat dalam roadshow ini. Kerjasama dengan tim yang solid.
Setiap cangkir kopi yang kami minum bersama di malam hari saat sebagian orang sudah terlelap oleh mimpi.
Kebersamaan dalam setiap hal yang tidak mungkin terlupakan dalam sekejap mata.
Semua tersimpan rapi di dalam sel - sel memori saya.

Roadshow terakhir ini semoga menjadi Roadshow yang sukses, setidaknya di mata klien.

Well this is it!
Time to say good bye.
No regret!
I already decided it.

Seperti yang saya kerap kali katakan bahwa setiap ada pertemuan selalu ada perpisahan.
Ini lah akhir dari pertemuan kita.

Sampai bertemu dengan awalnya saya nanti yang masih kasat mata tampaknya.

Well, once again, this roadshow ended in Kuningan City.

10 November 2011

My Last Trip Roadshow #Cirebon

Selamat Datang di Kota Cirebon


Kota Cirebon .. Di sinilah saya kembali bersama tim dalam rangka mengadakan event roadshow ke sekolah - sekolah untuk edukasi tentang pentingnya Vaksin. Kegiatan yang targetnya adalah anak SMA membuat kita jadi berasa gaul. Bergaul dengan anak-anak SMA seperti muda kembali. Melihat tingkah laku mereka seperti bercermin pada masa lalu.

Di Kota ini saya dipertemukan oleh nasi jambang yang terkenal. Sega Jamblang Ibu Nur yang konon sudah terkenal kemana - mana. Nah, kalo main - main ke Cirebon coba mampir kesini yah. Lokasi cukup strategis karena dekat Grage Mall (Mallnya orang Cirebon) lagipula tanya orang sekitar karena Ibu Nur ini memang terkenal tapi jangan lupa harus berdoa supaya Anda mendapat tempat duduk, karena warung nasi yang buka 24 jam ini selalu dipenuhi oleh pelanggan.



Kota yang panas ini sempat beberapa kali di guyur hujan namun tidak mengurangi tingkat kepanasannya. Di Kota inilah kami mengadakan talkshow edukasi ke SMAN 7 Cirebon. Kami di sambut dengan tangan terbuka oleh Pihak Sekolah.

Selama dalam perjalanan (bahkan sebelum pergi pun) saya merasakan hal yang luar biasa dalam event kali ini. Antara Rasa senang dan sedih yang bercampur aduk.

Karena ini adalah event terakhir saya ...
Saya benar - benar merasakan proses setiap detailnya karena tidak mau kehilangan satu momen pun.

Well, sampai sini dulu yah.
Mau siap - siap untuk roadshow ke Kuningan.

14 March 2011

Cerita Dari Sukabumi

Sukabumi, 8 Maret 2011 ..

Suatu penantian yang cukup panjang untuk dapat melakukan perjalanan dinas ke keluar kota kembali. Setelah cintaku bersemi di 6 kota berakhir dan kehidupan perkantoran pun mulai menjadi teman sehari – hari.

Melalukan dinas ke keluar kota, mengadakan event di luar kota adalah hal yang saya tunggu – tunggu. Bukan berarti saya menghindari pekerjaan administrasi dikantor hanya saja saya merasa saya lebih berkembang dan mendapat segala macam informasi maupun pengalaman. Entah itu kebudayaan masyarakat setempat, kulinernya, kebiasaannya, dan pola pikirnya.

Pekerjaan di luar kota ini sejujurnya dua kali lipat bahkan lebih rasa capai dan lelahnya. Pola makan dan tidur cenderung tidak stabil. Akan tetapi, pengalaman di setiap kotanya ini yang tak terbayarkan.

Seperti perjalanan yang sedang saya lakukan .. walaupun hanya dua hari satu malam .. walaupun hanya di kota kecil, Sukabumi, saya sangat menikmatinya. Mulai dari proses persiapan, loading dock, dan saat eksekusinya.

Hal ini mengingatkan saya pada roadshow ke 6 kota tahun 2010 kemarin. Sungguh perjalanan yang tak terelakkan dan suatu pengalaman yang selalu mengugah hati.

Setidaknya event kali ini lebih santai dan kami dapat merasakan nyamannya kasur spring bed, fasilitas hotel yang sudah disediakan, dan menikmati bersantai dikamar hotel. Walaupun hanya kamar hotel yang sederhana. Walaupun tetap tidak punya waktu untuk icip kolam renang, pub, biliard, dan tempat karaokenya. Lagi pula ini khan judulnya juga kerja. :D

Jadi teringat dengan terakhir saya pergi ke Sukabumi bersama sang pacar dalam rangka proyek kecil –kecilan. Kami menginap di hotel yang sama dan mengalami kejadian yang sama, tidak punya waktu untuk menggunakan fasilitas yang ada.

Suasana disini, pada malam ini sungguh luar biasa dinginnya. Semilir angin yang berhembus dan embun pada dedaunan selepas hujan sore tadi.

Malam ini, saya habiskan bersama kedua rekan saya dengan diskusi dan briefing internal untuk persiapan esok hari. Ditemanin rokok dan kopi dengan suasana yang santai. Saat yang satu mulai terlelap dan yang satunya asyik menonton siaran televisi, saya menyibukkan diri dengan menulis jurnal ini.

Rabu, 9 Maret 2011 …

Kami bangun agak siang dan antri untuk mandi. Sarapan di hotel bersama klien sambil membahas tentang perubahan – perubahan rundown.

Berangkat ke sekolah pertama, SMA 1 Sukabumi. Persiapan 80% sudah dilaksanakan kemarin, sisanya cek laptop dan lain – lain.

Suasana sangat kondusif, siswa – siswi termasuk para gurunya pun sangat responsif. Saya sangat terharu melihat Pak Direktur Utama klien kami menyempatkan datang dan terlibat dalam roadshow ini karena kebetulan beliau adalah alumni SMA 1 Sukabumi. Banyak cerita inspirasif dari beliau. Berjalan sejauh 6 km dari rumah ke sekolah tanpa alas kaki. Kuliah merantau di Institut Teknologi Bandung karena paling murah dari yang lain tanpa punya cita – cita. Perjalanan panjang dan berliku sampai akhirnya beliau menjabat sebagai Direktur Utama.

Selesai roadshow di sekolah pertama, pihak klien makan siang, kami langsung beres – beres dan menuju ke sekolah kedua, SMK 2 Sukabumi. Persiapan 50% karena barang – barang hanya satu sehingga kami harus bongkar pasang. Tepat sebelum jam 1 saat acara dimulai, persiapan sudah selesai.

Mungkin karena peserta roadshow di sekolah ini lebih banyak orangnya dan dilaksanakan saat tengah hari, antusias peserta tidak sebesar di sekolah sebelumnya. Tetapi, mereka jauh lebih kritis dalam bertanya. Pertanyaan – pertanyaan pun muncuk di luar materi dari talkshow.

Ternyata di kota kecil ini banyak bibit unggul yang potensial. Boleh dibilang mereka jauh lebih responsif di banding dengan di Kota Bandung.

Akhirnya, roadshow luar kota pertama ini selesai juga. Persiapan dan acara berjalan dengan lancar, aman, dan terkendali. Sedikit konflik dan kesalahan itu wajar, intinya tidak menganggu jalannya acara.

Terima kasihku terbesar atas klien ini yang sudah mempercayakan roadshow luar kotanya kami handle lagi. Mulai dari transport, akomodasi, makan, sampai snacks pun ditanggung, kami merasa amat sangat tercukupkan.

Terima kasihku terbesar untuk Bunny dloney sebagai MC yang pintar, kocak, dan mampu membangun suasana.

Terima kasihku terbesar atas tim creasion activation atas kerjasamanya. Walaupun saya orang yang menjadi mahluk paling cantik dalam tim ini tetapi itu tidak menjadikan saya dimanja oleh tim (entah itu maksudnya compliment atau intimidasi).

Terima kasihku terutama adalah kepada pihak sekolah yang sangat kooperatif sehingga acara berjalan dengan lancar tanpa hambatan birokrasi. Pak Rahmat, Wakasek SMA 1 Sukabumi dan Pak Dian Wakasek SMK 2 Sukabumi.

Sungguh perjalanan dinas keluar kota yang menyenangkan bersama dengan klien yang menyenangkan.

Sampai bertemu lagi di cerita selanjutnya di kota selanjutnya.

3v@_Cute

9 03 11

22.35

11 January 2011

Cintaku di 6 Kota (Denpasar dan Jakarta) #Part5 #Part6

Setelah dimabukkan oleh durian, kita beranjak ke kota ke-5 Denpasar. “saya, belih”

Minggu, 17 Oktober 2010.

Persiapan kali ini agak terburu-buru karena rentan waktunya hanya seminggu dari kota sebelumnya.

Upaya untuk lebih baik lagi tidak pernah absen dari kami. Namun, kembali lagi kepada pihak lokal yang agak sulit untuk di ajak kerjasama. Yah, setidaknya di Kota Bali ini hal-hal yang sudah terjadi di Kota Medan tidak terjadi lagi. Pihak hotel mau bekerjasama dengan baik, walaupun ballroom yang akan kami gunakan lagi-lagi di gunakan untuk resepsi pernikahan sampai malam.

Inilah akhir dari semua awal. Inilah akhir dari sekian lembar yang kalian baca dan inilah akhir dari apa yang ingin kutulis dan berbagi dengan kalian atas nama suka dan duka selama menjalani event roadshow 6 kota.

Kota terakhir, Jakarta “Kemane, Ncim”

Minggu, 7 November 2010

Di kota terakhir ini, saya akui kami, semua tim berusaha untuk melakukan persiapan dengan lebih baik, lebih detail, lebih terkoordinasi. Bukan karena kami sekedar memperbaiki kesalahan –kesalahan yang sudah terjadi di beberapa kota sebelumnya. Kota terakhir ini merupakan awal dari suatu hubungan yang akan berdampak jangka panjang.
Di kota terakhir inilah, tim kami bener – bener di evaluasi. Hasilnya bagaimana … selain berusaha semaksimal mungkin, kami serahkan kepada Yang Maha Kuasa dan kepada BA nya (Brand Associate.red)
Kita lirik dulu persiapannya sebelum menjajaki hari H.

Jumat, barang – barang yang akan dibawa sudah dirapikan di dalam dus yang telah diberi nama dan jumlah serta dikelompokkan berdasarkan kebutuhan. Ini agar memudahkan kami saat loading dock karena pengalaman yang sebelumnya entah mengapa tidak pernah ada yang terpikirkan untuk berbuat seperti itu atau memang tidak ada waktu. Well, akhirnya kami melakukan itu yang berakibat barang yang akan dibawa menjadi lebih banyak.
Selain barang yang telah tersusun, semua form – form sudah tersusun dan sudah di perbanyak.
Tidak lupa kami sering – sering mengadakan meeting atau lebih tepatnya briefing dengan tujuan saling mengingatkan tugas satu sama lain dan bisa disebut juga saling menambahkan atau mengurangi tugas masing – masing.
Sekedar pengalaman pribadi … jam 11 malam saya masih disibukkan oleh segala macam tetek bengek persiapan di kantor dan masih disibukkan kembali untuk pergi mengejar waktu untuk ngeprint.

Sabtu, baiklah saya membuat checklist untuk saya sendiri dan saya rasa semuanya sudah beres.
Karena saya pergi dengan rombongan anak magang yang menjadi panitia siang hari dengan santai saya pergi ke kantor.
Sesampainya di kantor, niat untuk ricek barang – barang, santai sambil menunggu keberangkatan, saya masih disibukkan kembali untuk membeli perlengkapan saat hari H di daerah Cibadak yang letaknya cukup jauh dari kantor dan termasuk daerah padat merayap. Padahal ini tidak ada di dalam ceklist saya.

Jam menunjukkan pukul 15.00 … sesuai jadwal kami segera pergi. Checklist sudah beres, anak – anak di absen sudah hadir semua. Di tengah jalan, teman-partner-atasan event menelepon dan memberitahu bahwa photographer akan ikut bersama rombongan di dalam bis …?????? Akibatnya bis berhenti di tengah jalan dan menunggu agak lama karena kami sempat makan baso dulu.

Oh iya, satu hal yang ingin saya informasikan adalah kami bisa karaoke.
Malam hari, kami sampai di venue … sesuai jadwal kami akan briefing dan gladi resik.
Kenyataannya kedua hal tersebut tidak dapat dilakukan karena venue sedang digunakan untuk resepsi pernikahan. Lagi – lagi kami dihadapkan dengan resepsi pernikahan. Hal ini yang membuat loading dock menjadi terhambat.

Minggu, jam 05.00 venue masih belum bisa clear area.

Jam 06.00 peserta masih bisa dihitung dengan jari. Padahal di kota – kota sebelumnya jam segitu peserta sedang banyak – banyaknya daftar ulang di meja registrasi
Mc susah di brief .. seharusnya dia hanya menyapa peserta secara personal malah langsung membuka acara.
Akibatnya pihak klien beradu argumentasi. Kami serba salah.
Saat talkshow, peserta pindah ruangan karena ballroom yang kami gunakan terlalu besar untuk kapasitas peserta yang jumlahnya tidak melebihi 50 orang. Jadi selama quis berlangsung, tim kami sebagian menata ulang kembali ruangan sebelah untuk dijadikan tempat talkshow.
Untuk menanggulangi kesalahan di kota sebelumnya, kami menyediakan panitia khusus yang in charge untuk operator sound dan laptop yang memang ahli di bidangnya.
Akhir acara sebentar lagi tiba …

Operator sound sudah stand by. Tim kami yang bertugas memegang konventti sudah stand by di posisi masing – masing.

Peserta yang kebetulan jumlahnya sedikit maju kedepan untuk foto bersama dengan klien dan tim kami. Saat mc memberikan aba – aba …
Sound sudah berjalan … konventti siap diluncurkan.

Saya sengaja duduk di barisan kursi peserta yang kosong di belakang.
Melihat semua peserta, panitia, klien di hadapan saya berjajar … disambut dengan konventti dan sound yang menggelegar … tak terasa tetes demi tetes bertumpuk dipelupuk mata. Melihat mereka semua puas dan tertawa gembira. Kegembiraan mereka merupakan keharuan yang saya rasakan.


Disinilah cinta itu harus berakhir.
Berakhir pula juga lah tulisan Cintaku di 6 Kota.

Setiap event selalu membawa kesan tersendiri. Setiap kota selalu membawa kenangan tersendiri. Semuanya berakhir di Kota Jakarta.

Disini (Kota Tua)

Andai waktu mampu ku putar,
Ku ingin menyingkap dimana rasa salahku yang ku buat?
Tiada kata yang mampu ku sampaikan,
Terlalu indah kurasa,
Terlalu sulit ku lupa..

Maaf atas kekurangan yang ku punya,
Terima kasih yah.
Pernah menguatkan,
Menyejukkan,
Membuatku berarti,
Seperti bidadari,

Namun kini bidadari hanya segelincir debu
tak berarti
Hanya mampu menjadi benalu…
Trima kasih yah.
Pernah memilih aku tuk temanimu,
Meski tak sesempurna yang kau mau,
Tak seindah yang semestinya..

Namun sulit ku berdusta
bahwa aku menyayangimu
sepenuhnya..
meski tidak bagimu..
Dan kini..

Sedang ku nikmati setiap detik tanpamu,
setiap detik saat ku bersamamu.

Disini..
ku sendiri,
yang dulu kita pernah berdua
ungkap asa dan cinta
pada bintang yang bertaburan,
lukisan alam yang semakin mengindahkan

Disini
ku telusuri..
sepanjang jalan saat kita bersama
dalam hening malam

disini
tempat kita berpisah..
terakhir kali ku menggenggam tangan,
menangis lirih..

Dan Disini..
Aku menunggumu..
mungkinkah kan kunikmati lagi???
dalam sudut kota tua..
ada cerita aku kamu dan cinta….

-Puisi dari Disini (Kota Tua) oleh Devin_DCHY-

05 January 2011

Cintaku di 6 Kota (Medan) #Part4

Kota keempat, Kota Medan “Ini Medan, Bung!”

Minggu, 10 Oktober 2010.

Ini sudah Kota yang Keempat, idealnya segala kesalahan seharusnya bisa di atasi melihat berbagai kondisi di lapangan. Namun, ternyata yang namanya Human Error itu memang selalu melekat. Mari kita ikuti perjalanan dan segala prosesnya selama saya di sini.

- Pertama, kesalahan saya adalah tidak re-cek jumlah nomor peserta. Nomor peserta ini memang bukan buat peserta jadi seharusnya dikembalikan ke panitia. Yah, namanya juga Ibu-Ibu dan saya tidak melakukan re-cek. Jadi, biaya produksi membengkak gara-gara melengkapi jumlah nomor yang hilang; jumlah yang cukup banyak.

- Kedua, seperti biasa loading dock selalu berbentronkan dengan ballroom yang digunakan resepsi. Masalahnya adalah pegawai hotel ini bekerja dengan sangat-amat-teramat lambat. Acara sudah selesai dari jam 23.00, tapi yah sampai jam 02.00 area belum beres juga. Akhirnya tim kami jadi ikut membereskan karena waktu yang sempit. Entah ini kesalahan siapa?

- Ketiga, Terjadi bentrok segitiga antara klien-kami-hotel. Operator sound tidak muncul juga, dari 2 jam sebelum acara hingga acara dimulai. Kami diberi informasi bahwa jam 03.00 tadi Ayah dari operator sound (saya lupa namanya) meninggal dunia. Posisi digantikan oleh operator lighting yang tidak tahu-menahu tentang mengoperasikan sound. Selama acara operator lighting mengoperasikan peralatan melalui telepon. Dalam masa berkabung, dipaksa untuk mengajar kilat tentang peralatan sound. Sungguh terlalu! Ini kesalahan fatal, sebagai hotel bintang 4, mereka tidak punya tenaga cadangan, dan tidak mau repot untuk mencari cadangan.

- Keempat, masalah mengenai konsumsi. Sudah berkali-kali diwanti-wanti agar tidak berlambat. Sudah pula diberi rundown acara. Jam 06.00 dan Jam 10.00, snack box harus sudah ada di meja registrasi. Jam 07.30 baru datang, Jam 11.00 baru ready namun prasmanan karena akan lebih memakan waktu lagi jika harus dimasukkan ke dalam box. Lagi-lagi kesalahan di pihak hotel berbintang 4.

Pihak klien sangat kecewa dengan hal ini, walaupun kesalahan ditangan pihak hotel, kami selaku tim eksekusi acara tentunya bertanggung jawab akan hal ini karena sudah menganggu jalannya acara. Ini adalah kegagalan kami yang terbesar dari kota-kota sebelumnya.

Tanpa mengurangi rasa hormat, kami selaku tim Event dari klien sangat kecewa atas pelayanan Hotel Aston Medan yang sangat tidak profesional. Bukan bermaksud untuk menjelekkan, setidaknya hal ini menjadi suatu bahan pembelajaran bagi kita semua.


***


Diantara kesalahan, kegagalan, kekecewaan, dan keterpurukan itu, saya menemukan cinta saya di Kota Medan ini.
Cinta yang membuat mabuk kepayang, secara harafiah dan hurufiah.
DURIAN!!!
Rasanya seperti bercinta, menemukan jutaan durian dengan harga yang murah.
Jangan tanyakan rasanya, sudah pasti lezat hingga dibuat mabuk!

Setidaknya saya masih bisa menemukan cinta di Kota ini untuk dibawa pulang ke Bandung.

Sampai bertemu di dua kota terakhir.

14 December 2010

Cintaku di 6 Kota (Manado) #Part3

Inilah Kota ketiga, Kota Manado “Mari Jo Bakudapa”

Sabtu, 25 September 2010

Pergi ke Manado membawa kebanggaan tersendiri bagi saya. Kota yang terletak di Pulau Sulawesi ini adalah pulau pertama saya menginjakkan kaki selain Pulau Jawa. Lagipula dari kota ini lah sang kekasih berasal. Maka dari itu, sebelum pergi saya sudah menyiapkan beberapa oleh-oleh Khas Bandung untuk keluarganya yang tinggal di sana.

Lain kota, lain pulau, lain pula bahasa dan budayanya.

Dalam masa persiapan roadshow, kami melakukan konfirmasi kehadiran peserta. Lucu, karena saya tidak paham Bahasa Daerah Manado dan ada beberapa peserta yang sama-sekali tidak bisa Bahasa Indonesia.

Persiapan lancar, ini kan sudah ketiga kalinya, memang harusnya begitu.
Acara pun berjalan dengan lancar, semuanya berjalan sesuai dengan rundown acara.
Sukses :D

Yah, sebenarnya ada sedikit masalah namun tidak berpengaruh banyak terhadap jalannya acara. Mengenai Laison Officer (LO) yang direkrut oleh EO lokal, katanya sih sering kerja bareng. Tapi saya sangsi karena dari awal briefing, mereka semua telat 2 jam dari jam yang ditentukan. Saat Hari H, sebagian dari mereka datangnya bersamaan dengan peserta. Tugas mereka kan menyambut peserta lah kok datangnya barengan? Tugas mereka cukup mudah, hanya menyambut, mengarahkan peserta dari meja pendaftaran ke area ballroom, dan stand-by selama acara takut ada peserta yang kelelahan saat senam atau sekedar ingin minum, namanya juga lansia.
Tugas yang se-simple itu pun mereka tidak lakukan, nampaknya mereka jarang bertemu satu dengan lainnya. Sehingga acara ini seperti temu-kangan-reuni diantara mereka. Sibuk ngobrol sendiri. Mereka pun berdandan layaknya pergi ke pesta dengan riasan tebal.



***


Ada banyak kejadian menarik di kota ini, salah satunya;

- Saat di pesawat, saya dan tim terpisah duduknya. Kebetulan disamping saya adalah Ibu-ibu yang sejak kami duduk dia terus memperhatikan saya. Awalnya saya agak curiga. Ibu itu bertanya basa-basi kemana tujuan saya dan apa yang saya lakukan selama di sana. Ibu itu bilang bahwa saya seperti pacar anaknya, sangat mirip, jadi dia pikir saya adalah orang itu. Lucu, Ibu itu berpikir saya orang asli Manado dan tidak percaya kalau saya orang sunda setelah berkali-kali diyakinkan. :D

- Selama saya di sini, tidak menemukan satu pengemis maupun pengamen di sepanjang jalan. Tidak menemukan gundukan sampah apa pun di sepanjang jalan. Betapa bersihnya kota ini. Bagaimana mungkin bisa terjadi hal seperti itu? Konon, Orang Manado itu sangat menjaga gengsi. Perbuatan memalukan bagi mereka jika hanya duduk diam di trotoar atau berjalan menyusuri jalan-toko dengan tangan terbuka, meminta sesuatu. Wah ... :D

- Saudara sang kekasih, Sheila menghampiri saya di Lobby Hotel Novotel yang sangat asri. Mereka sekeluarga sengaja datang, tidak hanya untuk mengambil oleh-oleh tapi sangat ingin menemui saya. Kami berbincang-bincang singkat. Lucu, mereka juga beranggapan saya orang Manado atau ada keturunan Manado. :D :D
Agak malam, sepupunya Om Frangky datang; sekedar menyapa. Ternyata rumahnya tepat di belakang hotel kami. Alhasil, saya diculik pergi kerumahnya dan diperkenalkan dengan istrinya. Berada di depan pintu rumahnya, ada aroma harum tercium. Klapertart! Wah, saya langsung dihidangkan klapertart oleh istrinya Om Frangky. :D

- Kembali ke hotel, menyelesaikan persiapan. Tim EO lokal bekerja maksimal dan akhirnya kami tidak bentrok dengan ballroom yang digunakan untuk resepsi. Sehingga sebelum jam 03.00 sudah cleaning area. Mengingat pengalaman di kota sebelumnya, saya kesiangan bangun, maka lebih baik tidak tidur sekalian. Kami, jured dan saya duduk dipinggir kolam, dibawah terangnya bulan dan tebaran bintang, menikmati secangkir cappuccino novotel. :D

- Selesai acara, kami dijemput oleh Om Frangky untuk pindah hotel. Novotel itu letaknya seperti Lembangnya-Bandung; jauh dari kota. Setelah cek-in di hotel, Om Frangky membawa saya dan tim jalan-jalan melihat Kota Manado.
Kami menyantap pisang goreng yang dicocol sambel ikan roa dipinggir Pantai Malayanglayang.
Beranjak ke Citraland, di dini ada Patung Tuhan Yesus Memberkati.
Melihat pemandangan Kota Manado yang indah dan terlihat rapi dari bukit, di Tomohon.

- Bunakan! Akhirnya saya ke bunaken juga. Setelah terombang-ambing di perahu selama 1 jam tiba saatnya snorkeling. Hehehe, baru pertama kalinya snorkeling nie. Terkagum-kagum dengan pemandangan terumbu laut, karang, ikan laut beraneka warna.

Di Kota Manado, cinta saya bertebaran dimana-mana ...

Tidak ada yang senikmat menikmati cappuccino di pagi hari dengan pemandangan romantisme alam, sayang disamping saya bukan sang kekasih.
Tidak ada yang seenak mencicipi dan menghabiskan klapertart yang khusus dibuatkan untuk saya.
Tidak ada yang seindah memandangi pemandangan gunung, bukit, pantai, dan bawah laut

Saya sudah jatuh cinta sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota ini.

13 December 2010

Cintaku di 6 Kota (Malang) #Part2

Cintaku di 6 Kota, Inilah Kota Kedua Malang "Ayo Rek"

Jumat, 30 Juli …

Sedikit prakata sebelum membahas tentang eventnya.

Hari ini adalah hari sibuk sedunia bagi orang kantor, tim dan saya sibuk dengan persiapan barang-barang yang akan dibawa ke Malang sedangkan orang-orang kantor lainnya sibuk beres-beres barang mereka, karena kantor akan pindah. Kami akan pindah ke tempat yang lebih besar tentunya, letaknya di Ciumbuleuit.

Hari ini adalah hari tersedih bagi saya dan (mungkin) bagi sebagian orang kantor. Di sinilah akhir dari segala aktivitas-rutinitas sehari-hari yang biasa kami lakukan. Di tempat ini saya di wawancara, saya diperlakukan "special" saat ulang tahun, begadang semalaman menyiapkan segala sesuatunya untuk event. Di teras depan, tempat favorit saya memandang langit malam, tempat bertukar-cerita dengan rekan kantor sambil ngopie dan merokok. Momen-momen berharga disetiap sudut ruangannya. Hari ini pula lah yang menjadi momen tersedih saya saat melihatnya terakhir kali di tempat ini, tidak akan melihatnya lagi duduk di kursi itu, tidak akan ada sambutan selamat pagi dengan sapaan "Epaaaaaa, aku duluan sampe, lho!". Sedih melihatnya pergi, tidak untuk selamanya, hanya saja saya tidak akan melihatnya lagi dalam keseharian saya di kantor baru nanti. Selamat menempuh hidup baru Achi.

Baiklah, kita tinggalkan segala emosi-sentimetal-melodrama itu. Bagaimana persiapan roadshow kali ini? Yang pasti ini adalah serba pertama kalinya bagi saya.

Sabtu subuh, kami (Ste dan saya) sudah ada di dalam mobil yang akan membawa kami ke Bandara Soekarno Hatta. Dari Bandara kami mendarat di Surabaya dan dilanjutkan ke Malang dengan jarak tempuh 3-4 jam jalur darat. Oh ya, perlu saya tekankan bahwa ini adalah pertama kalinya saya naik pesawat, (katrok yah?). Tak perlu kubahaslah hal itu detail disini bagaimana gugupnya saya dan orang-orang rumah yang tak henti-hentinya menyuruhku berdoa saat di dalam pesawat nanti (Kami sekeluarga memang belum pernah duduk di atas pesawat terbang, wajar kan?). Selain pertama kalinya saya naik pesawat, ini juga pertama kalinya saya keluar kota sendirian tanpa keluarga.

Belajar dari pengalaman, kami loading dock dari sore. Sebelum tengah malam kami berhasil melakukan cleaning area. Sejauh ini persiapan berjalan dengan lancar, hal-hal yang dikhawatirkan terjadi di Bandung, tidak terjadi dan semua persiapan aman. Hal ini justru yang menjadi masalah tersendiri untuk saya karena merasa persiapan sudah mantap, hati dan pikiran pun menjadi tenang. Sakin tenangnya hingga membuat saya tidur dengan sangat nyenyak, alarm pun tidak saya hiraukan alhasil telat bangun, iyah kesiangan! Kejadian ini menjadi evaluasi terbesar untuk saya pribadi!

Selama acara berlangsung, kami dipusingkan oleh crew dari EO lokal yang tidak professional, selama berjalannya acara tak henti-hentinya mereka arisan dan foto-foto sendiri. Setelah acara selesai lagi-lagi kami dipusingkan oleh manajeman EO lokal yang juga kurang cenderung tidak professional.

Teknis dan mekanisme acara tidak ada yang berubah. Jadi tinggal diaplikasikan saja berdasarkan pengalaman di Kota pertama, Bandung.

Sedikit oleh-oleh cerita dibuang sayang karena di Kota Malang ini kami didera dengan berbagai kemalangan, sesuai dengan namanya,

- Tibalah kami di Kota ini, Malang. Tujuan pertama adalah cek-in hotel yang seharusnya sudah di buking oleh kantor. Ternyata entah bagaimana ceritanya nama kami tidak ada dalam daftar dan tidak ada kamar kosong lagi. Jadi kami harus mencari hotel lagi yang lokasinya dekat dengan venue. Cukup memakan waktu karena tidak semudah itu mencari hotel dekat venue yang sesuai dengan budget dan masih ada kamar kosong. -Ini Kemalangan kami yang pertama-

- Setelah akhirnya dapat kamar walaupun dengan kategori hotel melati, tujuan selanjutnya adalah mencari makan. Mobil yang kami sewa digunakan untuk keperluan lain, jadilah kami naik angkutan umum untuk mencari makan dengan kondisi tidak tahu jalan, tidak tahu arah, tidak tahu apa-apa, buta. Alun-alun Kota Malang akhirnya menjadi tujuan kami. -Inilah Kemalangan kami yang kedua-

- Kota Malang, yang terkenal dengan Baso Malangnya menjadi makanan pokok kami di sana. Entahlah mungkin karena memang terkenal dengan basonya atau hal lain yang tidak bisa saya ceritakan disini. -Inilah Kemalangan kami yang ketiga-

- Setelah acara selesai, kami harus segera ke Bandara mengejar pesawat. Dari hotel kami naik angkutan umum ke Terminal, Naik bis ekonomi menuju Terminal berikutnya, dilanjutkan dengan naik taksi menuju Bandara. Perjalanan yang penuh dengan kepadatan penduduk dan para pedagang asongan. Rengekan tangis anak-anak yang kepanasan, bau balsem/kayu putih/minyak angin semerbak yang membuat saya menutup hidung selama perjalanan. -Inilah Kemalangan kami yang keempat-


***

Kemalangan-kemalangan yang terjadi membuat saya akhirnya mengerti bahwa tidak semua orang dapat menikmati dinginnya AC mobil atau sekedar duduk di atasnya. Beberapa harus berjuang berdesak-desakan memburu waktu untuk sesuap nafkah. Saya iba pada mereka namun hal ini justru memotivasi saya sedemikian rupa bahwa saya tidak ingin mengalami nasib yang sama dengan mereka.

Di Kota Malang ini saya menemukan cinta dalam arti kata yang lain, kemandirian.
Apakah memang seseorang itu harus ditempa kemalangan dulu hingga akhirnya dia dapat bangkit dan berusaha untuk tidak mendapat kemalangan kedua? Entahlah, yang pasti saya lelah. Jadi saya akhiri saja tulisan ini dan sampai bertemu di Kota Ketiga, Kota Manado yang tak sabar kunantikan.

08 December 2010

Cintaku di 6 Kota (Bandung) #Part1

Cintaku di 6 Kota dimulai dari Kota Bandung.

Sebuah prakata singkat sebelum kalian membaca lebih lanjut.
Saat itu, kita disibukkan dengan pembuatan proposal demi menjaring klien baru. Boleh dibilang klien ini cukup bergengsi tak usah kusebutkan siapa dan apa, tetapi yang terpenting adalah tembus atau tidaknya proposal ini. Setelah beberapa kali teman kami bolak-balik ke Jakarta untuk presentasi, akhirnya tembuslah presentasi kami yang artinya calon klien telah menjadi klien dan eventnya akan kami eksekusi, titik.
Eventnya boleh dibilang cukup sederhana, hanya menggelar senam rematik dan talkshow tentang rematik di sebuah ballroom hotel. Hotel bintang 4, ballroom yang luas dan tak bertangga karena khawatir peserta senam yang notabenenya lansia tak kuat untuk menaiki tangga.

Nah, mari kita intip bersama-sama bagaimana persiapan dan perjalanan kita mengarungi bahtera event roadshow senam rematik di 6 kota ini.

- Persiapan yang dilakukan adalah booking hotel yang mempunyai kriteria ballroom yang sudah disebutkan di atas, dan pilihan jatuh pada NOVOTEL. Done.
- Persiapan selanjutnya adalah konfirmasi peserta, ternyata peserta senam dan talkshow ini adalah pasien-pasien yang sudah direkomendasikan oleh para dokter dari pihak klien. Cukup mudah, karena datanya sudah ada dan kami hanya tinggal melakukan follow up peserta saja.. Done. (ada cerita tersendiri mengenai peserta ini dan cerita yang berbeda dari tiap kota, nanti aku ceritakan detailnya).
- Persiapan lainnya adalah sewa menyewa alat, dari mulai panggung, sound system, screen dan infocus, video syutting, kamera, clip on head, walky taklie, dll. Done. (khusus untuk penyewaan alat ini kami percayakan pada tim kami yang sudah ahli dalam bidangnya, zyred).
- Selain alat, kita juga menyiapkan sumber daya manusia yang berfungsi sebagai LO, Meja Registrasi, Penitipan Barang, Usher, Runner.

Dan inilah Kota Pertama dari 6 Kota "10 Tahun Beraksi atasi Rematik Bersama Klien" di Kota Bandung, Kota Kembang. "Kumaha Damang, Neng Geulis?"

Jumat, 23 Juli 2010

Hari jumat ini adalah adalah press conference, kami mengundang media untuk sekedar makan siang bersama dan informasi mengenai Senam Rematik besok di Kota Bandung dan Kota - Kota selanjutnya. Media juga terlibat dalam talkshow mengenai kasus-kasus rematik yang ternyata 95% sebab-sebab rematik itu sekedar mitor yang beredar.
Acara berlangsung lancar, atensi media juga cukup besar karena memang rematik ini masalah yang cukup serius.

Di balik suksesnya acara, ada kejadian-kejadian di balik layar yang sayang untuk dibuang, salah satunya;

1. Pemasangan backdrop yang memakan waktu hampir sejam itu pun sudah ada 6 tangan yang terlibat. Kami terus berpikir bagaimana cara nya supaya backdrop terlihat rapi, solusinya adalah selotipe kertas dan double tipe. Thanks to the creator.

2. Ceklist itu adalah napas kami tim lapangan. Ceklist hilang, mendadak lupa ceklist akan berakibat fatal pada keberlangsungan event. Setidaknya itu yang diajarkan kepada saya namun pada kenyataannya tidak seindah itu. Banyak barang yang tertinggal di kantor. Tetapi posisi venue dan kantor kami dekat jadi kami diuntungkan dengan itu, sehingga list-list yang terlupa bisa dibawa dari kantor.


Sabtu-Minggu, 24-25 Juli 2010

Kita intip kejadian-kejadin H-1, menjelang hari H, dan saat hari H.

- Daftar peserta yang sudah direkomendasikan oleh para dokter ternyata 50% nya tidak bisa datang. Hal ini cukup membuat kami pusing karena target peserta 100 orang. Jadi yang kami lakukan adalah menyerbu tempat-tempat olahraga; Gasibu, Sabuga, Tegalega untuk mencari peserta baru.

- Jam 00.00, loading dock. Semua barang sudah disiapkan dan tetap ada saja yang tertinggal!!!

- Jam 03.00, kami –saya dan zyred- berkeliling kota Bandung untuk mencari tukang tambal, printer dan foto copyan 24 jam. Printer dan foto copy dapat dijumpai disepanjang jalan dipatiukur. Tidak dengan tambal ban!

- Jam 04.00, kami berada di Suci tepatnya di belakang Pusdai. Akhirnya kami menemukan tempat tukang ban yang mau membantu kami untuk mempompa bola sebanyak 150 buah dengan cepat.

- Jam 05.00-06.00, saya disibukkan dengan mengambil bola-bola yang sudah tertiup itu untuk dibawa ke hotel. Bola-bola ini adalah salah satu alat peraga saat senam rematik dan bola-bola ini harus sudah ada di area senam sebelum peserta berdatangan. Sedangkan peserta sudah mulai berdatangan pukul 06.00. saat bola itu belum dipompa, jumlah 150 buah dapat dengan mudah tersimpan di dalam dus. Dapatkah kalian bayangkan bola yang berdiameter 30 cm setelah dipompa??? Di dalam mobil xenia hanya mampu membawa 50 buah bola. Jadi iya saya harus bolak-balik-bolak-balik untuk membawa semua bola-bola itu sendiri, ditemani suara ringtone HP dari bos yang bolak-balik telepon, muter-muter jalan karena gasibu mulai dipadati pasar tumpah sedangkan dago ditutup karena car free day!

- Jam 06.00-10.00 acara senam rematik dan talkshow rematik.

- Jam 11.00-14.00 saatnya beres-beres. Dan ternyata mengempeskan bola itu lebih sulit daripada memompanya!


Sekedar opini pribadi … sedikit curhat …

Saya sebagai anak baru yang langsung terjun dalam event yang cukup besar ini, sedapat mungkin melakukan yang terbaik dalam segala hal. Terkadang apa yang baik untukku belum tentu baik untuk mereka, maksudku belum tentu dianggap baik. Human Error itu dapat terjadi pada siapa saja, bukan bermaksud membela diri. Toh, ceklist yang sudah disiapkan juga tidak membawa pengaruh apa-apa terhadap persiapan.

Ditengah-tengah persiapan, Andry Utu Tulung, sang teman, sang sahabat, sang kekasih datang ke venue hanya untuk mengantar makan malam yang sudah larut karena jam sudah menunjukkan pukul 02.00. Kondisi seperti ini mana bisa ingat akan rasa lapar, namun ini adalah momen berharga.

Dan dari semua kejadian itu, ada satu kejadian yang akan menjadi kenangan, kejadian yang menampar mentalitas saya. Suatu pembelajaran yang mendewasakan; yang awalnya membuat saya menitikkan air mata sakin geramnya; yang pada akhirnya menyadarkan saya di kemudia hari.

-Menyetir mobil kantor dengan setumpukan bola-bola (maaf) jahanam itu, diburu oleh waktu yang hanya tinggal hitungan menit, didera oleh bos yang berkali-kali nelepon, dibuat linglung dengan pedagang-pedagang (maaf) sialan yang membuka lapak di lapangan gasibu hingga menutup jalan dan kegiatan (maaf) brengsek car free day itu yang menolak mentah-mentah pengendara beroda empat, dipertanyakan kreadibilitas saya oleh klien sebagai koordinator lapangan karena tidak hadir saat briefing selagi saya berkutat dengan bola-bola jahanam itu. Dan saya berhadapan dengan itu semua sendiri. Apakah berlebihan jika saya sekedar mengumpat di tengah air mata yang turun dengan derasnya beberapa saat menjelang event?-

***

Inilah awal mula cinta itu mulai bersemi, waktu yang terus memburu, tenaga yang sudah terkuras, pikiran yang lunglai, kantung mata yang timbul, air mata yang sudah terlanjur meleleh, umpatan yang terlontar pada angin.
Semua itu mendadak hilang saat peserta keluar dari ballroom tersenyum puas dan menikmati acara ini; saat pihak klien menghampiri lalu menjabat tangan dengan mengucapkan “Terima Kasih Yah”.

Hanya sepenggal kata “Terima Kasih Yah” dengan senyuman meluluhlantakkan amarah saya.

Event Roadshow pertama ini telah selesai dengan pernak-pernak emosi di dalamnya. Masih ada Kota-Kota selanjutnya ...

Jadi sampai bertemu di Kota kedua, Malang.

to be continued -----> malang ...