Showing posts with label #30HariMenulisSuratCinta2014. Show all posts
Showing posts with label #30HariMenulisSuratCinta2014. Show all posts

27 February 2014

Jalanan

Hai kamu, si pengguna jalan,

Perkenalkan aku yang tadi malam ngomel-ngomel parah agak sedikit memaki kamu. Aku nulis surat ini buat kamu dengan dua tujuan, yaitu :

1. Bentuk permohonan maaf
Maaf, aku nampaknya memang keterlaluan memaki kamu sebegitu hebatnya dan membuat hati kamu terluka. Siapa yang ngga sakit coba dimaki-maki sama orang asing yang mau nabrak pulak. 

2. Bentuk himbauan
Begini loh, Jeng. Zebra cross itu dibuat khusus untuk orang menyebrang jalan. Bukan sekedar hiasan hitam-putih biar ngga monoton. Bukan pula sekedar iseng ngabisin cat. Tapi ada fungsinya! Orang yang punya SIM juga tahu kalau ada zebra cross dahulukan penjalan kaki. Ya ngga tahu yah kalau ada yang ngambil SIMnya di Apotik. Maksudnya kita kan sesama pengguna jalan yah sama-sama punya hak untuk menggunakan jalan. 

Lain kali kalau mau nyebrang lihat kanan-kiri dulu yah. Terus jangan plin-plan, kalau mau nyebrang yah nyebrang dong! Tetapkan pilihan kamu, jangan mundur lagi sambil ketawa-tiwi. Menyebranglah di tempat yang sudah disediakan, kan pemerintah sudah bikinin tuh yang namanya zebra cross, jembatan khusus penyebrangan.

Kalau mau main-main di lapangan sana (ya kalau masih ada lahannya ngga dijadiin perumahan) bukan di jalanan. Ingat hidup di jalanan itu berat, Sist!

Sekian surat ini aku buat khusus untuk kamu yang entah siapa dan di mana.

Salam Jalanan,

Eva, yang hampir nabrak kamu.

22 February 2014

Gang Seribu Punteun

Hai hai hai Icha cha cha maricha ndut eh hei hei hei ....

Selamat Siang Icha,
Sedang break kah dirimu saat membaca surat ini? Atau malah kamu tengah berbaring manis manja di antara tumpukan bantal sambil membaca surat ini lalu sesekali menengok jendela memandangi bintang di langit malam menunggu rasa kantuk menyergap setelah seharian beraktivitas? Jangan datang dulu yah, Kantuk. Biarkan Icha membaca sampai surat ini selesai kemudian tertidurlah. Aku lanjutkan yah, sudah posisi wuenak kah?

Cha, masih ingat kah waktu suatu sore kudatang berkunjung ke rumahmu lalu kita diskusi ngalor-ngidul perihal gang seribu punteun. Damn! Itu seratus persen benar adanya! Beberapa teman terbaikku rumahnya berada di dalam gang-gang kecil -yang hanya cukup satu motor-. Rumahmu, rumahnya Nene, Rumahnya Evi serta kembaran Eva, dan sekarang kostannya Minke. Sejujurnya aku mengalami ketakutan setiap melewati gang-gang kecil itu apalagi jika ada motor dari arah yang berlawanan. Takut ngga bisa jaga keseimbangan, takut nyenggol motorku atau motor orang lain -udah tau ini gang kecil masih aja ada yang parkir di gang sembarangan- takut spion motorku tergores tembok, takut tiba-tiba muncul anak kecil berlarian nyebrang, takut tabrak kucing, takut motor aku dicuri -banyak kejadian motor dicuri di dalam gang sempit justru-, yah intinya ketakutan. Dan sialnya rumahmu yang di dalam gang itu yang paling sering kukunjungi. :D

Etapi dengan seringnya aku main ke rumahmu -yang harus melewati gang- secara tidak langsung mengajari aku untuk menjadi pribadi yang lebih ramah. Bagaimana tidak? Tingkat kepadatan jumlah penduduk jelas lebih tinggi dibandingkan dengan area perumahan. Rumah satu dengan rumah lainnya saling berhimpitan, maka tak heran jika gang depan rumah pun dijadikan teras, area bermainnya anak-anak. Itu sebabnya ketika memasuki pintu masuk gang aku mulai tebar senyuman di mana-mana,

"Punteun", pada Ibu yang sedang menyuapi anaknya.

"Punteun", pada Abang-abang becak yang sedang asyik main catur sembari menunggu penumpang.

"Punteun", pada Mba yang lagi ngejar adiknya main sepeda.

"Punteun", pada Tukang Baso Tahu yang menunggu piring di depan sebuah rumah.

"Punteun", pada Teteh-teteh yang asyik ngerumpi di samping Tukang Cilok.

"Punteun", pada Anak-anak yang beringus sambil menikmati es puter.

"Punteun", pada Mas-Masnya yang parkir motornya terlalu serong ke kanan.

"Punteun", pada kucing yang asyik mengerogoti ikan pindang curian.

"Punteun", pada Ibu-ibu yang lagi nyuci berjamaah. Eh, salah deng! Ini mah pas ke rumahnya Nene.

"Punteun", pada Pemuda yang nongkrong sambil main karambol. Eh, maaf! Ini pas ke rumahnya Evi.

"Punteun", pada Tukang sampah yang gerobaknya mejeng indah di tengah-tengah gang. Duh, maaf salah lagi! Ini pas ke kostan Minke.

Pada akhirnya "Punteun ...... Ichanya ada?".


Selain menjadi pribadi yang lebih ramah dan sopan, aku juga belajar bahwa kehidupan di gang penuh aneka warna cerita. Betapa penghuni rumah saling mengenal dan mengetahui kisah di balik pintu penghuni rumah lainnya hingga rumah ujung gang sekali pun. Perhatian sama kepo memang beda tipis yah? Iya. Over all penduduk yang tinggal di gang cenderung mempunyai jiwa sosial yang tinggi dibanding area perumahan. Yang saling kenal paling pembantu, supir, tukang kebun atau babysitternya doang. :D
Mereka -penduduk di dalam gang- terlihat lebih harmonis dengan para tetangga, yah setidaknya yang terlihat kan aku cuma selewat doang.
Kali waktu aku lewat ada teriakan terdengar di sebuah rumah, itu loh Cha yang pagernya coklat (lah jadi gosip), dari intonasi suaranya sik kayanya lagi berantem hebat. Pernah juga pas lewat ada Ibu yang marahin anaknya karena nilai jelek, Ibu yang ngomel lakinya jarang pulang, Bapak marahin istrinya belanja mulu, pemuda dan pemudi ketawa riang cekakak cekikik mesra di ruang tamu, gosip seru para remaja putri dari jendela kamar yang terbuka, kucing berantem sama kucing, kucing berantem sama tikus, kucing berantem sama anjing, anjing menggonggong kafilah berlalu demikian aku pun melaju dengan varioku. I'm Vario, what about you? 

Rasanya sudah cukup panjang aku menuliskan ini, matamu sudah lelah kah? Kantukmu sudah datang? Tapi aku masih punya satu cerita lagi! Ah, tidak ... tidak ... aku tidak akan menyita waktumu lebih lama lagi. Nanti saja dengarkan ceritaku secara live yah di rumahmu. Have a great weekend. 

Salam Punteun,

Eva


Dari balik jendela, apa yang kamu lihat?
Gang Seribu Punteun! :D

20 February 2014

Teruntuk Nene

Yuhuuuu Nona Nenci

Ne, jam malam di rumah masih berlaku? :D
Ya masa umur udah dua puluh something masih berlaku jam malam sih di rumah? 
Kalau lagi ngumpul bareng kamu suka ganggu deh dengan pamit duluan perihal jam malam ini. Padahal kan kamu sudah dewasa, udah bener dewasa kan yah? Atau .... sila jawab dalam hati aja. :)

Ne, ngga nyangka yah hubungan pertemanan kita udah empat belas tahun lamanya. Berasa baru kemarin sore deh kita upacara bendera bareng tiap hari Senin, naik angkot bareng, latihan dan ngerekam buat pementasan kabaret, naik gunung bareng demi mendapatkan syal kuning, latihan buat pementasan teater, dan kerja bareng. 

Ne, sadar ngga di kaki kita ada benang tipis merah yang saling mengikat, mengikuti ke mana saja langkah kita berjalan. Ketika aku jadi guru privat, aku lempar anak-anak lesku padamu karena aku malas mengajari mereka matematika. Saat aku, jadi guru magang, kamu hadir di kelasku jadi helper salah satu anak muridku, masih kah kau ingat namanya? Duh, kelakuannya bikin aku menyerah sajalah jadi pahlawan tanpa tanda jasa. Lalu, aku kerja di dunia event, kamu pun banyak bantuin aku jadi tim yang sangat aku percaya kerjanya. Sekarang aku terjun dalam dunia wedding, kamu sudah berkutat menjadi guru mengurusi anak-anak batita yang masih belum bisa pipis sendiri. He he he.

Kamu memang pandai dan handal dalam menghadapi batita. Tidak seperti aku, Icha, apalagi si judes ii (semoga dia tidak baca suratku). :)
Aku tahu kamu sangat menikmati pekerjaanmu menjadi guru, dapat kupastikan semua muridmu menyayangimu. Apalagi kamu orangnya kreatif dan pintar menggambar, anak-anak kan lebih menyerap sesuatu dengan visual. Jangan pedulikan dengan teman kerja, masalah administrasi, keuangan, dan hal lainnya yang membuat kamu bosan lalu menyerah. Ingat lagi kelakuan muridmu, canda tawa bahagia mereka saat kamu sudah mulai bercerita tentang dongeng kelinci dan sebuah batu -yang pernah kau ceritakan padaku-. Bukankah kamu merasa bahagia dan tertawa dibuatnya melihat ekspresi murid-muridmu? 
Jadi, pertimbangkanlah matang-matang sebelum memutuskan sesuatu. Oke? Oke!

Yah, kusudahi saja surat ini yah. Siapa tahu kamu sedang sibuk, tak akan kuganggu lebih lama waktumu hanya untuk membaca suratku. Have a sweet Thursday.

Salam Kangen,

Eva

Ssttt, setelah diobrak-abrik kok kita jarang foto berdua yah????

Entah ini foto jaman kapan????

19 February 2014

Lagi Kangen Kamu

Dear You My Riri,

Loha halo ii, gimana Jakarta masih kebanjiran kah?
Masih ngungsi ke apartemen? Duh, kebayang yah nyampe rumah langsung beresin lumpur dan tanah yang melekat pada tembok dan perabot rumah. Hih!

Hei, ii jangan kaget tetiba aku nulis ini khusus buat kamu. Aku lagi ikut program #30HariMenulisSuratCinta, program yang membuat aku (harus) konsisten menulis surat -yang kadang ngga ada cinta-cintaannya- selama 30 hari. Hempph, sudah absen tiga hari sih sejauh ini. Kan yang penting kehadiran 75% bisa ikut ujian. #dikatakuliah.

Ngga ada alasan spesifik mengapa aku nulis buat kamu selain lagi dilanda rasa kangen. Kangen numpahin kopi ke celana atau tas barumu, kangen nyemburin air tepat ke muka kamu, kangen jambak-jambakin rambut kamu yang lebih panjang dan hitam, kangen ngeledekin teman-teman date kamu yang luar binasa, kangen gigitin lengan kurus kamu, kangen mencibir bibir kamu yang kaya tweety, kangen rebutan makan tahu bulat, kangen nginep bareng sambil gulung-gulung kamu di kasur, kangen ngomentarin apa aja tentang kamu, kangen ... pokoknya aku kangen berat sama kamu.

Eh, katanya -entah kata siapa- kalau kita sudah temanan lebih dari tujuh tahun maka akan berlangsung selamanya, everlasting (sama kaya nama WO gue, ii #sekalianpromosi) gitu! Tahun lalu kita berempat baru ngerayain 8th anniversary friendship. Wow! Sudah selama itu yah ternyata. Terima kasih loh buat tart browniesnya yang langsung dikirim ke rumah Icha, alhasil aku cuma kebagian fotonya doang. Duh, kamu kaya ngga tahu aja gimana Icha suka kalap kalau soal makanan (mudah-mudahan dia ngga baca surat ini). :D

Kadang-kadang kalau lagi bengong, suka teringat sama kalian terutama kamu, ii. Kita berempat tuh ngga ada yang sama, beda semua. Dari menu makanan, minuman, musik, film, cowok, pendapat, bahkan cara kita berpakaian. Coba kapan kita pernah sepaham terhadap satu pendapat? Tapi kok yah pertemanan kita masih bertahan hingga saat ini yah? Suka ngga habis pikir atau malas pikir aja sik. He he he.

Oh iya, kamu mau ke Bandung tanggal 8 Maret nanti yah? He he he, akunya lagi ada kerjaan di Jakarta.
Nah, ini satu kebetulan yang mengherankan! Setiap kamu main ke Bandung selalu bertepatan dengan aku yang lagi ada kerjaan di Jakarta. Pffttt! Ganti tanggal aja sik, biar kita bisa ketemuan. Sudah setahun ngga ketemu kan kita?

Ya udah gitu aja lah yah, akunya ngga bisa basa basi. Have a wonderful Wednesday, my ii.

Salam Kangen,

Eva


Lucu yah aku eh kita! :D

18 February 2014

Bersediakah, Tuan?

Selamat siang tu(h)an pohon pemilik akun tuannico,

Hai, apa kabar, Taun eh Tahu eh Tuan? Masih kah Tuan pelihara kumis? Masih kah suka memeluk pohon?
Mungkin Tuan merasa sedikit terkejut mengapa saya mengirim surat ini untuk Tuan, mengapa? Mengapa Tuan? Tanyakan hal ini pada Bose yang memberikan tema khusus ... ya Tuan tahu lah apa itu temanya.

Sebelum surat ini saya lanjutkan, tidak masalah kan saya memanggil dirimu, Tuan? Lebih enak terdengar saja daripada Nico atau Tuan Nico atau tu(h)an pohon atau kamar depan atau ... by the way nama asli Tuan siapa? 

Oh iya, ijinkan saya memperkenalkan diri dulu. Tuan, cukup memanggil saya dengan sebutan Eva ngga usah pake embel-embel lain apalagi sayang. #halah. Melalui gathering 30 hari menulis surat cinta, kita dipertemukan. Dua kali rasanya kalau ingatan saya tidak salah tapi teman-teman bilang saya itu pelupa. Waktu itu memang kita tidak ngobrol banyak hanya sekedar saling menyapa dan kebetulan Tuan membaca surat lamaran saya tahun lalu jadi tukang pos. Kata Tuan, saya nyaris diterima. Dan saya lupa menanyakan mengapa saya akhirnya tidak diterima? Mengapa Tuan? Saya sedih, siapa yang tidak sedih dengan sebuah penolakan? Tapi yah hanya berlangsung beberapa menit entah detik yah sebab kata teman-teman saya itu pelupa.

Tuan, melalui surat yang sedang Tuan baca ini, ijinkan saya kembali melamar oh bukan oh bukan melamar jadi tukang pos, Hah? Apa! Bukan pula melamar Tuan jadi kekasih apalagi suami tentu saja tidak, Tuan! Sebab Tuan sudah memiliki kekasih demikian pun saya. Akan tetapi sebelum Janur Kuning melambai-lambai di depan rumah Tuan, saya masih punya kesempatan mengajak Tuan berjalan-jalan keliling Bandung di sore yang semoga saja cuacanya cerah. Naik mobil Agya hanya kita berdua, berkeliling hingga sampai ke Dago Giri. Kalau cuacanya cerah, kita bisa ngopi sambil menikmati cantiknya senja di sana. Bersediakah, Tuan?

Saya sudah menyiapkan list topik hemph atau pertanyaan yang sekiranya akan kita perbincangkan nanti kalau saya terpilih berkencan bersama Tuan. Ha ha ha, tenang! Bukan soal politik, filsafat atau sekedar kucing tetangga yang mati kemarin sore karena tertabrak motor pemilik kampung sebelah melainkan perkara persiapan pernikahan. 
Sudah kah Tuan mempersiapkan semuanya? Tempo hari Tuan sedang mencari cincin yah? Sudah menemukan yang cocok? Ah, kapan yah cincin tersemat di jari manis saya? #eh. 

Sekian surat lamaran ajakan ngopi ini saya buat di siang bolong teriknya matahari Bandung. Bersediakah, Tuan menerima (ajakan) saya? Saya tunggu kabar baik dan buruknya. Terima kasih atas perhatiannya sudah membaca. Have a lovely Tuesday.


Salam hangat 
sehangat kopi #cheers


Eva, yang kerjaannya 
ngurus pernikahan orang

Sssstt, ini ada sedikit oleh-oleh foto; langit senja.

Senja di Lawang Wangi, Dago Giri

17 February 2014

Napak Tilas

Dear you, My Minke

Hai kamu yang sedang duduk di depan aku.
Sebenarnya ini agak aneh sih yah aku menuliskan surat untuk kamu yang sedang duduk tepat di depanku sehingga aku harus waspada kalau kalau kamu menengok ke arahku.

Sebenarnya surat yang sedang kamu baca ini mau aku kirim tepat pada hari Jumat lalu. Heeh, ceritanya mau beromantis-ria kamu dapat surat dari pacar pas Valentine gitu. Tapi kemudian aku pikir dan ngebayangin kamu pasti bilang "Apaan sik kamu. Pake ngirim surat segala. Pasti ada maunya ini mah". Maka dipending saja deh ngirimnya biar ngga kentara banget ada maunya. Gitu. He he he.

Sebenarnya agak menyebalkan loh ketika kamu bisa menebak dengan tepat apa yang sedang aku pikirkan dan apa yang ingin aku utarakan. Apa memang aku orangnya gampang ditebak yah? Masa sih? Ah, yang bener akh!

Aku masih ngga percaya loh kita ketemu hampir tiap hari sekarang. Masih agak jetlag. Resolusi kamu tahun 2013 kemarin akhirnya tercapai juga yah, pindah ke Bandung. Terus terang aku terkejut saat mendengar keputusan final kamu. Meninggalkan apa yang telah kamu capai untuk memulai sesuatu yang baru di kota yang (masih) asing. Ada kegembiraan di hatiku, akhirnya kita keluar dari LDRUnite. He he he. 
Tapi, selalu ada tapi yah? Iya. Mengapa kabar baik selalu diiringi dengan kabar buruk? Mengapa tidak bisa membiarkan kabar baik datang sendiri dan menghilanglah segala yang buruk. Setiap keputusan itu pasti mengandung resiko dan kamu harus siap dengan segala macam resiko yang akan atau telah muncul. 

Melalui surat ini -yang dari tadi kamu tanyain terus ngirim buat siapa lagi sekarang?- aku cuma mau bilang selamat datang di Kota Bandung. Jangan jadikan aku prioritas atas keputusan kepindahanmu tapi jadikan sebagai langkah awal untuk memulai sesuatu yang lebih besar, hidup baru. Pertahankan terus semangatmu yah. Dan jangan hiraukan omelan-kicauan-bawelan-dumelan-ocehanku tempo hari, mungkin itu disebabkan frekuensi bertemu kita yang keseringan. Biasanya sebulan sekali ini hampir tiap hari kecuali minggu, soalnya kalau libur tutup. #DikateToko

Oh iya, sebelum kuakhiri surat yang bukan cinta ini, aku mau bilang terima kasih banyak karena entah kamu menyadarinya atau tidak kamu telah menjadi sumber terbesar inspirasiku dalam membuat cerpen. Masih ingat saat kita diskusi lagu-lagunya Pearl Jam, kamu minta aku bikin cerpen yang judulnya Black tapi aku malah lebih tertarik dengan Jeremy. Ketika kita sedang berusaha saling mengenal pribadi masing-masing, hasil chat di YM yang tak karuan itu melahirkan Percakapan Penuh Grgrgr. Saat rindu terobati melalui chatting rutin aku menuliskan Selagi Kau Terlelap sebagai penawar rindu. Pertemuan demi pertemuan membuka kedudulan kita masing-masing menjadikan Wanita Dudul Terindah, membuka pikiran kita tentang arti dari Sepasang Kekasih Yang Kesepian, serta hal-hal yang sering kita alami seperti Basah. Kemudian diakhiri dengan Karena Kedai Ini. Itu semua adalah cerpen yang kubuat dengan racikan bumbu hubungan kita. Kamu sadar ngga? Coba deh nanti kalau ada waktu luang kamu baca lagi satu-satu yah. Sekedar menapak tilas hubungan kita, mengembalikan rasa yang agaknya mulai menghambar, mengenal lebih dekat tokoh-tokoh di dalamnya. Selamat Siang My Minke.


Your Eva.

13 February 2014

Surat Untuk Panci

Dear you my Panci

Hi there, how's your day?
In here is so so. You know the routine things. I have been thinking about our last conversations and unfortunately I still haven't knew the solution yet. 

It's been years you know that I never written even spoken in English. So then it's very true practice makes perfect. He He He. By the way, can you find a remote then switch to Bahasa, can't u?

Nah! Much better. 
Pan, aku nulis surat ini untuk kamu bukan cuma sekedar karena ngga ada orang lain yang mau aku kirimin surat melainkan karena yah kepengin aja. Setahun yang lalu aku pernah kirim kamu surat juga kan? Masih ingat ngga isinya apa? 
Ternyata dalam setahun banyak sekali perubahan yang sudah kita lewati. A new year, a new man, a new love, a new thoughts, a new life! 

Dan ah bicara soal cinta memang tidak akan pernah ada habisnya. Namun, dalam setahun ini pemahaman kita (atau mungkin hanya aku saja) telah berubah. Well, entah itu semacam peningkatan atau justru kemunduran, aku tidak lagi memandang cinta sebagai suatu perasaan mendalam terhadap seseorang. Cinta butuh diungkapkan dan dilakukan bukan sekedar kata-kata manis yang menghanyutkan hingga pipi merona dan senyum tersungging. Been there, done that! Sound cynical? 

Be realistic! Memangnya perut kamu kenyang dikasih kata-kata puitis, tagihan kamu akan terbayar dengan bunga-bunga segar aneka warna, masalah melebur seperti coklat yang meleleh di mulut? See?
Money can't buy love but love can't pay the bills.
Emang bedanya tipis sih antara matrealis sama realis. Tapi kayanya hanya pria kere deh yang bilang wanita itu matre. Mungkin, mungkin juga ini yang dirasakan oleh Mamamu, Pan. Kebahagiaan kamu akan jadi kebahagiaannya juga. Walaupun kadang kebahagiaannya belum tentu bakal jadi kebahagiaan kamu.
So, don't be afraid ! Everything is gonna be okay. #kemudiannyanyi. 
Kamu akan menemukan pria yang tepat pada waktunya nanti yang punya cukup cincin dan harta buat modal nikah. #Lah

Salam Tempel Duit,

Your Eva


Gambar dari sini

12 February 2014

(Bukan) Surat Cinta dari Bandung

Dearest Onty Vanda

Vanda, apa kabar ladang strawberrymu? Sudahkah mereka berbuah lebat? Ijinkan aku memetik satu hem dua hemmm tiga oh well sekeranjang buah berry merah segar di sana.

Lucu yah kita? (tapi aku lebih lucu!) Memandang hidup dari cara kita menyukai sesuatu. Aku bilang : Kau tak akan pernah tahu kelembutan dalam cangkir cappuccino, jika kau belum pernah merasakan kepahitan dalam kopi hitam. Kamu bilang : sour or sweet ... that's the story of life we live in, just like strawberry. Percayalah hidup tidak sekedar pahit-lembut, asem-manis. Ada rasa lain yang mengejutkan macam nano-nano, ramai rasanya. 

Maaf aku baru membalas surat cinta manis dan tulusmu, Surat Cinta dari Surabaya yang rasanya teramat renyah. Sakin renyahnya membuatku terdiam sejenak setelah membacanya. Kemudian membacanya lagi dengan amat hati-hati setiap kata yang kau tuliskan. Betapa amat perhatiannya kamu, Onty Vanda.

Benarkah kita dipertemukan oleh program #30HariMenulisSuratCinta tahun lalu? Bagaimana awalnya kita bisa saling mengenal yah? Sebab rasanya kita sudah saling mengenal jauh sebelum itu. 

Meskipun kita belum pernah bertemu secara langsung namun dengan seringnya kita saling mengunjungi 'rumah' satu sama lain menjadikan hubungan kita semakin hangat. Seperti hangatnya coklat kesukaanmu atau cappuccino hangatku. Melalui rangkaian kata di dalam tulisan -baik fiksi maupun keseharian- menjembatani jarak yang terbentang di antara kita. Deretan kisah di dalam tulisan membuka jendela pribadi kita masing-masing bagaimana memandang dunia. Untaian surat (bukan) cinta yang tertuju kepada (si)apa saja mengungkapkan perasaan kita tentang (ke)hidup(an). 

Betulkah demikian adanya? Entahlah, mungkin disebabkan karena aku selalu terhanyut larut bersama (r)asa dalam setiap cerita yang kau hidangkan di 'rumah' ketika aku berkunjung. (Aku bicara soal Jamuan Istimewa). Menggerikan yang bikin ketagihan.

Salam gelas cappuccino dan asbak

Your Eva

11 February 2014

Kepada Kalian Yang Berbahagia


Pasangan pengantin di Pelaminan

Kepada pasangan pengantin berbahagia yang duduk di pelaminan,

Hai, surat ini kutujukan kepada kalian pasangan pengantin yang telah menikah 02 Februari lalu. Aku ucapkan selamat berbahagia dan selamat menempuh hidup baru. Mungkin, kalian bertanya-tanya di atas sana,

"Itu cewek, teman apa saudara kamu?"
"Yang mana?"
"Yang itu, yang lagi foto kita?"
"Ngga tahu, kenalan keluarga kamu kali?"
"Kamu ngga kenal?"
"Ngga. Kamu?"
"Ngga!"

Iya, kalian sama seperti aku kok yang tidak saling mengenal. Maaf, aku datang ke pernikahan kalian memang bukan sebagai tamu undangan, pengisi acara, apalagi bikin rusuh. Oh tentu saja bukan, melainkan atas undangan pihak catering untuk test food. :D

Begini, pekerjaan aku sebagai WO (Wedding Organizer) menuntut untuk mengetahui vendor-vendor yang ada di Bandung. Salah satunya vendor catering, agar aku dapat merekomendasikan kualitas mereka kepada klien -yang nantinya akan seperti kalian duduk di atas pelaminan-. Yah, untuk mengetahui kualitas rasa, kerapihan penyajian, keindahan dan kebersihan, dan lainnya adalah dengan datang saat mereka (si vendor) sedang ada acara wedding. He he he. 

Tenang, aku bukan wedding crasher (tamu tak diundang) apalagi wedding crusher (pengacau pesta). Aku selalu konfirmasi dulu ke vendor yang bersangkutan jadi aku datang atas undangan vendor tersebut. Dan soal makanan yah hemmm tidak perlu khawatir pihak catering -yang rekomended- pasti selalu menyediakan lebih dari porsi yang dipesan. :D

Eh iya, waktu itu tamu undangan menumpuk di pintu masuk dan ada jeda lama sekali saat musik berhenti sebelum akhirnya mc mulai bicara. Dugaanku kalian tidak pake wo yah? Kalau kalian pake wo kecil kemungkinan hal-hal tersebut terjadi. Lah, malah promosi. Well, sekali lagi selamat menempuh hidup baru yah kalian. 

Happy Wedding Day,

Eva

09 February 2014

For Frontal Admirer, S.

Dear S 

Terharu sungguh saat aku membaca suratmu "Surat Cangkir" untuk "Si Penikmat Cappuccino". Tak kusadari ternyata dari sebuah kalimat "Kau tak akan pernah tahu kelembutan dalam cangkir cappuccino, jika kau belum pernah merasakan kepahitan dalam kopi hitam." mampu menyeretmu dari "zona nyaman".

Tepat sekali apa yang kau tuliskan di dalam suratmu, S bahwa ketika lidahmu belum pernah mencecap rasa pahit bagaimana mungkin kau dapat merasakan manis. Same thing with life. Apakah kamu tahu kamu sedang bahagia sekarang ini, S saat kamu belum mengenal ketidakbahagiaan.

S, terlalu banyak kepahitan yang kulalui hingga akhirnya aku dapat benar-benar menikmati apa yang disebut kelembutan. Baik dalam pekerjaan, pertemanan, percintaan, sampai masalah perkopian. Kopi hitam hanya membuat asam lambung naik. :|

Oh, iya S kamu selalu menyebutkan dirimu sebagai frontal admirer, mengapa S? Apa yang kamu kagumi dari seorang aku? Tidak ada yang luar biasa dariku sebenarnya, S. Justru tulisan-tulisanmu kini semakin baik. Tunggu! Bukan berarti tulisanmu dulu buruk hanya saja kamu lebih teliti dan detail dalam keseluruhan cerita. Tema yang diangkat mulai beragam walaupun rasanya masih percintaan, pintar mengatur plot, dan eksekusi yang cerdas. Ending yang tak tertebak itu mengagumkan loh! 

S, dalam surat ini aku juga mengucapkan terima kasih untukmu. Sebab kamu suka annoying nagih-nagih via twitter, via bbm cuma untuk minta aku update tulisan. He he he. Kesal menggemaskan yang menyenangkan.

Ketika kita nanti pada akhirnya bertemu, mungkin penampakannya akan seperti ini,

Cangkir Cappuccino dan Cangkir Kopi Hitam

Salam Cappuccino,

Your admirer Eva




08 February 2014

Janji(an)

Kepada Yang Terhormat Calon Suami,

Hai, namaku Evaliana. Kamu cukup memanggilku dengan sebutan Eva. Tanpa embel-embel sayang, yayang, yank, hubby, hunny, baby, beb, atau lainnya yang terlintas di kepalamu saat ini. Aku kurang begitu suka tetapi tidak juga benci saat kamu tanpa sengaja mungkin (ingin) memanggilku dengan Eva sayang. Itu kan cuma sekedar kata-kata. Maksudku adalah jika kamu memang benar sayang, buktikan rasa sayangmu itu dengan tindakan. Ini hubungan personal antara kamu dan aku bukan partai yang menggemborkan calon wakilnya dengan segudang janji-janji yang kalau teringat akan dipenuhi (kebanyakan sih pada ngga ingat).

Aku sudah muak dengan segala janji yang terlupakan. Untuk apa menjanjikan sesuatu yang bahkan kamu tidak bisa ingat kalau kamu pernah berjanji. Mengingat janji saja sulit apalagi untuk membuktikannya. Maka dari itu aku tidak mau menjanjikanmu apa-apa, seperti menjadi pendamping yang baik dan setia. Menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak. Membangunkanmu dengan aroma kopi hitam pekat. Memasak makanan kesukaanmu.

Oleh sebab aku tidak (atau belum) tahu siapa kamu. Begitu pun dirimu yang tidak (atau belum) mengenal aku. Apakah kamu juga baik dan setia? Menyukai anak atau anak-anak, kopi hitam, dan yang pasti aku tidak (atau belum) bisa memasak. Buat apa menjanjikan hal-hal –seperti beberapa yang sudah kusebutkan- untuk seseorang yang belum kuketahui keberadaannya? Belum saling mengenal satu sama lain.

Begini, Sabtu depan, aku ada rencana ngopi-ngopi cantik dengan beberapa sahabatku di sebuah cafe kecil di sudut kota. Aku akan memakai baju hitam sebab sebagian besar bajuku warnanya hitam padahal aku suka warna hijau.. Kalau kamu tidak ada acara Sabtu depan, bagaimana kalau kamu temui aku di sana.

Katanya, Tuhan akan mempertemukan kita pada waktunya. Siapa tahu Sabtu depan adalah waktunya kita dipertemukan. Aku akan ada di sana jam empat sore.

Dalam Penantian,

Calon Istri



Gambar dari Google

06 February 2014

Antrilah Di Loket

Dear Ikaff

Ikaaaffffff masih ingat dengan sepenggal lagu dari P Project?

Antrilah di loket untuk beli tiket
Siapkan dompet awas ada copet
Antrilah semua biar disiplin
Walau ’pala pusing
Betis varises asal dapat tiket
Antrilah di loket

Jangan mengerutkan kening karena aku tahu kamu pasti bingung dan bertanya-tanya ada apa gerangan dirimu dengan lagu ini atau apa hubungannya lagu ini dengan pertemanan kita? Yap! Tidak ada. Memang tidak ada kenangan khusus prihal lagu ini dengan kita. Tapi aku, hanya aku! Ulang CUMA AKU.

Seharian tadi lagu ini terus menerobos masuk ke dalam sel-sel ingatanku. Biasanya kan kita (oh well gueh) suka stuck in my head saat mendengar lagu yang terakhir didengar. Tapi tapi tapi masalahnya ngga ada yang puter lagu ini. Tiba-tiba saja ... (ini agak panjang jadi seduh teh dulu gih :D).

Mungkin, disebabkan oleh faktor aku telah mengantri selama hampir dua belas jam. Can you image that? DUA BELAS JAM kurang tiga puluh menit. Pagi tadi, hemph subuh tepatnya jam tiga subuh aku sudah mengantri cantik di depan kantor imigrasi yang bahkan pintu gerbangnya masih digembok Pak Satpam. Yap, aku mau bikin passport.

Apa? Kamu ngga percaya? Nih aku kasih bukti foto antriannya,

Antrian Kantor Imigrasi jam 06.00

Foto itu diambil sama Minke (penting disebut) seminggu yang lalu, datang ke sana jam enam pagi udah panjang mengular antriannya. Alhasil ngga kebagian nomor antrian karena dibatasi hanya 50 pendaftar doang. Katanya sih ada gangguan dari pusat dan blablabla gitu deh. Kirain segala gangguan bakal beres seminggu kemudian. Ternyata tidaaakkk! Walaupun jumlah kuota pendaftar nambah jadi 100 orang dan kita (Minke dan Aku) sudah antri dari jam lima tetep aja ngga kebagian juga. Karena sebagian dari mereka udah ada yang antri dari jam sepuluh malam. ((( JAM SEPULUH MALAM ))). Padahal Kantor Imigrasi bukanya jam delapan pagi. ((( JAM DELAPAN PAGI ))).

Tapi, akhirnya hari ini aku berhasil mendapatkan nomor antrian. HELL YEAH! Sungguh membutuhkan perjuangan keras sampai ngga tidur untuk mendapatkan secarik kertas kecil berisi nomor doang. 
Kegigihan untuk mengantri di loket (yang masih tutup) dari jam tiga subuh.
((( TIGA SUBUH ))). Bikin aku jadi heri, heboh sendiri sakin bahagianya.

Banyak hal yang kupelajari dari soal antri mengantri, seperti; mendapat teman (seperjuangan), melatih sabar, sabar, sabar, sabar, sabar, dan varises persis lirik lagu P Project. Kelamaan berdiri. Dan mengapa aku menuliskan surat ini untukmu? Entahlah tiba-tiba terlintas namamu dan tulisanmu dulu tentang varises. Damn! Ini betis senut-senut parah minta perhatian dipijet. Aku sudahi dulu surat curhatan (agak ngga penting) ini yah.


Salam sambil pijet betis,


eVa

04 February 2014

Dear Bang Ikal

Dear Faizal Reza Iskandar pemilik akun @monstreza

Bang, aku nulis surat ini khusus buat abang dalam rangka #30HariMenulisSuratCinta untuk selebtwit. Dan sebagai bentuk rasa bangga karena nama kita (dan penulis lainnya) ada dalam satu buku Jakarta Bandung Jogya. Sungguh tak terkatakan bagaimana bahagia dan bangganya bisa berada dalam satu buku dengan penulis idola. Cerpen-cerpen Bang Ikal ditulis dengan sangat sederhana dan penuh makna serta rasa cinta. Selalu terbawa suasana dan hanyut di dalam ceritanya. 

Bang Ikal lagi sibuk bikin antologi baru yah? Antologi mulu? Kapan bikin cerpen solonya? Aku pasti beli, Bang, pasti beli!!! Kan aku udah bilang aku itu ngepens! Ulangi, AKU NGEPENS.

Kemarin sempat happy syalalalaaaaa dapat email dari Bang Ikal, kirain apaan gitu. Eh, ternyata email berjemaat. :D
Lucu yah kita selalu bertemu dalam acara launching buku (selalu??? dua kali doang padahal). 
Masih ingat saat launching Solemate, ditengah hingar bingar (biar kesannya crowded beut) kita duduk berdua. Bang Ikal dengan sebotol bir, aku bersama cangkir cappuccinoku. Ngobrol tentang (si)apa saja. Menyenangkan, sungguh! Ada begitu banyak pertanyaan yang belum sempat kutanyakan, sekedar memuaskan rasa penasaran yang berkecamuk. Daripada kepoin terus temlennya Bang Ikal kan mending tanya langsung sambil ngopi-ngopi cantik yah? Iya.

Ini bukan surat cinta, Bang. Aku pun percaya seperti kicauan Bang Ikal, kalau cinta itu tersirat bukan tersurat. Ini cuma surat biasa untuk orang yang (dianggap) luar biasa. 

Salam (00)9

Monstrezaers


Faizal Reza Iskandar
Wajah sangar Hati Hello Kity

03 February 2014

Bahagia itu Bersamamu Sore Ini

Duduk, diam, memandang sekitar. Sepi. Sudah lewat jam makan siang dan masih jauh memasuki jam makan malam. Bandung hari ini diguyur hujan lagi sedari pagi tadi. Begitu dingin, adem layaknya Bandung tempo dulu. Aku di sini bersamamu.

Entah sejak kapan aku mulai menyukaimu, teramat menyukaimu. Rasa suka yang menimbulkan rindu mengelisahkan. Rindu yang tak akan habis walaupun baru saja menyesapmu. Sudah banyak tulisan tentangmu yang kubuat sebagai bentuk bukti rasa suka yang tak berkesudahan.

Duduk, diam, memandang sekitar. Masih sepi. Di luar hujan sudah mereda, lalu lalang kendaraan mulai memadat. Aku masih di sini bersamamu, menghirup aroma khasmu, memandangi penampilan indahmu, menikmatimu. Kubiarkan kerjaanmu menumpuk, untuk dapat bersamamu. Jenuh terhadap suasana kantor, jenuh terhadap semua hal. Yang kuinginkan saat ini adalah seperti sekarang yang kulakukan. Duduk, diam, menikmati sore bersamamu, hanya denganmu.


Kamu, tahu? Rasa suka ini membuatku ketagihan, ingin lagi dan lagi. Aku mencarimu ke segala tempat. Aku mengejarmu sampai ke sini, ke tempat  yang menyajikanmu dengan teramat memukau cantiknya. Aku tidak peduli lagi dengan apa pun sebab bahagia itu dapat bersamamu di sore ini.

Cappuccino Noah Barn

Salam Cappuccinoholic,

Evapuccino

02 February 2014

Deru Abu As(bak)

Dear As yang selalu kucari,

Bagi sebagian orang, kamu hanyalah sebuah pajangan. Dijadikan pemanis di atas meja, disandingkan bersama aneka toples, tumpukan majalah, atau vas bunga. Dijadikan sebagai cadangan untuk tamu yang siapa tahu merokok. Parahnya dijadikan sebagai tong sampah. Nilai dan fungsimu berkurang di mata mereka yang benci asap rokok.

Tapi, percayalah di mataku kamu adalah sosok yang berharga. Sebagai orang yang cukup cinta kebersihan lingkungan, saat memasuki sebuah ruangan yang pertama aku cari tentu saja adalah dirimu. Agak terdengar aneh sih memang cinta lingkungan kok ngerokok. Hei, kebersihan kan bukan soal prihal merokok saja. Makanya setiap aku mau merokok, aku pasti mencari kamu dulu. Sebab aku pun tidak suka jika melihat abu rokok serta puntungnya berserakan. Dan betapa geramnya aku jika mereka (aliran no smoking) membuang bungkus permen, tissue, plastik, kertas, sedotan, ke dalam asbak. Asbak itu kan buat abu dan puntung rokok.

Sekarang ini gerakan anti merokok sedang gencar, sebagai perokok sangat amat aktif sekali tentu saja hal ini agak merisaukan. Tempat merokok semakin terbatas, di mana-mana tertera smoking by law. Merokok di sembarang tempat kena denda. Apa kabar yang buang sampah berkarung-karung ke sungai? Kemudian banjir, masuk tivi, salahin pemerintah, hih!
Walaupun memang ada ruangan khusus merokok, seperti di bandara. Kamu tahu tempatnya kaya apa? Kami – yang ngerokok di dalamnya- bagaikan ikan kecil di aquarium. Kecil nan sumpek. Kami pun saling rebutan kamu karena jumlahnya terbatas. Tak heran banyak abu bertebaran dan puntung menumpuk di setiap sudut. Betapa joroknya. Hei, kami itu perokok bukan orang yang terkena penyakit menular yang harus diasingkan dan disingkirkan.

Kami –apalagi aku- sebagai perokok juga (agak) sadar diri kali, tidak merokok di ruangan berAC, tidak merokok jika ada bayi, anak kecil, dan cinta lingkungan (tetep). Makanya kehadiran kamu itu penting banget buat aku, As(bak).

Yah, pokoknya gitu deh. Surat ini ditujukan untuk kamu sebagai bentuk kekecewaan kalau bertamu, tuan rumahnya ngga punya kamu, asbak.



Salam Asap Mengepul,

Perokok Aktif




01 February 2014

Kamu Bagian Dari Hidupku, Lepi.

Dear you, My Lepi

Ngga nyangka yah ternyata kamu sudah empat tahun lamanya menemani aku. Semenjak ada kamu, aku jadi lebih semangat menulis, oke, maaf. Ulang! Jadi lebih semangat mengetik. Jari-jari yang bersentuhan dengan tubuhmu mengeluarkan bunyi yang enak didengar. Ketak ketik ketak ketik tik tik tik tik. 

Walaupun untuk mendapatkan kamu menghabiskan uang THR dan bonus tapi aku tidak pernah menyesal karena aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Hempph, sejujurnya saat itu aku lelah berjalan mengelilingi toko demi toko mencari yang sesuai harganya dan kebetulan kamu berpose di etalase dengan tulisan "SALE" tertera di tubuhmu. Tubuhmu begitu kecil, imut, hitam, dan menggemaskan sehingga ringan membawamu kemana saja.

Kehadiranmu membuat ide-ideku tertuang menjadi suatu tulisan. Tulisan yang bisa dibaca semua orang bahkan di antara tulisan itu sudah berubah bentuk jadi buku sekarang. Tubuhmu yang ringan memudahkan aku bekerja dimana saja. Kamu membuat aku percaya diri ketika aku presentasi di depan klien, bagaimana klien takjub melihat hasil kerjaku di dalammu. Ada banyak cerita, foto, karya, kerjaan, musik, video, games, hal maha penting sampai yang ngga penting aku simpan di dalammu.

Hari ini hari pertama program menulis surat cinta. 
Sudah dua kali aku ikutan, maaf, kita ikutan sebab kamu pun punya andil dan belum pernah sekalipun aku menuliskan surat cinta untukmu. Jadi, di hari pertama tahun ini aku sengaja menuliskannya untukmu. Sebagai ucapan syukur dan rasa terima kasihku karena kamu selalu menemani aku siang-malam, suka-duka, sehat-sakit dalam keadaan apa pun. Heh! Ini bukan gombal, namanya juga surat cinta. Selain itu ... surat ini juga sebagai bentuk penyesalanku terhadapmu. Maaf aku kurang apik merawatmu, banyak debu dan abu rokok di sela-sela tubuhmu. Belum lagi tumpahan air kopi atau minyak bekas gorengan yang mengotorimu, aku tahu kamu benci air dan minyak. Aku suka lupa diri, setelah seharian mengerjakan tugas dan kerjaan, aku paksa kamu terus bekerja dengan main games, dengan menonton film series hingga tertidur.

Tubuhmu pun melemah sekarang. Membawamu artinya harus selalu dekat dengan colokan, kekuatanmu drop. Sekali lagi maaf aku lalai dalam merawat tubuhmu. Sekarang aku sadar bahwa aku sangat membutuhkanmu, kamu terlalu berarti untuk kubuang begitu saja. Yah, walaupun semua data dalam dirimu bisa kupindahkan kemana saja tetapi kamu adalah sosok yang aku dapatkan dengan keringatku sendiri. Kamu terlalu berarti untuk digantikan dengan yang lain. Kamu adalah bagian dari hidupku, Lepi.


Salam penyesalan,

Jemari basah dan berminyak




My Lepi